Muhdori: Sekolah Vokasi Industri, Perlu Diperbanyak

JAKARTA, (tubasmedia.com) – Agar kebutuhan tenaga kerja industri tekstil dan produk tekstil (TPT) bisa terpenuhi, pemerintah dipandang perlu menambah jumlah sekolah-sekolah vokasi yang bisa menelorkan tenaga kerja siap pakai.

Hal itu diutarakan Direktur Industri Tekstil, Kulit, dan Alas Kaki, Kementerian Perindustrian, Muhdori, usai  pembukaan Diklat 3in1 Operator Mesin Industri Garmen Berbasis Kompetensi, Angkatan 20-24 di Balai Diklat Industri (BDI) Jakarta kemarin.

Menurut Muhdori, hingga kini sekolah vokasi yang ada, hanya mampu memenuhi sekitar 20 hingga 30 persen tenaga kerja siap pakai. Karena itu, agar dunia usaha di bidang industri tidak kesulitan mendapatkan tenaga kerja siap pakai, pemerintah pusat sebaiknya segera mendirikan sekolah-sekolah vokasi yang baru.

Selain itu juga, Muhdori mengharapkan agar para pimpinan daerah dimanapun berada, dengan sigap mengirim para calon tenaga kerja dari daerahnya ke sekolah vokasi agar segera pula mendapat pendidikan di bidang industri.

Ditambahkan bahwa keuntungan bagi pengusaha industri  mempekerjakan tenaga kerja yang sudah memiliki sertifikasi kompetensi melalui pendidikan vokasi tersebut adalah soal mutu serta ketrampilan.

Umumnya kata Muhdori, jebolan Diklat Industri yang sudah mengantongi sertifikat kompetensi, sudah bisa memenuhi tingkat kecacatan produk.

Selain mencetak tenaga kerja yang siap pakai di sektor industri, Diklat ini juga serta merta membangun karakter serta wawasan kebangsaan serta cinta dan menayangi dunia industri. Tujuannya untuk mendongkrak produktivitas dan daya saing industri nasional.

Sementara itu, Kepala BDI Jakarta, Hendro Kuswanto mengatakan BDI Jakarta sudah mendidik dan melatih sebanyak 8.793 tenaga kerja dari target kebutuhan tahun ini sebanyak 10.300 tenaga kerja kompeten dan sudah ditempatkan di beberapa perusahaan industri garmen.

Pada angkatan kali ini,BDI melatih 277 orang yang berasal dari berbagai daerah dan akan  dilengkapi sampai 300 orang,  sementara tenaga pengajar/instruktur berasal dari Asosiasi Pertekstilan Indonesia (API) dan nara su,ber dari Kementerian Perindustrian yang memiliki kompetensi dan pengalaman  dalam bidang industri garmen.

‘’Seluruh peserta Diklat secara otomatis langsung bekerja pada perusahaan-perusahaan garmen yang telah bekerja sama dengan BDI Jakarta,’’ katanya.(sabar)

 

 

 

Berita Terkait

Komentar

Komentar