Mengumbar Janji

Oleh: Sabar Hutasoit

Ilustrasi

YA, mengumbar janji. Itulah pekerjaan yang paling gampang dan paling mudah dilakukan insan manusia. Pasalnya, semua kata-kata manis yang mewarnai janji itu dapat diperoleh secara gratis alias tidak bayar dan walaupun janji itu tidak ditepati, tidak akan dikenakan sanksi hukum. Jadi mengumbar janji paling uenak. Sudah gratis, tidak akan dikenakan sanksi hukum walau janji itu diingkari.

Alih-alih, kalau janji manis itu bisa memikat hati yang mendengar, si pengumbar janji akan menikmati hasilnya sementara yang diberi janji hanya gigit jari karena tidak akan menikmati isi janji manis tadi.

Janji-janji manis tersebut biasanya akan ramai kita dengar saat negeri ini atau kota-kota di negeri ini sedang dan akan melakukan pemilihan pemimpin. Para calon pemimpin berlomba mengumbar janji kepada seluruh rakyat, tanpa pilih kasih dengan harapan, para pendengar atau sering disebut, konstituen mau memberikan suaranya kepada para pengumbar janji.

Sudah dapat dipastikan, seluruh janji yang diucapkan mereka-mereka yang ‘’ngotot’’ jadi pemimpin, pasti manis dan uenak di telinga. Isi janji, umumnya teramat positif.

Misalnya, akan mensejahterakan rakyat, meningkatkan kesehatan, membuka lapangan pekerjaan, tidak akan menyiksa rakyat, akan mendengar seluruh keluhan rakyat dan banyak lagi janji-janji manis yang terucap dari mereka yang ingin jadi pemimpin.

Lima tahun silam, dari atas panggung kampanye, kita dengar janji dari salah satu kelompok dan dengan suara nyaring mengatakan pihaknya jika menang, akan memberantas korupsi. ‘’Katakan tidak pada korupsi’ !!!’’. Demikian slogan mereka saat berkampanye. Nyatanya, setelah jadi pemimpin, jangankan memerangi korupsi, malah dari kelompok tersebutlah yang menjadi pelaku utama korupsi.

Nah, kini di ibukota Jakarta, muncul enam pasang calon gubernur dan calon wakil gubernur untuk merebut kursi empuk gubernur. Keenam pasangan ini kini sedang giat-giatnya membujuk hati warga DKI Jakarta agar mau memberikan suaranya kepada mereka.

Seperti kita uraikan di atas, masing-masing pasangan sudah pasti mengumbar janji ke seluruh warga DKI. Bahkan seperti biasa, para calon itu tidak segan-segan memasuki kampung-kampung kumuh lalu memeluk orang tua renta, menggendong bayi-bayi dan bila perlu membersihkan ingus anak kecil kemudian menciumi pipi anak-anak tadi.

Ada pula yang naik angkot, naik metro mini, naik Kopaja dan duduk di bangku pedagang kakilima. Tujuannya hanya satu, agar menang.

Seluruh isi janji yang diucapkan keenam calon tidak ada yang jelek dan tidak ada yang tidak mensejahterakan rakyat. Pokoknya, mendengar isi janji tersebut, kita-kita bisa terlena, bahkan bingung memilih calon yang mana karena semuanya menyuarakan janji yang ueeenakkk tenan

Nah, sekarang kembali kepada kita yang menyandang sebutan rakyat. Apakah semudah itu kita dirayu, dininabobokkan dan dibuat terlena oleh kata-kata manis yang meluncur indah dari mulut para calon pemimpin itu?

Kita sudah pasti menyimpan pengalaman. Sebut saja lagi misalnya banjir dan macet yang terus mewarnai kehidupan warga Jakarta. Hampir setiap lima tahun sekali kita dengar janji para calon gubernur yang menyatakan jika dia terpilih, Jakarta akan bebas dari macet dan banjir.

Kenyataannya, jangankan bebas, malah sebaliknya macet semakin menjadi-jadi. Banjir terus ada dmana-mana, kondisi angkutan umum tetap memprihatinkan, pasar tradisional tetap becek dan kumuh bahkan badan jalan protokol banyak yang bopeng-bopeng.

Anehnya, gubernur yang tidak memenuhi janjinya selama lima tahun berkuasa, masih ingin mempertahankan kursinya dengan janji yang sama ketika dia berkampanye lima tahun silam. Karena itu, kita jangan terlena oleh karena janji. Semua kecap nomor satu. ***

Berita Terkait

Komentar

Komentar