Oase di Tengah Perkotaan

Oleh: Fauzi Aziz

ilustrasi

ilustrasi

HAMPIR semua kota besar di Indonesia tidak berhasil menciptakan lingkungan hidup bagi para warga dan tamunya. Jangankan di wilayah perkotaan,di wilayah perdesaan pun tidak ada penataan yang bisa dianggap baik dari aspek tata kota dan tata desa. Sepertinya, abai terhadap nilai lingkungan hidup yang bisa membuat betah makhluk hidup.

Tingkat kekumuhan dan kegaduhan hampir selalu mewarnai alam kehidupan makhluk hidup di kota dan di perdesaan. Akibatnya kota terasa gersang. Pun desa, kita bisa lihat sebagai wilayah yang tanpa makna bagi kehidupan karena dipersepsikan sebagai daerah yang “dicadangkan” untuk membangun kawasan hutan beton baru, ketika pusat-pusat kota sudah kesulitan untuk menaman pohon beton baru.

Secara alamiah, lambat, tapi pasti, wilayah kota dan perdesaan pasti akan menyatu, sehingga posturnya secara fisik tidak tampak lagi perbedaan dan perilaku para makhluk penghuninya, kecuali hanya sekadar perbedaan wilayah administrasinya. Makhluk hidup butuh suasana hijau (green). Makhluk hidup juga membutuhkan suasana kedamaian (peace), dan memerlukan ruang hunian (space) yang bersih dan sehat, yang konsep dasarnya adalah small is beautiful. Indah bagi kehidupan siapa saja, yakni manusia, hewan, dan tetumbuhan.

Indonesia sebagai negara tropis, memiliki ribuan pulau, sampai disebut sebagai zamrud khatulistiwa, tidak berhasil menciptakan oase-oase yang bisa menyelamatkan kohesi sosial antarsesama manusia. Pun yang bisa membarakan kembali harmoni kehidupan antara manusia dan lingkungannya. Kehidupan yang liberalistik dengan sikap individu yang sangat individualis telah mengantarkan sebagian manusia ke jalan hidup yang salah.

Artinya, mereka dengan kekuatan nilai kebendaan yang diagungkan bisa menjadi penopang kehidupan di muka bumi, telah abai dan lupa akan tanggung jawab kemanusiaannya bahwa urusan menata lingkungan adalah tanggung jawab negara. Lain halnya jika kaidah yang dibangun di atas landasan nilai sosialistik dan humanistik hasilnya pasti akan berbeda, karena nilai yang bersifat individualistik-kapitalistik dapat dikendalikan dengan efektif oleh manusianya sendiri maupun oleh negara untuk menyelamatkan bumi dan kehidupan yang seimbang antara nilai kebendaan dan lingkungan hidup.

Konsep Kehidupan

Para perancang pembangunan kota telah terjebak pada konsep kehidupan glamour yang serba wah di abad 21 dengan lampu-lampu dan cahaya menerangi kota seperti yang kita lihat di New York, London,Tokyo, Shanghai, dan tempat-tempat lainnya. Abai terhadap konsep green, space, dan peace. Indonesia dan Singapura tidak ada bedanya. Keduanya adalah negara tropis, panasnya sama-sama menyengat. Curah hujannya hampir tidak jauh beda.

Namun, jika kita di Singapura akan mendapatkan suasana yang berbeda. Nuansa green, space and peace cukup bisa kita peroleh di negara itu. Paling menyenangkan jalan-jalan di Singapura adalah di Orchard Road. Kotanya rapi dan rindang, bersih dan segar, apalagi saat sesudah hujan turun. Hal yang demikian terjadi karena komitmen pemimpinnya, kala itu Lee Kuan Yew. Beliau mengatakan bahwa lanskap kota yang karut-marut dan hutan beton akan merusak jiwa manusia. Kita perlu penghijauan alam untuk menyegarkan jiwa kita.

Itulah cara Lew Kuan Yew membangun Negara Kota Singapura. Dengan begitu, Indonesia jauh tidak lebih bagus dari Singapura. Hanya menjadi terbayang kalau kota besar di Indonesia di 33 provinsi dibangun dengan lanskap serupa di Singapura betapa dahsyat dinamika ekonomi yang akan terjadi. Turis yang datang bisa puluhan juta dan berapa dolar AS dan mata uang asing yang berputar pada saat turis asing berdatangan dengan masa tinggal rata-rata 3-4 hari. Indonesia tidak perlu berkiblat ke mana-mana. Berkiblatlah pada diri sendiri.

Tidak perlu mimpi ingin membangun seperti Burj Dubai, hotel Burj Al arab dan Trump Dubai di Uni Emirat Arab. Indonesia masih punya lahan untuk membangun oase kota. Oase kota tidak harus dibangun di kotanya yang bersangkutan. Mungkin desanya bisa disiapkan sebagai pusat-pusat oase kota yang rindang, udara segar, dan lingkungan bersih. Tata desanya harus terkelola dengan baik. Desa merupakan subsistem perkotaan bukan menjadi wilayah cadangan untuk mengembangkan hutan beton setelah posisi kota menjadi marginal, karena ruang hijaunya habis terpakai menjadi hutan beton.

Jakarta tidak bisa spektakuler mengubah wajah kotanya menjadi sebuah oase besar, karena sudah salah tata kotanya. Hinterland-nya juga sudah padat mengikuti pola yang salah pembangunan kota di wilayah DKI. Sulit meng-copy paste Singapura di wilayah Jabodetabek. Kalau di wilayah provinsi yang lain, probabilitasnya masih cukup baik. Paling tidak di wilayah-wilayah hinterland-nya.

Masalahnya berpulang kepada para gubernur/bupati/wali kota dan masyarakat untuk membangun sebagian wilayahnya sebagai pusat “oase perkotaan”. Padukan unsur modern dan tradisional yang nilai kearifan lokalnya tinggi dari sisi budaya secara seimbang. Sebuah oase kota harus dikola secara profesional dan kompeten. Oase kota telah menjadi kebutuhan manusia sejagat, dan kita termasuk bagian dari itu.

Potensi dan populasi wilayah yang dapat dijadikan oase kota masih cukup banyak di negeri ini. Mulailah dari sekarang dan dalam jangka 5-10 tahun mendatang, oase-oase kota di Indonesia akan menjadi mesin pencetak dolar dan mata uang asing lainnya selain rupiah kita sendiri di dalam negeri.

Wibawa rupiah pasti akan naik dan stabilitasnya pasti akan lebih terjaga. Di tiga sektor riil, Indonesia tidak boleh gagal, yaitu sektor pertanian dan industrinya yang mengolah hasil pertanian dalam arti luas melalui pendekatan agrobisnis/agroindustri dan industri pariwisata. ***

Berita Terkait

Komentar

Komentar