Menperin: Energi Dibutuhkan Industri Manufaktur Luar Jawa

Menteri Perindustrian Saleh Husin berdiskusi dengan anggota DEN yang juga mantan Dekan Fakultas Teknik UGM, Dr Tumiran usai menghadiri Sidang Anggota Dewan Energi Nasional ke-17 di Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral di Jakarta, Rabu (4/5/2016). Menperin mengungkapkan  agar sumber daya energi tidak lagi hanya dijadikan komoditas ekspor, melainkan lebih sebagai modal pembangunan nasional. Sektor industri manufaktur juga menghendaki jaminan ketersediaan energi dalam jumlah memadai dan harga yang kompetitif.

Menteri Perindustrian Saleh Husin berdiskusi dengan anggota DEN yang juga mantan Dekan Fakultas Teknik UGM, Dr Tumiran usai menghadiri Sidang Anggota Dewan Energi Nasional ke-17 di Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral di Jakarta, Rabu (4/5/2016). Menperin mengungkapkan agar sumber daya energi tidak lagi hanya dijadikan komoditas ekspor, melainkan lebih sebagai modal pembangunan nasional. Sektor industri manufaktur juga menghendaki jaminan ketersediaan energi dalam jumlah memadai dan harga yang kompetitif.

JAKARTA, (tubasmedia.com) – Kementerian Perindustrian kembali menegaskan agar sumber daya energi tidak lagi hanya dijadikan komoditas ekspor, melainkan lebih sebagai modal pembangunan nasional.

Konsekuensinya, peran energi sebagai penghasil devisa ekspor lambat laun akan semakin dikurangi dan sebaliknya sumber energi digunakan sebagai bahan baku/energi bagi pengembangan industri manufaktur terutama di luar Jawa.

“Khususnya bagi industri kimia dasar berbasis migas dan batu bara. Sektor industri manufaktur menghendaki jaminan ketersediaan energi dalam jumlah memadai dan harga yang kompetitif,” kata Menteri Perindustrian Saleh Husin hadiri pada Sidang Anggota Dewan Energi Nasional ke 17 di Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral di Jakarta, Rabu (4/5/2016).

Ke depan, energi listrik akan dibutuhkan dalam jumlah sangat besar khususnya dalam pengolahan hasil tambang (nickel, biji besi, bauksit, tembaga) yang saat ini sedang dikembangkan di luar Jawa. Demikian pula gas bumi, industri masih membutuhkan pasokan dengan harga yang bersaing untuk bahan baku atau feedstock industri pupuk dan petrokimia serta untuk energi dalam proses produksi.

“Untuk memenuhi kebutuhan gas industri, telah disampaikan usulan harga untuk Jawa Barat dan Jawa Timur sebesar USD 7,18/MMBTU, Sumatera Utara sebesar USD 8,9/ MMBTU, dan harga gas untuk industri pupuk di Teluk Bintuni diusulkan maksimal USD 5/MMBTU,” tegasnya. Usulan itu melalui surat Menteri Perindustrian No. 524 tanggal 17 November 2015 kepada Menteri ESDM tentang Usulan Harga Gas Bumi sebagai Bahan Baku dan Energi bagi Industri.

Terkait dengan pemanfaatan batubara domestik untuk industri, direncanakan pembangunan industri gasifikasi batubara dan turunannya di Muara Enim dan Mesuji. Rinciannya, rencana pembangunan industri petrokimia di Muara Enim diperkirakan membutuhkan batu bara sebanyak 4,2 juta ton/tahun dari cadangan batubara setempat sebesar 438.000 juta ton dan akan menyerap tenaga kerja 1.196 orang;

Sementara itu, rencana pembangunan industri serupa di Mesuji, Lampung diperkirakan bakal melahap batubara 10 juta ton/ tahun dari cadangan batubara setempat sebesar 820 juta ton. Serapan tenaga kerja langsung diprediksi 1.513 orang dan 20 – 30 ribu tenaga kerja tidak langsung.

Pada rapat yang dihadiri oleh Menteri ESDM Sudirman Said dan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Siti Nurbaya, Menperin menyebut pula industri sangat dituntut perannya untuk melakukan konservasi dan efisiensi energi karena merupakan pengguna energi nasional terbesar sekitar 40 persen

“Upaya itu dilakukan melalui program restrukturisasi permesinan industri, penerbitan standar industri hijau, penyusunan standar intensitas energi dan penerapan manajemen energi pada industri yang lahap energi (semen, baja, pupuk/petrokimia, pulp & kertas, keramik, tekstil, makanan dan minuman),” kata Saleh.

Turut mendampingi Menperin ialah Dirjen Industri Logam, Mesin, Alat Transportasi dan Elektronika (ILMATE) Kemenperin I Gusti Putu Suryawirawan, Staf Ahli Bidang Sumber Daya Industri Dyah Winarni Poedjiwati dan Direktur Industri Logam Budi Irmawan.

PLTN THORIUM

Guna memenuhi pasokan energi bagi industri, Menperin mengungkapkan perlunya pengembangan energi yang salah satunya ialah melalui PLTN thorium. “Sumber bahan baku thorium ini melimpah di Bangka Belitung. Hal ini sangat diperlukan mengingat ke depan kebutuhan energi untuk industri sangat besar dan tentu dengan harga yang kompetitif,” ujarnya

Di Indonesia, imbuhnya, sumber daya thorium di Babel diperkirakan mencapai 170 ribu ton. Dengan perhitungan 1 ton thorium mampu memproduksi 1.000 MW per tahun maka jumlah bahan baku tersebut cukup untuk mengoperasikan 170 unit pembangkit listrik selama 1.000 tahun.

Dari sisi total biaya produksi termasuk operasional, pembangkit listrik itu juga lebih murah karena hanya USD 3 sen per kWH. Sedangkan batu bara mencapai USD 5,6 sen, gas (USD 4,8 sen), tenaga angin (USD 18,4 sen) dan panas matahari (USD 23,5 sen).

Senada, anggota DEN dari akademisi, DR Tumiran mengungkapkan pada kesempatan itu, penyediaan energi untuk industri sangat penting bagi kesinambungan perekonomian, lapangan kerja dan kemandirian.

“Teknologi penyediaan energi terus berkembang dan kita dapat memanfaatkannya sesuai peta potensi energi nasional, termasuk teknologi reaktor yang generasi kini sudah jauh berbeda dengan generasi sebelumnya. PLTN thorium seperti yang disampaikan Menperin, dapat menyediakan kebutuhan energi yang semakin meninggi ,” ungkapnya.

Pengajar dan mantan Dekan Fakultas Teknik UGM ini juga mengatakan, pemanfaatan thorium termasuk diversifikasi energi. Ini sejalan dengan aktivitas industri yang telah menyerap investasi dan SDM, juga mensyaratkan keberlanjutan dan jaminan pasokan atau security of supply. (ril/sabar)

Berita Terkait

Komentar

Komentar