Nasionalisme Ekonomi, Kapan Lagi

Oleh: Fauzi Aziz

Ilustrasi

Ilustrasi

GAMPANG saja memaknai istilah “nasionalisme ekonomi”, yaitu sebuah idealisme yang berorientasi kepada satu pemahaman sederhana bahwa pengelolaan rumah tangga ekonomi yang lebih mengutamakan agar proses pelipatgandaan nilai tambah sumber daya ekonomi nasional memberikan nilai guna yang sebesar-besarnya untuk kesejahteraan dan kemakmuran rakyat.

Landasan berfikirnya sederhana saja, yaitu setiap kehidupan berekonomi itu apakah dalam lingkup rumah tangga biasa maupun dalam lingkup rumah tangga perusahaan dan rumah tangga negara, pada dirinya pasti memiliki ciri/identitas, cita-cita/idealisme yang satu sama lain pasti berbeda.

Identitas tersebtu pasti akan dipertahankannya karena hal itu dapat kita anggap sekaligus sebagai propertinya masing-masing, atau secara politis bisa kita sebut sebagai bentuk kedaulatan yang harus dipertahankan. Logika ini memberikan satu isyarat bahwa sistem ekonomi dan pengelolaan rumah tangga ekonomi tidak bisa dibuat seragam dan tidak pula bisa didekte agar mengikuti doktrin sistem ekonomi dari negara dan bangsa lain.

Nasionalisme dan kedaulatan ekonomi tidak pernah akan bisa dinafikkan begitu saja karena alasan globalisasi. Kita jangan mudah terkecoh dengan persoalan globalisasi karena di balik itu banyak yang ikut membonceng untuk menikmati kepentingannya, bisa beraspek politik maupun ekonomi.

WTO dengan GATT rules-nya adalah model kelembagaan yang dibangun untuk memperkuat eksistensi negara maju untuk menekan negara berkembang. Misi terselubung atau hiden agenda bisa saja ikut bersembunyi di dalamnya. Maka dari itu, membangun ekonomi bangsa harus memiliki keteguhan diri bahwa sumber daya ekonomi yang kita punyai adalah modal untuk mengubah kehidupan bangsa menjadi makin sejahtera.

Para ahli dari manapun datangnya boleh memberikan prespektifnya tentang pembangunan ekonomi di Indonesia. Tidak dilarang pula menyampaikan konsep-konsep pemikirannya yang cerdas dan brilian. Tapi mau dieksekusinya seperti apa dan bagaimana, tentu tergantung kita sendiri dan landasannya hanya satu yaitu demi kepentingan nasional.

Berguru kepada siapapun, harus kita lakukan tapi jangan menjadi murid yang hanya percaya bahwa ilmu yang kita dapat adalah sebuah kebenaran yang mutlak. Di dunia tidak ada manusia yang bisa menciptakan kebenaran yang mutlak, karena yang mutlak itu hanya milik Tuhan. Dalam membangun dan memajukan ekonomi di Republik ini, ada sebagian murid yang sangat percaya diri bahwa satu-satunya yang benar dan tepat adalah kalau kita tunduk pada konsep ekonomi yang liberal dan doktrin perdagangan bebas.

Doktrin ini dicoba untuk diterapkan di Indonesia dalam membangun ekonominya. Pasti tidak seluruhnya cocok karena tidak sejalan dengan falsafah negara kita Pancasila. Bentrokan, percekcokan dan kekerasan yang terjadi di masyarakat dewasa ini, boleh jadi karena kita menerapkan sistem ekonomi yang liberal tadi karena faham ini sangat mendewakan semangat individu dari pada semangat kolektif, dimana sistem ekonomi nasional sebagaimana dimaksud dlm pasal 33 UUD 1945 lebih mengedepankan semangat kekeluargaan.

Mencermati perkembangan akhir-akhir ini yang terjadi di dunia khususnya di bidang ekonomi, rasanya tidak ada waktu lagi bagi kita semua untuk bersikap wait and see, ntarsok, nunggu wangsit, nunggu hari baik dan sebagainya untuk memulai berkarya besar membangun bangsa dan negara.

Sikap yang paling tepat untuk kita rujuk adalah see and do, dan berdasarkan spirit ini kita laksanakan kerja besar membangun ekonomi dengan semangat nasional yang tinggi dan penuh dedikasi. Sekarang saatnya. Orang pinter banyak sekali kita punyai (yang tua dan yang muda). Khusus yang muda-muda sudah banyak kita lihat sendiri memperoleh keberhasilan membangun perekonomiannya sendiri di berbagai bidang tanpa bergantung kepada orang lain, tapi berhasil melakukan kerjasama dengan pihak lain.

Tanpa mereka, itu kita tanya kenapa bisa berhasil. Yakinlah bahwa apa yang dalam sanubarinya ada sebuah pernyataan diri yang tidak selalu diuangkapkan yaitu ingin hidup mandiri sebagai warga bangsa. Ada semangat pada dirinya bahwa kalau seseorang bisa hidup mandiri sebagai pelaku ekonomi, maka sebetulnya yanmg tersembunyi di baliknya adalah adanya semangat nasionalisme ekonomi pada dirinya.

Waktunya kita berbuat sesuatu yg konkret dan memberi manfaat bagi masyarakat, bangsa dan negara. Tugas pemerintah adalah membesarkan mereka yang sudah membuahkan keberhasilannya. Tugas pemerintah yang lain adalah mendidik dan melatih mereka yang memilki potensi keunggulan agar kelak dapat mengikuti jejak yang telah berhasil lebih dulu.
Pemerintah dapat memberikan stimulasi dan fasilitasi mereka untuk tumbuh dan berkembang. Dengan cara ini, nasionalisme ekonomi akan terbentuk dan dengan semangat ini pula, kedaulatan ekonomi, kita harapkan dapat terwujud. Nasionalisme ekonomi yang kita bangun tentu bukan nasinalisme ekonomi yang sempit, karena kita tetap harus melakukan kerjasama dengan bangsa lain di dunia dan ini tidak bisa dinafikkan.

Nasionalime ekonomi yang kita bangun adalah dalam rangka membangun kekuatan posisi tawar sebagai bangsa dan semangat keseteraan agar kita bisa hidup sejajar dengan bangsa-bangsa lain di dunia. Dengan cara ini semoga kita dapat menjadi bangsa yang besar dan beradab dan bermartabat. Indonesia ada di dunia dan Dunia ada di Indonesia dengan semangat kesetaraan untuk bekerjasama membangun peradaban dunia. Bukan datang dan hadir untuk melakukan eksploitasi sumber daya ekonomi yang kita punyai. ***

Topik :

Berita Terkait

Komentar

Komentar