Nelayan Tegal Minta Penggunaan Gas Diwujudkan

MENCOBA KEKUATAN MESIN – Staf Ahli Menristek, Agus Puji Prasetyono bersama Direktur Industri Permesinan dan Alat Mesin Pertanian, Kementerian Perindustrian, Zakiyudin, Direktur Pengembangan Teknologi Industri Kemenristek, Hotmatua Daulay, Kasubdit Diretorat Perencanaan dan Pengembangan Infrastruktur Migas, Ditjen Migas, Achmad mencoba kekuatan mesin converter kit generasi kedua. -tubasmdia.com/sabar hutasoit

TEGAL, (tubasmedia.com) – Nelayan Tegal yang tergabung dalam Kelompok Usaha Bersama “Gumalah” mendesak pemerintah agar segera mewujudnyatakan penggunaan bahan bakar gas untuk menekan biaya operasional.

Jika menggunakan bakan bakar bensin, seorang nelayan bisa menghabiskan paling sedikit 5 liter bensin  per hari seharga Rp 45.000  atau Rp 210.000/minggu sementara jika pakai gas dengan program converter kit hanya 1 tabung isi 3 kg seharga Rp 18.000 dan cukup dipakai untuk satu minggu.

‘’Perbedaannya cukup besar pak. Jika bensin Rp 210.000 seminggu, gas hanya Rp 18.000 per minggu, itupun sudah dipakai untuk masak nasi di rumah,’’ kata Ketua Kelompok “Gulamah”, Teguh dalam tatap muka dengan Staf Ahli Menristek, Agus Pudji Prasetyono di desa nelayan, Kelurahan Panggung, Tegal, Jawa Tengah.

Staf Ahli Menristek saat itu didampingi, Direktur Industri Permesinan dan Alat Mesin Pertanian, Kementerian Perindustrian, Zakiyudin, Direktur Pengembangan Teknologi Industri Kemenristek, Hotmatua Daulay, Kasubdit Diretorat Perencanaan dan Pengembangan Infrastruktur Migas, Ditjen Migas, Achmad Wahyu dan A Hakim Pane yang mewakili swasta sekaligus penemu teknologi converter kit generasi kedua.

Teguh menambahkan bahwa penggunaan converter kit generasi kedua yang diprakarsai Hakim Pane sudah digunakan sejak setahun yang lalu. ‘’Kami sudah rasakan selama satu tahun ini, biaya kami menjadi sangat kecil dengan bahan bakar gas,’’ jelasnya.

Namun lanjutnya, mereka mengharapkan bantuan pemerintah jenis speed boat yang menggunakan mesin berkekuatan 15 HP yang mampu melaut lebih jauh dengan kecepatan dan kekuatan yang maksimal serta dilengkapi dengan converter kit.

StafAhli Menristek menyambut gembira teknologi converter koit generasi kedua temuan Hakim Pane. Namun katanya, temuan teknologi, sebaiknya diarahkan menuju hilirisai untuk dapat segera dimanfaatkan masyarakat banyak, salah satunya oleh para nelayan.

Temuan teknologi tersebut lanjutnya harus pula sinkron dengan kebijakan pemerintah dan harus mampu mewujudkan dan menjaga QCD (quality, cost dan delivery).

Kalau hasil temuan itu segera diterjemahkan melalui produksi barang jadi, mutu produknya harus terjaga, cost-nya juga harus mampu bersaing dan permintaan konsumen harus pula segera dipenuhi.

‘’Jangan hanya bisa memproduksi satu unit dalam lima tahun, tapi harus bisa memproduksi lima ribu selama satu tahun,’’ katanya.

Kita sekarang, kata Agus, sudah sampai di ujung penelitian dimana hasil temuan itu sudah siap diproduksi.

‘’Bagaimana pak Hakim Pane, sudah siap diproduksi dengan cost yang bersaing?,’’ Tanya Agus yang djawab oleh Hakim Pane, ‘’sudah siap…” (sabar)

 

 

 

 

Berita Terkait

Komentar

Komentar