Menjaga Kesucian Hati

Oleh : Gunarto

Ilustrasi

Secara fisik kenyataan “ruang” di dadaku ini sangat kecil, akan tetapi atas kebesaran-Nya ialah Sang Maha Hidup, Tuhan yang Mahakuasa, ruang itu dapat menjadi luas tanpa tepi bagai samudra yang tanpa batas dan dapat memuat berbagai aliran sungai dari mana saja tanpa meluap. Berarti ruang di dadaku dapat berubah-ubah tergantung situasi dan kondisinya. Sebagai contoh adalah 2 orang (pemuda – pemudi) yang sedang jatuh cinta, dadanya terasa lapang karena terisi dengan kesenangan, hatinya terasa taman bunga yang luas dengan bunga sedang bermekaran, indah dan harum. Akan tetapi, ketika mereka putus cinta seakan dunia runtuh, gelap meliputi hati, hati terasa perih dan dada pun menjadi sesak.

Agar dada selalu terasa luas, hati terasa nyaman dan tenteram maka menjaga kesucian hati adalah harus. Bagaimana menjaga kebersihan hati itu? Hati yang dimaksud adalah hati sanubari tiap manusia yang di tempati oleh nafsu-nafsu manusia. Sedangkan kerja nafsu-nafsu manusia harus dikendalikan oleh pikiran yang jernih. Jadi, untuk menjaga kebersihan hati, manusia harus dapat mengatur keseimbangan kerja nafsu-nafsu dengan pikiran yang jernih. Oleh karena pikiran yang jernih adalah pengendali dari nafsu-nafsu manusia yang terkadang dapat mendorong manusia berbuat buruk atau di luar kesusilaan, melanggar peraturan kehidupan bermasyarakat yang benar.

Keadaan dada terasa sesak sering dialami seseorang, karena nafsu-nafsu bergolak ingin menang sendiri, sedang saat itu pikiran lengah atau gelap maka dada pun sesak dan hidup terasa tidak nyaman. Hal ini pun penulis sering rasakan ketika pikiran lengah. Sebuah pengalaman dapat menjadi ilustrasi tulisan ini.

Pada suatu hari, saya bersama anak pergi ke tempat pemangkas rambut. Di sana sudah tertera dengan jelas tarif untuk anak dan dewasa. Anak saya selesai terlebih dahulu dan tidak lama kemudian saya, lalu saya bergegas menuju kasir untuk membayar ongkos kami berdua. Saya berikan selembar uang dan selanjutnya kasir mengembalikan kelebihannya. Saya pun menerima uang kelebihan itu tanpa dihitung dan meninggalkan tempat tersebut.

Ternyata, setelah saya hitung uang kembalian ada kelebihan yang diberikan kasir kepada saya, jumlah uang lebih besar dari yang seharusnya saya terima. Saat itu, saya segera pulang dengan penalaran yang dilakukan pikiran saya, bahwa hal itu disebabkan karena kesalahan kasir sendiri. Akan tetapi di dalam perjalanan pulang, dada saya berdebar-debar dan mulailah timbul pergolakan, yaitu perdebatan antara pikiran dan nafsu-nafsu.

Keesokan harinya ketika berangkat ke kantor, saya melewati tempat pangkas rambut itu yang ternyata belum buka. Kemudian selama saya melaksanakan tugas di kantor, kembali dada saya seperti “ring tinju” yang terjadi pertandingan memperebutkan kebenaran dan keuntungan pribadi walaupun nilainya tidak seberapa.

Sore hari, saat pulang kantor segera saya singgah di tempat pangkas rambut tersebut dan menemui kasir. “Dik, saya kemarin potong rambut bersama anak saya, tetapi adik hanya mengambil biaya untuk satu orang saja, ini kurangnya.” Kasir itu tertegun diam sejenak, kemudian menerima uang dari saya, ia mengucapkan terima kasih. Saya pun meneruskan perjalanan pulang ke rumah dan selesailah pertentangan di dalam dada dan kebenaran menang yang membuat dada saya terasa lega kembali, hati menjadi luas dan terang, senyum pun dapat mengembang. Ternyata ketika kita dapat melaksanakan kehidupan sesuai dengan apa yang diperintah Tuhan, yaitu selalu berjalan di jalan benar dunia ini terasa luas, dan nyaman untuk menjalankan kehidupan yang benar. Dada pun terasa luas, nafas terasa ringan, sehatlah jiwa dan raga.***

(penulis tinggal di Tanjungkarang)

Berita Terkait

Komentar

Komentar