Mengubah “Mindset” Butuh Waktu Panjang

Laporan: Redaksi

Ilustrasi

Ilustrasi

TELEPON genggam Direktur Industri Permesinan dan Alat Mesin Pertanian (IPAMP) Ditjen Industri Unggulan Berbasis Teknologi Tinggi (IUBTT), Kementerian Perindustrian, Teddy C Sianturi berkali-kali berdering. Lawan bicaranya di ujung telepon tidak sabaran menunggu kedatangan Teddy bersama rombongan. ‘’Ya, kami masih jauh, kalau mau makan, silakan duluan,’’ begitu Teddy memberi jawaban.

Siang itu, Kamis 5 Januari 2012, Teddy bersama rombongan sedang melaju di jalan raya pinggiran Danau Toba menuju Doloksanggul, ibukota Kabupaten Humbang Hasundutan (Humbahas). Kedatangannya ke Doloksanggul menindaklanjuti penyerahan bantuan mesin pengolah kacang garing.

Rupanya, panitia di Pemkab Humbahas merancang acara di Doloksanggul, diawali dengan makan siang. Ternyata meleset. Perjalanan Medan – Doloksanggul butuh waktu delapan jam sehingga waktu tiba di ibukota Humbahas itu molor menjadi sore hari.

‘’Mereka kirain kita naik pesawat dari Medan,he..he..he..’’ canda Teddy kepada wartawan TubasMedia.Com, Sabar Hutasoit, yang ikut dalam rombongan. Transportasi yang menghubungkan Medan dengan Tapanuli memang tidak lagi hanya melalui darat, tapi sudah dibuka jalur penerbangan (Polonia-Silangit) yang hanya butuh waktu sekitar 40 menit dengan tarif Rp 360.000.

Dari rumah dinasnya, Bupati Humbahas, Maddin Sihombing mengajak seluruh tamunya ke kantor Dekranasda, Doloksanggul. Di sana, bupati mulai bercerita tentang langkah dan upaya yang mereka lakukan guna menggali sumber daya alam Kabupaten Humbahas.

‘’Silakan cicipi, kopi luwak-nya. Ini produk Humbahas, tepatnya dari Nagasaribu,’’ katanya menyebut nama desa penghasil kopi luwak.

Dengan bangga, bupati juga memperlihatkan kopi bubuk produk Humbahas yang dikemas dengan gaya internasional. ‘’Mutu dan kemasannya tidak kalah dengan apa yang ada di kota-kota besar,’’ celoteh bupati.

Maddin Sihombing juga sempat menceritakan pengalamannya saat landing di Bandara Soekarno-Hatta yang bersama rekannya dia memesan kopi luwak. ‘’Rasanya, kopi kita ini jauh lebih enak. Di sana (maksudnya Jakarta red.) hanya menang tempat, mana harganya juga selangit,’’ katanya.

Dalam kaitan itulah, bupati mengharapkan bantuan para pihak, khususnya para pemodal untuk membuka hati membantu pemasaran hasil bumi dari daerah-daerah yang punya potensi dikembangkan dan sekaligus dapat menjadi lokomotif penghela perekonomian rakyat yang berdampak positif secara nasional.

Khusus mengenai kacang garing, Pemkab Humbahas berniat untuk mengembangkannya. Jika selama ini masyarakat Humbahas menjadikan tanaman kacang sebagai tanaman iseng, Pemkab ingin merobah mindset tersebut dan menjadikan kacang menjadi tanaman primer.

Alasannya ? Karena pasar kacang secara nasional, bahkan internasional sangat menjanjikan. Selama ini, kacang garing dari daerah Tapanuli dikenal dengan sebutan Kacang Sihobuk yang sentra industrinya ada di Kabupaten Tapanuli Utara dan Humbahas merupakan daerah pemasok kacang ke Tapanuli Utara.

Namun menyusul rencana pengembangan industri kacang garing di Humbahas, pasokan kacang ke Tapanuli Utara otomatis terhenti. Resikonya, Pemkab Humbahas harus meningkatkan mutu produk kacang garingnya.

‘’Pemerintah pusat secara prinsip siap memberi bantuan, baik mesin maupun pelatihan,’’ kata Teddy memberi respon.

Akan tetapi, Maddin mengatakan pihaknya menemukan hambatan untuk menggol-kan niat pengembangan industri kacang garing. Pasalnya, belum ada diantara masyarakatnya yang khusus menyediakan lahan menanam kacang.

Selama ini dan hingga kini tanaman kacang hanya sebagai plasma alias iseng. Artinya, jika sudah selesai panen padi, lahan sawahnya ketimbang kosong, ditanami kacang. ‘’Kalau tanaman kacangnya tumbuh, ya syukur dan jika tidak, juga ga apa-apa,’’ kata bupati menirukan sebagian rakyatnya.

Hal lain yang perlu diberi perhatian adalah nasib pelaku industri kacang garing Sihobuk di Tapanuli Utara. Tapanuli Utara selama ini sudah dikenal sebagai penghasil Kacang Sihobuk yang didukung oleh Humbahas sebagai pemasok bahan mentah.

Dengan dihentikannya pasokan kacang mentah ke Tapanuli Utara, industrinya akan terseok-seok sementara Humbahas masih dalam taraf pembenahan. Rasanya ini perlu menjadi perhatian.

Bupati menjelaskan bahwa merubah mindset masyarakat di pedesaan butuh waktu yang sangat panjang. Bupati menyebut di salah satu kota kecamatan di Humbahas, terdapat lahan pertanian yang cukup luas dan ditanami beragam sayur-sayuran.

Suatu saat, permintaan wortel di pasar lokal dan internasional booming dan saat itu bupati menganjurkan agar para petani konsentrasi menanam wortel. Anjuran bupati itu ‘ditentang’’ para petani dengan jawaban bahwa dari dulu dari zaman nenek moyang mereka, lahan pertanian mereka selalu ditanami dengan berbagai jenis sayur. Kenapa sekarang mau diubah ?

Sementara itu menurut pengamatan Tubas, infrastruktur masih sangat jauh dari sempurna dan butuh pembenahan. Mutu jalan yang menghubungkan sentra industri atau pertanian dengan pusat pasar mendesak untuk disempurnakan.

Demikian juga jalur transportasi. Hasil bumi dari Humbahas yang direncanakan mengisi kebutuhan pasar yang lebih luas, sangat tidak mungkin terwujud mengingat transportasi darat ke Medan memakan waktu paling cepat delapan jam. Itu artinya akan menambah cost. Belum lagi dibebani pungutan-pungutan liar sepanjang perjalanan.

Pemerintah sudah saatnya memikirkan pembenahan jalur-jalur transportasi dengan maksud agar hasil bumi dari daerah-daerah, bisa tiba di pusat-pusat perdagangan dengan tepat waktu dan sesegara mungkin. ***

Berita Terkait

Komentar

Komentar