Menunggu Rupiah yang Kuat dan Stabil

Oleh: Enderson Tambunan

ilustrasi--rupiah-naik-1406

PEMERINTAH  menyiapkan empat kebijakan di bidang ekonomi dalam upaya menghadapi pelemahan mata uang rupiah terhadap dolar Amerika Serikat, yang pekan ini, menembus angka di atas Rp 13.000 per dolar AS.  Seperti disampaikan Menteri Koordinator Perekonomian, Sofyan Djalil, kepada wartawan seusai menemui Presiden Joko Widodo di Jakarta, Jumat (13/3/2015), keempat langkah tersebut, pemberian insentif pajak; pemberlakuan bea masuk antidumping; perluasan pemberlakuan bebas visa untuk empat negara; serta peningkatan penggunaan bahan bakar nabati minimum 20 persen.

Sebelumnya, begitu pelemahan rupiah menembus angka Rp 13.000 per dolar AS, dan Jumat (13/3) pada angka Rp 13.191, pemerintah memberikan isyarat akan meluncurkan sejumlah paket kebijakan di bidang perekonomian untuk menghadapi masalah ekonomi. Kebijakan itulah yang dikemukakan Menko Perekonomian, Jumat, dan langkah itu, akan diresmikan pekan depan.

Dilihat dari posturnya, keempat kebijakan itu dimaksudkan untuk meningkatkan perolehan devisa, antara lain dari ekspor dan pariwisata. Jelas, pemerintah berkeinginan memperbaiki transaksi berjalan, yang masih defisit. Dengan demikian, stabilitas mata uang rupiah terhadap dolar, tetap terjaga, tentunya pada level yang dapat diterima oleh pasar.

Melemah dan tidak stabilnya rupiah berdampak pada perekonomian secara keseluruhan. Oleh karena itu, pergerakan nilai rupiah menjadi perhatian banyak pihak, terutama para pelaku ekonomi, yang tidak dapat terlepas dari barang modal impor. Merujuk berita media massa, ada pula pedagang yang mengambil sikap wait and see, melihat perkembangan, baru membeli barang untuk dijual kembali.

Pelaku ekonomi menbambakan rupiah stabil dalam posisi yang dapat diterima pasar. Ada yang ingin stabil pada titik keseimbangan antara Rp 11.500 dan Rp 12.000 per dolar AS. Ada pula yang menghendaki stabil pada kisaran Rp 9.500 – Rp 10.000 per dolar.  Tatkala berkunjung ke Balaikota DKI Jakarta, Jumat, Presiden Joko Widodo mengatakan, jajarannya tengah berupaya memperkuat rupiah. Kepala Negara pun berharap nilai tukar dapat mencapai Rp 12.000 per dolar.

Kita mengapresiasi langkah-langkah yang ditempuh pemerintah, dengan menyiapkan paket kebijakan, dan tentu regulasi sebagai payung hukumnya, untuk memperkuat perekonomian nasional dalam upaya memperkuat rupiah. Tentu, yang didambakan adalah nilai tukar rupiah yang perkasa dan stabil. Kuat dan stabil agar para pelaku ekonomi dapat menyusun dan melaksanakan rencana bisnisnya, tanpa perlu khawatir terhadap “pergerakan” nilai tukar rupiah.

Presiden Jokowi tatkala berada di Aceh, 9 Maret 2015, mengemukakan, pelemahan rupiah sebagai akibat eksternal atau global. Kemudian, Menko Perekonomian mengatakan, menguatnya dolar AS karena bagusnya ekonomi AS. Oleh karena itu, banyak mata uang asing yang juga melemah. Pernyataan itu sebagai isyarat, sesungguhnya ekonomi Indonesia berada dalam kondisi baik.

Dan dengan digulirkannya keempat paket kebijakan itu, kita berharap kondisi perekonomian nasional jauh lebih baik lagi. Keinginan tersebut dapat tercapai dengan dukungan penuh dari pelaku ekonomi dan pihak-pihak yang terkait dengan keempat kebijakan.

Di antaranya, perluasan pemberlakuan bebas visa bagi warga Tiongkok, Korea Selatan, Rusia dan Jepang, diharapkan meningkatkan secara signifikan kunjungan wisatawan dari keempat negara tersebut. Sebelumnya, sejumlah negara sudah menikmati bebas yakni, Thailand, Malaysia, Singapura, Brunei Darussalam, Filipina, Vietnam, Kamboja, Laos, Myanmar (ASEAN), Hong Kong Special Administration Region (Hong Kong SAR), Makau Special Administration Region (Makau SAR), Cile, Maroko, Peru, dan Ekuador (tubasmedia.com, 13/3/2015).

Pada pihak lain, kita berharap ketergantungan industri pada bahan baku dan bahan penolong impor hendaknya makin diperkecil, dengan membuka hilirisasi selebar-lebarnya. Mata rantai industri nasional hendaknya dipererat dengan mengurangi impor bahan mentah, dari sumber daya alam, dengan mengolahnya di dalam negeri.***

Berita Terkait

Komentar

Komentar