Merger Sekolah Dasar Tingkatkan Pelayanan Pendidikan

231014-edu2

TASIKMALAYA, (tubasmedia.com) – Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Tasikmalaya Drs Edi Sumardi membenarkan upaya Dinas Pendidikan Kota Tasikmalaya meningkatkan pelayanan pendidikan di semua tingkatan akan merger (penggabungan) sekolah yang dianggap kurang memberikan pelayanan kepada anak didik.

Merger SD di Kota Tasikmalaya sangat mendesak dilakukan untuk meningkatkan layanan pendidikan dan juga pemerataan guru di wilayah Kota Tasikmalaya. Penyatuan sekolah dasar tersebut ditargetkan selesai tahun ini, khususnya sekolah dasar yang saat ini jumlahnya dinilai masih terlalu banyak. Namun pelayanan tenaga pengajar belum bisa optimal akibat masih tidak meratanya guru yang mengajar di setiap sekolah.

Melihat masih belum meratanya pendidik di sekolah di Kota Tasikmalaya, Dinas Pendidikan Kota Tasikmalaya akan melakukan merger (penggabungan) 35 Sekolah Dasar (SD) menjadi 16 Sekolah Dasar yang tersebar di Kota Tasikmalaya. Idealnya jumlah SD di Kota Tasikmalaya sekitar sebanyak 16 SD ternyata sekarang jumlah SD sebanyak 35 sekolah, sehingga butuh penyatuan beberapa sekolah dalam satu kawasan.

“Merger pada sekolah-sekolah itu harus kami lakukan untuk efektifitas layanan pendidikan. Jika tidak dilakukan akan menjadi masalah di kemudian hari nanti,” kata Edi. Merger terpaksa harus dilakukan untuk sekolah yang berada dalam satu kawasan dan tersebar di berbagai Kecamatan di Kota Tasikmalaya.

Saat ini, masih ada beberapa sekolah yang menggunakan satu bangunan untuk dua sekolah. Jika kondisi ini dibiarkan akan menjadi permasalahan, bukan hanya menyangkut layanan pendidikan tetapi juga masalah aset sekolah bersangkutan.

Sesuai dengan hasil analisa yang dilakukan Dinas Pendidikan Kota Tasikmalaya dengan dilakukan merger atau penggabungan beberapa sekolah terjadi penghematan jumlah rombongan belajar (rombel) dari saat ini sebanyak 276 rombel menjadi 222 rombel.

Guru yang tadinya tidak memiliki jam mengajar karena sekolah penuh, dengan adanya penggabungan beberapa sekolah bisa memiliki jam mengajar karena jumlah guru bisa berkurang. Saat ini proses merger itu dalam tahapan pemetaan terutama pemetaan kepala sekolah dan guru. Pemetaan kepala sekolah menjadi penting, karena dengan penggabungan akan terjadi pengurangan kepala sekolah sebanyak 19 orang. “Saat ada kepala sekolah yang pensiun kami tidak langsung menggantinya, tetapi dijabat kepala sekolah lain atau di Plt-kan,” kata Edy. (hakri/dadang)

Berita Terkait

Komentar

Komentar