Menprin Menilai Pabrik Gula Milik BUMN Kurang Efisien

155873_620
JAKARTA, (tubasmedia.com) – Menteri Perindustrian (Menperin) Saleh Husin menilai industri gula nasional saat ini masih didominasi pabrik-pabrik gula milik perusahaan BUMN. Sayangnya, pabrik gula tersebut kurang efisien karena memiliki jumlah pekerja yang banyak tapi waktu pengoperasian yang tak lama.

Padahal seharusnya disadari bahwa gula adalah merupakan salah satu bahan pangan kebutuhan pokok masyarakat. Sebagaimana dinyatakan seusai UU No 18 tentang Pangan pasal 12 bahwa pemerintah pusat dan Pemda bertanggung jawab menjamin ketersediaannya untuk memenuhi kebutuhan masyarakat secara berkesinambungan.‎

“Saat ini di Indonesia GKP diproduksi oleh 64 pabrik gula (PG) terdiri dari 50 PG BUMN dan 12 PG swasta, menggunakan bahan baku tebu,” kata Menperin di hadapan Anggota DPR RI Komisi VI di Gedung DPR, Senin (6/4/15).

Menperin menjelaskan kebutuhan gula nasional saat ini mencapai 5,7 juta ton. Ini terdiri dari 2,8 juta ton gula kristal putih (GKP) untun konsumsi langsung masyarakat dan 2,9 juta ton gula kristak rafinasi (GKR) untuk memenuhi kebutuhan industri.

Di sisi lain, PG BUMN pada umumnya memiliki kapasitas yang relatif kecil tidak lebih dari 4.000 ton tebu per hari. Selain itu mesin-mesin yang digunakan sudah sangat tua kebanyakan usia di atas 100 tahun.

Untuk itu, Saleh mendorong agar mengurangi jumlah PG BUMN dan membangun baru PG yang lebih modern, demi menciptakan efisiensi dan peningkatan produksi. Sebab PG BUMN itu jumlah karyawannya sangat banyak lebih dari 1000 orang dan setahun hanya beroperasi sekitar 150 hari,sehingga efisiensi dan mutu gulanya relatif rendah.

Salah satu cara mendorong peningkatan produksi dan kualitas gula yang lebih baik, adanya pengembangan perkebunan tebu baru dan dibangun PG baru yang diarahkan di luar Pulau Jawa dengan kapasitas yang besar, minimal 10.000 ton tebu per hari. (ril/mar)

Berita Terkait

Komentar

Komentar