Nilai Tambah 85 Kali Lipat, Industri Pengolahan Bauksit Dipacu

BERKUNJUNG - Menteri Perindustrian Saleh Husin (kiri) mengunjungi dermaga di kompleks pemurnian (refinery) alumina milik PT Well Harvest Winning di Kalimantan Barat, Kamis (21/4/2016). Menperin didampingi Dirjen Industri Logam, Mesin, Alat Transportasi dan Elektronika (ILMATE) Kemenperin I Gusti Putu Suryawirawan dan Wakil Direktur Well Harvest Ronald Sulistyanto. Refinery senilai Rp 15,8 triliun ini bakal beroperasi dan diresmikan pada Mei 2016 dan berkapasitas produksi total 2 juta ton Smelter Grade Alumina per tahun. (ist/tubasmedia.com)

BERKUNJUNG – Menteri Perindustrian Saleh Husin (kiri) mengunjungi dermaga di kompleks pemurnian (refinery) alumina milik PT Well Harvest Winning di Kalimantan Barat, Kamis (21/4/2016). Menperin didampingi Dirjen Industri Logam, Mesin, Alat Transportasi dan Elektronika (ILMATE) Kemenperin I Gusti Putu Suryawirawan dan Wakil Direktur Well Harvest Ronald Sulistyanto. Refinery senilai Rp 15,8 triliun ini bakal beroperasi dan diresmikan pada Mei 2016 dan berkapasitas produksi total 2 juta ton Smelter Grade Alumina per tahun. (ist/tubasmedia.com)

KETAPANG, (tubasmedia.com) –  Kementerian Perindustrian mendorong percepatan industri pemurnian dan pengolahan bauksit menjadi alumina. Salah satu daerah yang tengah mengembangkan industri ini ialah Kalimantan Barat.

Bauksit merupakan bahan mentah yang diolah menjadi Smelter Grade Alumina (SGA) dan selanjutnya menghasilkan alumunium ingot . Aktivitas pengolahan bernilai tambah ini bermuara pada industri antara dan hilir seperti kabel, pipa, alat rumat tangga, konstruksi, furnitur, alat olah raga, otomotif dan bahkan memasok industri aviasi alias penerbangan.

Selain itu, bauksit dapat diolah menjadi chemical grade alumina yang dimanfaatkan untuk pemurnian air, kosmetika, farmasi, keramik dan plastic filler. Sehingga, industri ini menggerakkan industri lain yang menyerap tenaga kerja, memberikan pendapatan bagi karyawan dan masyarakat sekitar, menggerakkan ekonomi daerah dan pendapatan devisa.

Menteri Perindustrian Saleh Husin mengungkapkan hal itu saat mengunjungi refinery atau fasilitas pemurnian bauksit yang menghasilkan alumina milik PT Well Harvest Winning di Ketapang, Kalimantan Barat, Kamis (21/4/2016).

“Saya sengaja berkunjung dan berkeliling untuk melihat sendiri bagaimana progress proyek dan realisasi investasi. Investor sangat serius dan berorientasi jangka panjang meningkatkan nilai tambah. Jadi, yang bisa kita percepat, aksn kita lancarkan karena dampaknya riil dan luas,” katanya.

Fasilitas pemurnian ini tepatnya berlokasi di Sungai Tengar, Mekar Utama, Kendawangan, Kabupaten Ketapang. Jika menggunakan perjalanan darat dari ibukota Kalbar, Pontianak, mencapai 17 jam atau sekira 480 km. Ketapang merupakan salah satu dari 14 kawasan industri yang tengah dikembangkan Kemenperin dengan konsentrasi pengolahan alumina.

Kemenperin menghitung, nilai tambah industri bauksit berlipat-lipat dibanding bahan mentah. Kalkulasinya, bijih bauksit sebanyak 6 ton yang sekitar USD 3,85 per ton (nilai penjualan USD 23,1) menghasilkan metallurgical grade bauxite (MGB) sebanyak 3 ton yang harganya USD 38 per ton (nilai penjualan USD 114).

Dari 3 ton MGB tersebut jika diolah maka menghasilkan SGA sebanyak 1 ton yang nilainya USD 325 per ton. “Jika dibandingkan dengan bahan mentah bauksit maka terjadi peningkatan nilai tambah hampir 85 kali lipat,” ujar Menperin.

Gubernur Kalimantan Barat Cornelis menegaskan dukungan pemerintah provinsi karena proyek ini berkontribusi pada pemanfaatan potensi daerah. “Proyek ini memotivasi dan menambah kepercayaan diri kami untuk mengembangkan sumber daya alam dan meningkatkan kemampuan SDM,” ujarnya.

Well Harvest berinvestasi total USD 1,2 miliar, setara Rp 15, 8 triliun. “Investasi itu hanya untuk refinery saja. Jika berlanjut ke smelter maka investasi lebih tinggi lagi. Begitu juga benefitnya,” kata Wakil Direktur Well Harvest Ronald Sulistyanto.

Industri pemurnian (refinery) ini merupakan industri pengolahan bauksit pertama atau pionir yang menghasilkan Smelter Grade Alumina (SGA) di Indonesia. Hasilnya untuk memasok ke Inalum di Kuala Tanjung Sumatera Utara dan juga diekspor.

Dirjen Industri Logam, Mesin, Alat Transportasi dan Elektronika (ILMATE) Kemenperin I Gusti Putu Suryawirawan mengatakan, pihaknya mendorong Well Harvest mengembangkan kawasan industri pada tahap selanjutnya.

“Jadi di area tersebut dapat memungkinkan produksi industri turunan. Misalnya bisa langsung membuat blok logam dan lain-lain,” paparnya.

Ketapang, lanjut Putu merupakan cluster alumina bersama Kuala Tanjung, Sumut. Lokasi Ketapang juga strategis karena termasuk jalur lalu lintas laut internasional sehingga mempercepat ekspor. (red/sabar)

 

 

Berita Terkait