Menperin Undang Pelaku IKM Gunakan Hasil Riset Pangan. Gratis

DSC_0688

PADANG, (tubasmedia,com) – Geliat bisnis makanan oleh-oleh khas dari daerah semakin dipacu. Tak hanya menggenjot pemasaran dan promosi, pengembangan produk juga dipacu melalui riset dan teknologi.

Salah satunya seperti yang dilakukan Balai Riset dan Standardisasi Industri (Baristand) Padang. Para pakar makanan olahan institusi di bawah Kementerian Perindustrian mengembangkan produk makanan olahan berbahan bengkoang.

Dari tanaman ini, sudah berhasil dikembangkan produk jadi berupa es krim bengkoang, donat, waffle, hingga bolu kukus. Fasilitas riset yang berada tak jauh komplek pabrik Semen Padang di kawasan Ulu Gadut itu juga berhasil memperpanjang keawetan kue-kue basah dari bengkoang.

“Tekstur waffle dari bengkoang terasa padat tapi tetap lembut. Kita yang awam pun bakal tahu ini bukan dari tepung seperti kue-kue kebanyakan. Artinya, kue dari bengkoang punya daya jual yaitu rasa yang khas,” kata Menteri Perindustrian Saleh Husin saat mencicipi aneka kue berbahan baku bengkoang di Baristand Industri, Padang, Selasa (10/11/2015).

Penggunaan bengkoang oleh para peneliti Baristand berangkat dari melimpahnya produk hortikultura ini di Sumatera Barat. Sehingga jika dikembangkan lebih lanjut maka pasokan bahan baku terjamin.

“Kue-kue ini juga dapat menambah jenis produk makanan khas Sumbar bagi para pemburu kuliner. Dengan kemasan yang menarik, ini bakal menjadi oleh-oleh favorit. Nah, ayo para pengusaha IKM gunakan hasil riset ini, gratis. Apalagi yang bikin ahli pangan bergelar sarjana, master sampai doktor di Baristan Padang,” ujar Saleh berpromosi.

Senada, Kepala Baristand Padang, Prima Yudha Hayati mengungkapkan layanan yang diberikan lembaganya. Antara lain rekayasa produk, pengujian, kalibrasi, standardisasi, dan litbang

“Kami siap melayani pelaku usaha berbagai skala bisnis termasuk IKM. Silakan datang karena itu justru menyemangati kami,” ujarnya.

Pengguna jasa Baristand Industri Padang beragam dari instansi pemerintah, BUMN, hingga perusahaan swasta. Antara lain, Semen Padang, Pertamina, Indah Kiat Pulp & Paper, RAPP Riau, Indofood, Garudafood dan rumah sakit-rumah sakit.

Prima juga menerangkan, unit kerja lainnya juga membuat peralatan-peralatan yang sederhana dan efektif membantu produksi industri kecil. Untuk pelaku IKM di Bukit Tinggi, misalnya, pihaknya memodifikasi alat pemotong ubi kayu dan juga

Kepada Menperin, juga diperagakan alat pengoles sambal pada ubi kayu. Ubi balado merupakan salah satu oleh-oleh pilihan para pelancong yang mengunjungi Sumbar.

Selain mempercepat proses produksi, alat ini juga meningkatkan higienitas produk. Pasalnya, selama ini perajin menggunakan kuas untuk mengoleskan sambal.

Baristand Padang juga mengembangkan buah gambir untuk menjadi tinta pemilu, stempel, pewarna tekstil, penyamakan kulit dan antoksidan yang alami.

Keunggulan stempel dan tinta dari gambir ini tahan rembes ketika digunakan pada media kertas. Produk ini telah dipakai di lingkungan Pemda Kabupaten Lima Puluh Kota.

Keberadaan Baristan Industri juga untuk melahirkan wirausaha baru dan meningkatkan daya saing. “Basis teknologi yang digunakan rekan-rekan ini efektif menumbuhkan wirausaha terdidik yang terbuka pada inovasi lebih lanjut. Hasil risetnya juga aplikatif, ditambah adanya fasilitas uji produk dan standardisasi,” papar Dirjen Industri Kecil dan Menengah (IKM) Kemenperin, Euis Saedah.

Kunjungan ke Padang itu merupakan rangkaian kegiatan Menperin membuka Konvensi Nasional Gugus Kendali Mutu-Industri Kecil dan Menengah (GKM-IKM) yang digelar Ditjen Industri Kecil dan Menengah Kemenperin. Menperin juga hadir di Pameran Visualisasi Temuan Inovasi Gugus Kendali Mutu. (sabar)

Berita Terkait