Modal Asing dan Modal Dalam Negeri Apa Kabar

Oleh: Fauzi Aziz

 

PERTAMA, menurut penulis, modal asing dan modal dalam negeri pada dasarnya sulit dibedakan, kecuali tulisannya sangat berbeda. Tapi dampak dari liberalisasi modal , “nasionalisme” atau paling tidak sifat hakiki modal dalam negeri telah “hilang” sehingga apa yang kita lihat hanyalah kata modal itu sendiri.

Bahkan menurut pak Soros, modal asing yang masuk ke suatu negara, selama perputarannya aktif, ia akan mengalahkan modal lokal dan modal lokal akan menjadi modal international. Kaidah umumnya yang penting adalah mendatangkan keuntungan, membantu peningkatan kapasitas produksi barang dan jasa, serta dapat berkontribusi terhadap perbaikan metode kerja, dan inovasi lain,

KEDUA, jika dalil pak Soros kita jadikan referensi, maka modal asing itu datang ke suatu negeri dengan tujuan meng- internasionalisasi aset nasional. Dan misi ini akan ia lakukan jika menguntungkan. Ini saja. Satu hal dapat dicatat bahwa jika kita boleh bicara tentang  kekhawatiran, maka kekhawatiran ini terutama dikaitkan dengan soal kepemilikan asing atas aset nasional dan terancamnya kedaulatan negara.

Apa semua kita khawatir? Ada yang khawatir, ada pula yang tidak khawatir. Jangan tersinggung bila yang khawatir dikatakan lebay dan yang tidak khawatir mendapat label sebagai orang -orang yang katanya telah bermindset globalis. Penulis hanya ingin mengatakan inilah tantangan bagi the political economic of policy making.

KETIGA, modal asing kata Soros mengalir dari lembaga-lembaga keuangan internasional menuju ke negara tujuan. Secara langsung datang dalam bentuk kredit/utang, dan investasi portofolio. Secara tidak langsung datang melalui perusahaan-perusahaan MNC, dari manapun asalnya, bisa dari arah Barat maupun Timur.

Tidak Tercatat

Di era ekonomi digital, aliran modal asing juga masuk melalui venture capital, ada pula melalui Fintech yang umumnya menyasar start-up company di dalam negeri ber-valuasi besar, minimal satu miliar dolar AS.

Sewaktu Thomas Lembong menjabat kepala BKPM, pergerakan modal semacam itu tidak tercatat  di BKPM, tapi boleh jadi tercatat di OJK. Benar atau tidak, itulah yang sempat terekam dari pemberitaan di media kala itu. Dewasa ini modal juga dapat masuk melalui SWFs dari banyak negara ,yang di Asia saja sudah ada 24 SWFs yang beroperasi. Indonesia akan menjadi salah satu target pasar mereka jika ada aset-aset nasional yang blue chip.

KEEMPAT, akumulasi modal telah terbentuk sedemikian rupa di suatu negara, terutama di negara-negara berkembang yang pasarnya sedang tumbuh seperti di Indonesia. Akumulasi tersebut telah menjadi likuiditas untuk menggerakkan ekonomi untuk menggelumbungkan PDB.

Konsep PDB itu sendiri tidak pernah menyoal modalnya darimana asalnya, yang penting nilai PDBnya tiap tahun meningkat . Yang terpenting adalah menguntungkan dan dapat menambah kapasitas produksi barang dan jasa tiap tahun.

Jika dilihat secara pragmatis, maka the political economic Indonesia saat ini adalah bagaimana caranya untuk menggelumbungkan PDB. Untuk ini pemerintah nampaknya cenderung memberi peluang modal asing  sebagai engine of growth.

KELIMA, bagaimana dengan modal dalam negeri? Ya ada sih, tapi sebagian kreditnya juga berasal dari pinjaman luar negeri akibat harga kredit dalam negeri relatif mahal.Kalaupun ada dari pinjaman dalam negeri, maka sebagian juga dilakukan dalam denominasi USD atau valas lain yang kuat.

Apa yang bisa di simpulkan dari situasi itu? Jawabannya adalah global capitalism datang akan menguasai aset nasional. Dan karena itu pula, betul jika ada yang berpendapat bahwa liberalisasi modal yang dilakukan Indonesia menjadi ancaman serius karena kepemilikan asing atas aset nasional makin dominan dan ancaman  hilangnya kedaulatan ekonomi.

