Menyatukan Kata dengan Perbuatan

Oleh: Sabar Hutasoit

 

MEMANG lidah tak  bertulang…..tak terbatas kata-kata…dst. Inilah sepenggal syair lagu yang pernah hits dilantumkan penyanyi kondang Bob Tutupoli. Lagu ini sempat menempati tangga teratas lagu-lagu pop Indonesia.

Dan memang begitulah kenyataannya. Mungkin karena lidah itu tidak ada tulangnya, semua terdiri dari daging yang sangat lembut, membuat si pemilik lidah dapat dengan gampang tanpa ada hambatan tulang mengucapkan kata-kata apa saja

Mau memuji, mencaci maki, membuly, mengucapkan janji, mengucapkan ikrar, menyatakan kepercayaan dan sebagainya. Pokoknya dia bebas berkata apa saja, tanpa pernah pikir dan bayangkan apa dampak dari perkataan yang baru saja diucapkannya.

Yang penting terucap apa yang yang ingin dia ucapkan dan tercapai apa yang diinginkan. Soal dampaknya? Entar dululah yang penting sudah saya ucapkan dan tercapai apa yang saya ingin dapatkan.

Demikian juga umat manusia terhadap Tuhannya. Semua orang (tanpa kecuali) mengakui kalau Tuhan itu adalah segalanya, maha tahu, maha bisa, tabib segala tabib, dokter dari segala dokter. Pokoknya Tuhan tiada duanya.

Tapi dalam perjalanan hidup, dalam praktik sehari-hari, sebagian besar umat manusia ( kalau gak bisa dikatakan seluruh umat), tidak mengejawatahkan di dalam kehidupannya sehari-hari. Di Gereja pun semua mengikrarkannya. Akan tetapi selepas dari gedung gereja, apa yang mereka-mereka yang barusan berjanji lakukan ? Menjadi semena-mena.

Tidak Sinkron

Singkat kata antara perkataan dan perbuatan sering, bahkan teramat sering tidak sinkron Kata dan perbuatan tak sejalan. Pertanyaannya, kenapa bisa demikian. Apakah ini termasuk pelanggaran Hukum Taurat ke-9 agar jangan  berucap dusta dan mengucapkan kata-kata bohong. Apakah itu juga dosa?

Yang paling parahnya, kita sampai melupakan Tuhan yang selalu melihat dan mengamati perbuatan kita. Sebagai manusia, kita sering menjatuhkan sesama kita hanya demi uang.

Kita merendahkan nama baik dan martabatnya untuk barang berbentuk kertas tersebut.

Selain itu mengucapkan kata JUJUR adalah pekerjaan paling gampang di dunia ini, tapi melakonkanya teramat SULIT…. jadi banyak orang munafik di dunia ini. Apakah kita termasuk org munafik?

Ada pepatah mengatakan mulutmu adalah harimaumu. Karena itu jagalah mulut kita sebaik-baiknya. Berkatalah apa adanya. Tolaklah bayaran ketika seseorang memintamu untuk berbohong.

Uang itu dicari dengan cara yang benar, bukan dengan cara licik seperti berbohong.

Jangan melebih-lebihkan atau menguranginya. Kalau kamu tidak menjaga mulutmu, bukan hanya dirimu yang rugi tapi juga orang lain akan ikut menderita kerugian.

Terutama yang berkaitan dengan nasib hidupnya. Namun walaupun berkata jujur itu sangat sulit, berlatihlah dari sekarang. Ingat Allah bisa karena biasa.

Dengan membiasakan hidup jujur, maka ini akan menjadi kebiasaanmu hingga tua nanti.

Seperti sebuah khutbah mengatakan “mendengar dan memelihara”.Akan tetapi mayoritas kita hanya sampai di “mendengar” belum mau melanjutkan ke “memelihara”.

Ada sebuah ilustrasi dalam alkitab yang turut kepada perintah Tuhan. Petrus yang sudah memancing ikan semalaman tapi tidak mendapat apa-apa. Siang keesokan harinya Yesus berkata “tebarkan jalamu ke sebelah kanan”. Dan jala menjadi penuh sampai tidak dapat ditarik.

Pelajarannya apa? Berserah dan taat. Iblis sering menggoda kita untuk mengandalkan kekuatan sendiri. Alkitab tidak mencatat Petrus bereaksi, “Ah, Yesus ini, saya ini nelayan sudah puluhan tahun, ngerti setiap centi danau Tiberias, udah semalam suntuk gak dapat apa-apa, eh kok kayaknya gampang amat sekarang cuma nyuruh lempar ke sebelah kanan? Saya ini nelayan tulen, udahlah saya paling tau tentang nangkap ikan..” Tapi Alkitab mencatat Petrus tidak berkomentar dan taat serta berserah.Hasilnya, Petrus mendapat ikan yang cukup banyak.

Hati hati. Iblis sering goda kita. Udahlah, kamu kan pintar, kamu hebat, pake dong kepintaranmu, pake dong koneksi mu, pake dong kekuatan mu. Akibatnya apa? Kita cape, kita lelah, kok gak berhasil berhasil. Apa yang salah? Mulai panik stress dan putus asa. Ya karena kita andalkan kekuatan sendiri. Kita kurang berserah dan kurang taat.***

 

 

 

 

Berita Terkait

Komentar

Komentar