Mudik dan Pulang Kampung Koq Diperdebatkan

Oleh: Sabar Hutasoit

 

PERBEDAAN kata mudik dan pulang kampung akhir-akhir ini jadi topik perbincangan hangat di jagat twitter dan dunia maya serta di beberapa media.

Perbincangan hangat itu muncul manakala Presiden Joko Widodo diwawancara ekslusif di Mata Najawa. Jokowi ketika itu berpendapat mudik berbeda dengan pulang kampung.

Dalam kesempatan ini, penulis mau mengajak pembaca memahami atau mendalami perkataan pulang kampung dan mudik itu muncul, karena apa ? Saat apa dan konteksnya apa ? Ini penting dipahami sehingga kita tidak perlu larut mencari tau apa beda kedua perkataan tersebut.

Katakanlah ada perbedaan mudik dengan pulang kampung dan pasti ada. Tapi pembahasannya bukan saat ini. Pasalnya, perkataan mudik dan pulang kampung itu muncul untuk mengatur strategi memutus penularan virus corona (Covid-19)

Jadi lagi-lagi bukan sedang membahas benar tidaknya pembahasaan kedua perkataan dalam bahasa Indonesia yang sebenarnya. Sekali lagi bukan! Tapi pemerintah sedang membuat strategi untuk memerangi virus corona dengan cara melarang mudik.

Jokowi dengan tegas melarang mudik ke kampung halaman. Warga yang dilarang mudik adalah mereka yang berada di zona merah covid-19

Larangan tersebut berlaku mulai 24 April. Adapun sanksi akan diberlakukan pada 7 Mei bagi mereka yang bersikeras untuk mudik.

Artinya larangan ini, mau mudik keq namanya mau pulang kampung keq namanya atau mau tour keq, kalau itu terjadi saat ini dikhawatirkan akan terjadi penularan virus corona secara besar-besaran.

Jangan Bergerombol

setelah anda lihat foto ini terserah anda mau katakan apakah ini sedang mudik atau sedang pulang kampung, atau apapun namanya anda sebut, dampaknya sama yakni bergerombol

 

Konteksnya adalah strategi memutus penularan virus corona bukan membahas benar tidaknya penggunaan bahasa Indonesia. Intinya adalah pemerintah sudah mengeluarkan aturan untuk tidak ada keramaian, kumpul-kumpul dan manusia yang bergerombol. Sebut saja sekarang pulang kampung tapi bergerombol, sama saja kan dampak negatifnya.

Jangankan pulang kampung atau mudik, keluar rumah saja kita disarankan tidak perlu jika tidak ada yang sangat mendesak untuk dikerjakan diluar rumah. Apalagi pulang kampung atau mudik secara bergerombol, jelas tidak dibenarkan demi keselamatan kita semua.

Bukan berarti jika disebut pulang kampung menjadi tidak ada penularan tapi jika disebut mudik akan terjadi penularan. Bukan demikian coy. Mudik dan pulang kampung jika bergerombol dan kumpul ramai-ramai di kampung, diduga keras akan rentan terjadi penularan virus corona. Dampak negatifnya sama bro

Namun dalam kesempatan ini, banyak pihak yang memanfaatkan pembahasan mudik dan pulang kampung hanya untuk mengkritisi Presiden Jokowi, khususnya dari lawan politik Jokowi. Akhirnya yang dibahas bukan lagi konteks sebenarnya, bagaimana menghadapi virus corona, tapi menjadi bias kemana-mana.

Para cerdik cendekiawan kita, sebaiknya ikut ritme pemerintah untuk memerangi virus corona. Mereka para cerdik cendekiawan itu sebaiknya berangkulan, bergandengan tangan dengan para pemangku kepentingan negeri ini untuk memaksimalkan langkah dan upaya menangkal penyebaran virus corona. Bukan saling membuly, tapi bersama bergotong royong saling mengisi kekurangan. Ingat, kalian yang gemar membuly dan memfitnah itu, belum tentu lebih baik daripada yang kalian buly. Ingat itu kawan… (penulis seorang wartawan tinggal di Jakarta) 

 

 

 

Berita Terkait

Komentar

Komentar