Meski Tahun lalu Berkinerja Baik, Perbankan Indonesia Masih Banyak Tantangan

Perbankan

JAKARTA, (tubasmedia.com) – Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan OJK, Nelson Tampubolon menilai bahwa meski pergerakan ekonomi global maupun domestik belum sepenuhnya kondusif, namun industri perbankan tetap mampu melewatinya dengan baik, meskipun memang terlihat ada perlambatan. Hal ini menurutnya patut disyukuri.

OJK mencatat, hingga Desember 2014, total asset, kredit dan dana pihak ketiga (DPK) perbankan nasional masing-masing masih bertumbuh sebesar 13,3% (yoy), 11,6% (yoy) dan 12,3% (yoy), menjadi sebesar Rp 5.615 triliun, Rp 3.674 triliun dan Rp 4.114 triliun.

Sementara itu, Dari sisi kinerja kredit, LDR industri berada dalam kisaran wajar sebesar 89,3%. Namun demikian, NPL menunjukkan peningkatan meski masih dalam rentang yang manageable. Rasio NPL gross berada pada kisaran 2,17%, atau sedikit meningkat dibanding periode yang sama tahun lalu.

“Kombinasi perlambatan pertumbuhan kredit, naiknya NPL dan meningkatnya biaya dana sedikit menekan kinerja rentabilitas perbankan meski masih dalam rentang yang baik,” kata Nelson, Selasa (17/2/15).

Hingga posisi akhir tahun 2014, NIM industri tercatat 4,2%, ROA 2,9% dan BOPO berada pada level 76,3%. Hal yang juga menggembirakan adalah masih stabilnya kondisi perbankan dari sisi ketahanan. Rasio permodalan industri perbankan pada Desember 2014 (CAR) tercatat pada level 19,6% atau naik dari posisi bulan yang sama tahun lalu pada level 18,1%.

“Komitmen para pemegang saham untuk terus memperkuat permodalan dan pertumbuhan organik atas kinerja bisnis Saudara-Saudara sekalian patut dihargai,” imbuh Nelson.

Rasio kecukupan modal (CAR) perbankan tersebut sangat memadai untuk mendukung rencana ekspansi, sebagai buffer risiko, meminimalkan kerentanan dan melindungi perbankan dari gejolak eksternal.

Walau kinerja perbankan di tahun 2014 masih relatif baik, lanjut Nelson, namun pelaku dan otoritas sektor keuangan tidak boleh terlena dalam menghadapi kondisi bisnis yang masih volatile dan penuh tantangan. “Meski kondisi politik dan ekonomi domestik telah mulai stabil, namun proses pemulihan ekonomi global masih belum menunjukkan perkembangan yang menggembirakan di tahun 2015 ini,” ungkap Nelson.

Perbankan Indonesia juga akan dihadapkan pada semakin ketatnya persaingan global sejalan dengan berlakunya Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) dalam waktu yang tidak terlalu lama lagi.

“Oleh karena itu, upaya dalam meningkatkan daya tahan Sektor perbankan untuk mewujudkan stabilitas perekonomian dan mendukung pembangunan yang berkelanjutan merupakan salah satu fokus utama yang harus menjadi perhatian kita semua kedepan,” tutur Nelson. (angga)

Berita Terkait