Menteri Agama: Tidak ada Indonesia Jika Tidak ada Islam, Kristen, Katolik, Hindu, Buddha, Konghucu dan Agama-agama Lain

JAKARTA, (tubasmedia.com) -Tokoh Nahdlatul Ulama Zuhairi Misrawi siap melayani debat terbuka dengan politisi Partai Gerindra, Fadli Zon.

Gus Mis, sapaan Zuhairi, mengaku bersedia menggantikan Menteri Agama Yaqut Cholil Qoumas yang sebelumnya ditantang oleh Fadli Zon untuk debat terkait Populisme Islam.

Tantangan itu dilontarkan Fadli Zon terkait pernyataan Gus Yaqut mengenai populisme Islam. Fadli Zon menyatakan tantangannya kepada Gus Yaqut itu melalui akun Twitter-nya @fadlizon pada Senin (28/12/2020).

“Ayo kita berdebat di ruang publik apa itu “populisme”, “populisme Islam”,” tulis Fadli Zon. “Dan apa urusannya Menag ngurusi ini. Apa tupoksinya?” tambahnya.

Dalam cuitannya tersebut, Fadli Zon juga menautkan sebuah berita mengenai pernyataan Gus Yaqut terkait populisme Islam.

Fadli Zon dalam workshop bertajuk ‘The Role of Parliamentarians in Addressing the Challenges of COVID-19 through Implementation of Existing International Biosecurity and Biosafety Frameworks’  (Peran Parlemen Dalam Menjawab Tantangan Global COVID-19 Melalui Kerangka Biosecurity dan Biosafety Internasional) yang diadakan oleh Parliamentarians for Global Action dan diikuti oleh sejumlah anggota parlemen dari Indonesia dan Malaysia pada Selasa (22/09/2020).

Fadli Zon dalam workshop bertajuk ‘The Role of Parliamentarians in Addressing the Challenges of COVID-19 through Implementation of Existing International Biosecurity and Biosafety Frameworks’ (Peran Parlemen Dalam Menjawab Tantangan Global COVID-19 Melalui Kerangka Biosecurity dan Biosafety Internasional) yang diadakan oleh Parliamentarians for Global Action dan diikuti oleh sejumlah anggota parlemen dari Indonesia dan Malaysia pada Selasa (22/09/2020). (istimewa)

Diberitakan sebelumnya, dikutip dari KompasTv, Menteri Agama Yaqut Cholil Qoumas menyampaikan bahwa Indonesia berdiri karena ada berbagai agama yang ada di Indonesia.

“Saya sampaikan berkali-kali di banyak kesempatan dan saya kira ini masih sangat kontekstual meskipun posisi berbeda, dulu ketika masih aktif di Gerakan Pemuda Ansor dan Banser,” kata Yaqut dalam Silaturahmi Nasional Lintas Agama di Mapolda Metro Jaya, Jalan Jenderal Sudirman, Jakarta, Minggu (27/12/2020).

“Saya selalu katakan tidak ada Indonesia jika tidak ada Islam, tidak ada Kristen, tidak ada Katolik, tidak ada Hindu, tidak ada Buddha, tidak ada Konghucu, dan tidak ada agama-agama lokal yang lain,” tambahnya.

Karena itu, Indonesia berdiri karena kesepakatan antarkultur dan agama.

“Indonesia itu berdiri sebagai kesepakatan antarkultur, antarbudaya, dan agama yang ada di Indonesia, jadi barang siapa ingin menghilangkan satu sama lain atas dasar agama maka artinya mereka tidak mengakui Indonesia, mereka tidak memiliki rasa keindonesiaan,” katanya.

Namun, akhir-akhir ini, kesepakatan itu tampak mulai goyah.Salah satunya karena ada pihak-pihak yang menjadikan agama sebagai norma konflik.

“Itu norma yang kemarin sempat berkembang atau istilah kerennya populisme Islam. Saya tidak ingin, kita semua tentu saja tidak ingin populisme Islam ini berkembang luas sehingga kita kewalahan menghadapinya,” ujar dia.

Menurut Menag, agama adalah inspirasi bukan aspirasi.

“Agama dijadikan norma konflik itu dalam bahasa paling ekstrem siapa pun yang berbeda dengan keyakinannya, maka dia dianggap lawan atau musuh, yang namanya musuh atau lawan ya harus diperangi,” katanya.

Karena itu, dia mengajak semua menjadikan agama sebagai sumber kedamaian.

“Saya mengajak kita semua menjadikan agama sebagai inspirasi bukan sebagai aspirasi,” ujarnya.(sabar)

 

Berita Terkait

Komentar

Komentar