Mesin Sederhana Pengolah Limbah Tembok

Laporan: Redaksi

Ilustrasi

Ilustrasi

YOGYAKARTA, (TubasMedia.Com) – Di rumahnya yang sederhana, di Desa Ngoto, Sewon, Bantul, DI Yogyakarta, Suharto selalu resah. Dia ingin menciptakan hal baru dalam dunia konstruksi. Dasar pemikirannya sederhana, banyak pekerja konstruksi yang harus bersusah payah menguras tenaga dan uang. Bagimana membangun rumah yang berkualitas, tidak menguras tenaga dan mengeluarkan sedikit uang.

Suharto mencoba menghubungi kawannya Nijam dan Niman untuk merealisaskan gagasannya itu. Bertiga sepakat membentuk SNI (Suharto, Nijam, Iman). Mereka menemukan sistem cetak tembok bangunan tahan gempa sepuluh tahun sebelum gempa tektonik melanda wilayah Yogyakarta tahun 2006.

Mulanya, Suharto melihat banyak orang, ketika menumbuk batu bata mengunakan martil yang melelahkan dan memakan waktu lama. Lalu saat hendak memanfaatkan limbah tembok kebingungan. Terpikir oleh dia memanfaatkan limbah tembok yang sudah tidak terpakai. Lewat limbah tembok itu Suharto menciptakan mesin sederhana pengolah limbah tembok.

Nyatanya, limbah tembok yang banyak hanya membutuhkan waktu sedikit karena bantuan mesin ciptaan Suharto. Limbah yang menggunung hanya diselesaikan satu hari untuk dijadikan bahan dasar tembok berbentuk tepung. Setelah menjadi tepung kemudian diolah dicampur dengan tepung bata, semen dan pasir. Setelah jadi adonan kemudian membuat kerangka tembok dari baja ringan.

Saat hendak mencetak tembok, diberdirikan kerangka tembok dari plat baja ringan, lalu dipasang triplek untuk menahan adonan cair tembok cetak. Sore dicetak pagi hari sudah jadi. Dalam satu minggu bisa menyelesaikan satu bagian bangunan. Setelah dihitung total bangunan berdiri setelah di-finishing hanya membutuhkan waktu satu bulan.

Biasanya, orang ingin punya rumah mewah harus menghabiskan uang sekitar Rp 300 juta. Dengan dengan sistem yang ditemukan Suharto hanya membutuhkan biaya Rp 150 juta. (subani ckd)

Topik :

Berita Terkait

Komentar

Komentar