Dan ini menjadi nyambung dengan yang pernah ditulis oleh Junanto Herdiawan, pejabat BI yang dimuat di Kompas 27 juni 2015 , yang antara lain mengulas tentang mengapa Rupiah sulit berdaulat di NKRI?.Jika demikian, maka tidak salah jika sebagian dari kita merasa khawatir masuknya modal asing ke negeri ini.

Modal Asing

Kekhawatiran tersebut bisa digambarkan bahwa PDB nasional yang telah mendekati Rp 15.000 triliun diproduksi oleh kekuatan modal asing. 41% berasal dari utang luar negeri, baik utang publik maupun swasta. Belum lagi yang diramaikan oleh investasi portofolio yang sekitar 40% juga di kendalikan oleh investor asing dengan pergerakan sangat fluktuatif karena berisi dana hot money.

Begitu pula investasi PMA yang bergerak di sektor migas dan non migas yang menghasilkan barang dan jasa, tidak serta merta menghasilkan cadangan devisa ekspor, tapi malah menjadi pemboros pengguna devisa untuk mengimpor barang dan jasa untuk tujuan produksi dan konsumsi. Tingginya kepemilikan asing terhadap surat utang negara dan utang luar negeri  swasta menyebabkan pasar uang dalam negeri rentan terhadap gejolak dari luar.

KEENAM, global political economy dalam bidang investasi adalah jelas, yakni bahwa sejatinya pemerintah lebih memilih liberalisasi modal untuk menggerakkan ekonomi dalam negeri.

Respon secara politik ekonomi semacam itu bagi setiap negara sangat ditentukan oleh kepentingan nasionalnya masing-masing. Dari mula kita tahu bahwa investasi adalah salah satu mesin pertumbuhan ekonomi yang menjadi harapan setiap negara.

Setelah itu adalah konsumsi dan ekspor neto. Investasi dan ekspor neto dalam siklus bisnis adalah soal bagaimana kita memupuk pendapatan nasional. Tanpa pendapatan nasional yang memadai, kita pasti kesulitan membayar berbagai kewajiban internal maupun eksternal.

Kewajiban eksternal itu antara lain guna melunasi utang luar negeri, membiayai impor dan berbagai kewajiban lain yang harus dibayar sesuai perjanjian internasional. Kewajiban internal antara lain pembiayaan penyelenggaraan jaminan sosial, pendidikan, kesehatan , pembentukan tabungan, investasi dan cadangan serta dana mitigasi bencana alam dan kemanusiaan serta krisis ekonomi.

KETUJUH, harapannya adalah karena bangsa ini terikat dan diikat janji suci untuk berdaulat secara politik, ekonomi dan budaya, maka segenap modal sosial, modal spiritual, modal intelektual , dan modal finansial harus dihimpun menjadi kekuatan sumber daya nasional untuk mempertahankan kedaulatan negara yang didukung oleh kekuatan militer yang tangguh. Dimensi pembangunannya menjadi bersifat komprehensif di bidang poleksosbud-hankamnas.

Semuanya kita rancang guna mewujudkan keseimbangan kemajuan dan kesatuan sistem ekonomi nasional yang efisien, berkelanjutan dan berwawasan lingkungan. Kita berharap agar Indonesia mempunyai kapasitas lebih dari devisa hasil ekspor, naiknya pendapatan dari booming sektor ekonomi dalam negeri , dan besarnya pendapatan pajak sehingga memiliki budget surplus yang besar.

Belum Bisa

Tujuannya adalah agar Indonesia memiliki SWFs yang berdaulat penuh yang sumber dananya tidak berasal dari pinjaman luar negeri.LPI belum bisa kita difinisikan sebagai SWFs Indonesia.Sebagian pendapat mengatakan bahwa LPI sesungguhnya adalah baru semacam “platform investasi kolaboratif”, bahkan bisa disebut hanya semacam ‘manajer investasi”.saja.

Kita berharap SWFs kr depan adalah yang sanggup membeli surat utang dari negara lain bukan sebaliknya  menerbitkan surat utang untuk menghimpun dana pembangunan.Artinya harus mengemban misi untuk mengurangi beban utang domestik.

Dengan demikian berarti bahwa politik ekonomi Indonesia harus menempatkan modal asing hanyalah sebagai pelengkap saja. Kata akhir, semua berpulang pada keputusan politik kebangsaan NKRI untuk membuat negeri ini tetap berdaulat penuh, baik secara politik, ekonomi dan budaya. (penulis pmerhati ekonomi dan industri, tinggal di Indonesia)

Berita Terkait

Komentar

Komentar