Narasi Pembelajaran dan Riset Menjadi Energi Kemajuan Bangsa

IMG_0014.jpg2

Oleh: Fauzi Aziz

 

KEHIDUPAN bersifat dinamis. Prosesnya juga bersifat progersif karena kita ingin mendapatkan hasil yang terbaik agar dalam setiap kehidupan,  kita selalu hadir akibat karya-karya yang kita hasilkan bermanfaat para penggunanya.

Dinamika dan progresifitas itu berjalan karena kita selalu aktif melakukan pembelajaran dan riset sepanjang perjalanan. Dengan demikian, pembelajaran dan riset adalah sesuatu yang bersifat universal.

Ia hadir di dalam setiap proses kehidupan dan aktifitas pembelajaran dan riset bukan hak “monopolinya” para ilmuwan, tetapi menjadi kebutuhan kita yang selalu bermimpi “naik kelas” dalam kehidupan ini. Karena itu, bagi negara yang tengah membangun dan bahkan yang tidak membangun sekalipun, kegiatan pembelajaran dan riset menjadi keniscayaan karena kita tidak ingin tergolong sebagai warga atau bangsa yang ketinggalan zaman.

Jadi, narasi pembelajaran dan riset telah bersifat demanding bagi siapa saja yang ingin berkemajuan. Budaya pembelajaran dan riset harus menjadi kultur abadi bagi bangsa ini karena kita masih ingin hidup “seribu” tahun lagi. Apalah artinya kalau selama dalam perjalanannya tidak ada pembelajaran dan riset.

Seperti apa keadaan negeri ini. Jika kita menihilkan pembelajaran dan riset, kita tidak akan pernah menjadi bangsa yang maju dan berperadaban tinggi. Oleh sebab itu, ketika kita membicarakan masalah pendidikan dan pengajaran, sejatinya kita juga sedang membiasakan pentingnya pembelajaran dan riset menjadi sebuah kultur yang melekat pada setiap anak didik sejak TK hingga perguruan tinggi.

Pendidikan dan pengajaran hakekatnya mencetak kader bangsa menjadi para pembelajar yang ulet dan periset yang unggul dalam setiap skala dan lingkup kehidupan. Pendidikan bukan hanya membicarakan kuantitas. Lebih dari itu, faktor kualitas serta kejernihan berpikir dan berimajinasi adalah hal utama.

Dalam konteks Indonesia, pasal 31 UUD 1945 telah mengamanatkan bahwa setiap warga negara berhak mendapatkan pendidikan. Setiap warga negara wajib mengikuti pendidikan dasar dan pemerintah wajib membayarnya.

Pemerintah memajukan ilmu pengetahuan dan teknologi dengan menjunjung tinggi nilai-nilai agama dan persatuan serta kesejahteraan umat manusia. Negara memajukan kebudayaan nasional Indonesia di tengah peradaban dunia dengan menjamin kebebasan masyarakat dalam memelihara dan mengembangkan nilai-nilai budayanya.

Amanat konstitusi tersebut menjadi clear bahwa pembelajaran dan riset menjadi bagian penting dari upaya bangsa untuk memelihara dan mengembangkan nilai-nilai budaya bangsa yang luhur. Ketika budaya pembelajaran dan riset telah menginternalisasi dalam sanubari generasi baru di negeri ini, yang terjadi adalah mereka menjadi percaya diri dan yakin dengan masa depannya.

Indikasinya antara lain jika kita datang ke sekolah-sekolah, kita akan memperoleh jawaban mereka dengan spontan dengan mengatakan bahwa kami belajar untuk masa depan bangsa Indonesia. Inilah The Indonesian Dream yang kita harapkan lahir di kalangan generasi Y Indonesia, yang narasi pembelajaran dan risetnya kuat melekat pada sanubari mereka.

Narasi pembelajaran dan riset gaungnya tidak hanya terjadi di perkotaan tetapi harus masuk ke seluruh pelosok desa. Membangun desa adalah “meledakkan” budaya pembelajaran dan riset di kalangan anak-anak muda pedesaan. Aroma ambisi besar tentang pentingnya menginternalisasi budaya pembelajaran dan riset harus sampai ke tangan mereka agar kekuatan intelektual yang bersemi di otak mereka tidak termarginalisasikan.

Generasi Y di perkotaan dan di pedesaan memiliki hak yang sama untuk menikmati pembelajaran yang berkualitas agar dirinya mampu menjadi periset mengubah wajah dan postur kehidupan mereka. Sepanjang sejarah, semua peradaban besar telah memahami arti pentingnya nilai pendidikan.

Sebagian dari kita sudah berpendidikan tetapi belum tentu berhasil menjadi pembelajar apalagi menjadi periset. Resultante dari proses pendidikan dan pengajaran yang paling utama adalah keberhasilan anak didik menjadi pembelajar dan periset. Narasi pembelajaran dan riset adalah modal dasar pendorong perubahan dan kemajuan bangsa. Modal material berupa uang adalah hanya berfungsi sebagai pelengkap untuk membuat api yang mulai menyala dapat lebih cepat berkobar sehingga pertumbuhan dan perkembangan peradaban dapat terus berproses  menciptakan kesejahteraan dan kemakmuran bangsa.

Indonesia kini masih terus membangun. Karena itu, narasi pembelajaran dan riset harus menjadi arus utama kebijakan nasional, baik di bidang politik, ekonomi dan budaya. (penulis adalah pemerhati masalah sosial ekonomi dan industri).

Berita Terkait

Komentar

Komentar