Mungkinkah Kita Mencintai Produk Dalam Negeri ?

Oleh: Sabar Hutasoit

 

ADALAH Menteri Perindustrian, Agus Gumiwang Kartasasmita menekankan agar produk industri dalam negeri bisa tampil menjadi tuan di negeri sendiri.

Sebenarnya ungkapan ini bukan lagi baru tapi sudah sejak lama, bahkan zaman orde baru, zaman kepemimpinan Presiden Soeharto, ungkapan ini sungguh sangat sering didengungkan dan disuarakan.

Bahkan pada zaman orba, saking pentingnya propaganda ini, dimunculkan satu kementerian yang dipimpin seorang menteri diberi nama Menteri P3DN.

Hasilnya ? Kalau bisa jujur, sama sekali tidak ada. Para selebiritis dan para petinggi masih dengan bangganya memamerkan barang-barang impor yang dikenakannya mulai dari kaos kaki, sepatu, sapu tangan, dasi, kemeja, celana, tas dan sebagainya semuanya merupakan produk impor.

Produk dalam negeri ? Tidak ada yang dipakai oleh mereka-mereka yang berada di papan atas sementara mereka-mereka itulah yang sering teriak agar seluruh rakyat Indonesia menggunakan dan mencintai produk dalam negeri. Hasilnya, tak ada, yang ada hanya teriakan cintailah produk dalam negeri.

Sebenarnya, tidak hanya  teriakan mencintai produk dalam negeri yang sudah dilakoni. Pemasangat pamflet dan poster dalam ukuran raksasa serta penempelan brosur-brosur di tempat-tempat umum seperti di badan angkutan umum seperti bis kota dan pesawat terbang dan lainnya, sudah cukup ramai.

Tapi output-nya, tetap tidak memberi hasil yang menggembirakan. Seakan-akan himbauan demi himbauan itu hanya slogan politis saja karena dapat dibuktikan mereka-mereka yang meneriakkan slogan itu sendiri, di badannya menempel produk-produk impor dan tidak memberi contoh yang benar kepada khalayak ramai.

Sambil teriak di sentra industri sepatu Cibaduyut agar masyarakat menggunakan produk dalam negeri, yang teriak mengenakan sepatu impor merek Bally. Aneh kan ?

Mungkinkah?

Nah, sekarang di zaman millenial ini, zaman keterbukaan ini, kembali pemerintah menyuarakan hal yang sama yang intinya agar masyarakat mencintai produk dalam negeri. Mungkinkah ?

Agar himbauan ini berdampak guna, sejatinya harus kita telisik satu per satu, baik itu mutu produk dalam negeri atau selera para konsumen. Sudah seberapa jauh mutu produk Indonesia bisa memenuhi selera konsumennya yang adalah orang Indonesia sendiri.

Kenapa orang Indonesia lebih mencintai sepatu impor ketimbang sepatu Cibaduyut, dimana persoalannya. Yang bisa menjawab ini hanyalah produsen dan konsumennya. Seandainya produk Cibaduyut dapat memenuhi selera, baik model maupun mutu, rasanya para petinggi dan para selebritis Indonesia tidak segan mengenakannya dan tak perlu impor sepatu.

Demikian juga produk lainnya. Sebut saja produk makanan dan minuman yang kalau kita lihat di beberapa pusat perbelanjaan, hampir dikuasai produk impor dari Malaysia misalnya. Nah ini kenapa bisa terjadi sementara hasil alam kita untuk memproduksi makanan dan minuman cukup tersedia.

Apakah makanan dan minuman impor itu lebih nikmat rasanya dibanding buatan dalam negeri ?

Belum lagi kita bicara tentang infrastruktur. Tidak sedikit proyek pemerintah yang dibiaya APBN atau APBD misalnya, mayoritas materialnya justru didatangkan dari luar negeri sementara propduk dalam negeri dilihat dengan sebelah mata.

Ini kenapa terjadi ? Apakah karena mutu material infrastruktur buatan nasional tidak berkelas atau hanya karena ada permainan bisnis di dalamnya ? Kita juga tidak tau karena para produsen mengklaim produknya tidak kalah mutu dengan barang impor. Tapi nyatanya, produk nasional tidak dipakai yang dipakai konsumen justru barang-barang impor.

Lalu bagaimana caranya mencintai produk dalam negeri. Cukupkah hanya himbauan ? Sebab himbauan ini sudah berdengung sejak zaman Orde Baru dan apakah lembaga penggerak P3DN yang ada di tubuh pemerintah kurang maksimal melakukan tindakannya sesuai tupoksi?

Jangan-jangan lembaga itu antara ada dan tiada, dikatakan ada tapi mana kerjaannya dikatakan tidak ada, di atas kertas ada koq. (penulis seorang wartawan, tinggal di Jakarta)

 

 

 

 

Berita Terkait

Komentar

Komentar