Menyusul Disahkannya UU Cipta Kerja Omnibus Law, Dana Asing Mulai Masuk ke Pasar Domestik

JAKARTA, (tubasmedia.com) – Disahkannya Undang-Undang (UU) Cipta Kerja, OmnibusLaw dan berakhirnya pembatasan sosial berskala besar kedua di Jakarta disertai kinerja pasar keuangan domestik yang lebih baik, telah memicu dana asing kembali masuk ke pasar obligasi domestik.

“Arus dana mulai masuk di bulan Oktober setelah sempat keluar di bulan September dan Agustus,” ujar Chief Economist PT Bank CIMB Niaga Tbk Adrian Panggabean, Rabu (28/10/2020).

Arus dana asing yang masuk pada obligasi negara hingga 22 Oktober mencapai Rp 19,2 triliun, lebih baik dibandingkan dana asing keluar sebanyak Rp 8,8 triliun di September dan Rp 3,8 triliun di Agustus.

Namun di pasar saham domestik, dana asing masih keluar di bulan Oktober walaupun tidak lagi sebesar bulan-bulan sebelumnya. Arus dana asing pada pasar saham yang keluar hingga 23 Oktober sebesar Rp 3,9 triliun, lebih sedikit dibandingkan arus dana keluar sebesar Rp 15,6 triliun di bulan September dan Rp 8,5 triliun di bulan Agustus.

Dia mengatakan, faktor pendukung penguatan pasar obligasi dalam negeri yakni selisih yield obligasi pemerintah Indonesia dan obligasi Amerika Serikat yang lebih tebal di tahun 2020 dibandingkan 2021. Selain itu, nilai tukar rupiah terhadap dolar AS yang lebih stabil sejak bulan Juli dibandingkan periode Maret – Juni.

“Hal lain adalah neraca transaksi berjalan Indonesia yang membaik,” jelas Adrian.

Sementara neraca transaksi berjalan diperkirakan akan defisit 0,50% dari produk domestk bruto (PDB) di tahun 2020, lebih baik dari estimasi sebelumnya yaitu defisit 1,6% dari PDB.

Saat ini selisih yield obligasi 10 tahun pemerintah Indonesia dan AS adalah 580 bps. Selisih ini masih lebih tebal dibandingkan rata-rata selisih yield di tahun 2019 yang sekitar 540 bps.

Perkembangan ini, sambung Adrian mengingatkan pada fakta bahwa antara tahun 2009-2019 selalu terjadi arus dana asing masuk neto antara Rp 30 – 140 triliun per tahun ke pasar obligasi negara dengan rata-rata sekitar Rp 85 triliun per tahun. Artinya jika arus dana asing di tahun 2020 ini hingga 23 Oktober tercatat keluar Rp 109,5 triliun, maka ada kemungkinan

paling tidak akan ada arus dana asing masuk sebesar Rp 140 triliun dalam dua bulan kedepan atau setara dengan US$ 10 miliar.

“Perkiraan ini tampaknya bombastis tetapi didukung oleh data historis. Kami memperkirakan rata-rata yield obligasi 10 tahun pemerintah Indonesia akan turun ke kisaran 6,25% di kuartal IV-2020 dari perkiraan sebelumnya di kisaran 6,75%. Sehingga estimasi yield obligasi 10 tahun di tahun 2020 direvisi turun menjadi 6,9% dari sebelumnya 7,10%,” ujarnya.

Lebih lanjut, dikatakan Adrian perpanjangan kebijakan restrukturisasi pinjaman, dari sebelumnya berakhir Maret 2021 menjadi Maret 2022 kemungkinan akan memperbaiki outlook perbankan nasional. Perpanjangan restrukturisasi potensial memberikan napas kepada debitur yang terdampak PSBB sehingga kualitas kredit tidak memburuk. Termasuk di dalam stimulus lanjutan ini adalah pengecualian perhitungan aset berkualitas rendah dalam penilaian kesehatan bank dan juga penundaan implementasi Basel III.

Selain itu cadangan kerugian penurunan nilai (CKPN) dari perbankan yang cenderung meningkat dalam enam bulan terakhir tetap menunjukkan kehati-hatian pengelolaan kredit. Perpanjangan ini akan merevisi perkiraan pertumbuhan kredit 2020 dan 2021 dan merevisi turun angka NPL perbankan dan juga merevisi naik angka rasio kecukupan modal.

“Pertumbuhan kredit perbankan kami perkirakan tumbuh 2% di tahun 2020, naik dari prediksi kami sebelumnya yaitu 0%. Likuiditas neto di pasar interbank yang rata-rata sekitar IDR 230 triliun per hari dalam dua bulan terakhir dan juga kepemilikan bank pada obligasi pemerintah yang naik hampir Rp 600 triliun sejak akhir Januari mencerminkan kemampuan pemberikan kredit yang besar yang sayangnya masih tertahan oleh PSBB.

Untuk NPL gross, kami perkirakan akan berada pada 3,4% pada akhir tahun 2020, lebih rendah dari prediksi sebelumnya 4,5%. Sedangkan tingkat kecukupan modal perbankan (CAR) diperkirakan akan berada pada 24% pada akhir tahun 2020, lebih baik dari estimasi sebelumnya yakni 18%,” sebut Adrian.(red)

Berita Terkait

Komentar

Komentar