Nyawa Hilang Sia-sia

Oleh : Sabar Hutasoit

Ilustrasi

Ilustrasi

AKSI kekerasan yang dilakukan anak-anak usia sekolah di Ibukota Jakarta sudah mencapai titik nadir. Awal pekan lalu satu orang pelajar tewas akibat aksi brutal anak-anak SMAN 70 Bulungan Jakarta Selatan terhadap SMAN 5. Lalu kalau sudah demikian keadaannya, kita mau salahkan siapa?

Anggota Komisi X DPR dari Fraksi PPP DPR Reni Marlinawati menilai aksi tawuran pelajar yang terjadi di Ibukota Jakarta bukan lagi bentuk ekspresi pelajar, tapi sudah masuk tindakaan kriminal.

Awalnya, aksi-aksi tawuran ini dilakukan dengan cara saling kejaran di jalan raya dan kalau sudah ketemu, paling-paling berkelahi dengan tangan kosong, bergumul hingga guling-gulingan di tanah. Namun kini, mereka para anak-anak harapan bangsa itu, aksi tawuran tidak lagi dengan tangan kosong.

Mereka tidak segan lagi menggunakan senjata tajam seperti golok, samurai hingga celurit bahkan sudah berani menggunakan cairan mematikan. Artinya, aksi tawuran tersebut, bukan lagi sekedar atau sebatas kenakalan remaja, akan tetapi sudah saling membunuh.

Tidaklah terlalu jelas sebenarnya apa yang menjadi pemicu tawuran sesama anak-anak sekolah tersebut. Namun sebagai anak-anak remaja para orang tua memperkirakan alat pemicunya hanyalah sekedar gengsi-gengsian di antara anak-anak remaja. Namun apa pun pemicunya, aksi brutal yang saling membunuh itu sudah harus diberi perhatian serius, baik oleh orang tua maupun guru dan juga pemerintah.

Memberi perhatian dalam kasus ini, rasanya janganlah kita hanya tampil seperti pemadam kebakaran yang sibuk dan heboh ketika telah terjadi pertumpahan darah. Kebiasaan buruk bangsa kita adalah riuh rendahnya perhatian saat terjadi sesuatu. Semua pihak turut angkat bicara, saling memberi penilaian, ocehan, masukan dan kritikan.

Tak ketinggalan pula ungkapan bersedih atas melayangnya nyawa anak manusia akan terus mengalir sekaligus menyumpahi para pelakunya. Memang ungkapan kesedihan itu perlu, tapi yang terpenting adalah pencegahan, seperti pepatah kuno yang mengatakan, “sedia payung sebelum hujan” atau “lebih baik mencegah daripada mengobati”. Pasalnya, menjadi tidak ada artinya kita tangisi peristiwa yang sudah berlalu dan telah menghilangkan nyawa manusia secara sia-sia itu, sementara setelah berlalu kita tidak terpanggil untuk menciptakan penangkalnya.

Melihat aksi tawuran ini yang terjadi secara berkesinambungan, ada suara yang mengatakan bahwa tawuran yang terjadi ada kesan pembiaran dilakukan pihak sekolah dan guru dan itulah penyebab aksi tawuran terjadi turun-temurun.

Ada suara yang mengusulkan harus ada sanksi yang diterima oleh pihak sekolah. Dengan cara tersebut, agar ada motivasi dari pihak sekolah untuk mencegah dan menyetop aksi tawuran pelajar. Tidak hanya itu, pelajar yang terlibat dalam aksi tawuran pelajar juga wajib mendapat sanksi seperti misalnya si pelajar tersebut dikembalikan ke orang tuanya dengan harapan ada efek jera.

Satu hal lagi mungkin yang perlu dilakukan adalah Menteri Pendidikan dan Kebudayaan membuat formula secara komprehensif untuk mencegah dan memutus mata rantai tawuran pelajar sebab tawuran pelajar tidak hanya di kota-kota besar saja, tapi sudah menjalar hingga ke kota-kota kecil.

Usul lain yang barangkali perlu direspon adalah dihidupkannya kembali mata pelajaran budi pekerti yang sudah hilang sejak beberapa tahun silam. Mata pelajaran satu ini tampaknya sangat dibutuhkan dan sangat berdayaguna untuk membentuk karakter setiap anak sekolah sejak usia remaja hingga dia dewasa kelak. ***

Berita Terkait

Komentar

Komentar