Obrien Sianturi dan Ovan Sianturi Anak Malang Penderita Hemofilia, Butuh Uluran Tangan…..

Kepala SD 173337 Paranginan, Rosbine T Lumbantoruan (pakai jaket biru) bersama guru sedang berada di kediaman orang tua Obrien dan Ovan

DOLOKSANGGUL, (tubasmedia.com) – Hemofilia, barang kali masih banyak orang yang belum pernah mendengarnya, apalagi  mengetahui apa itu Hemofilia. Padahal Hemofilia adalah salah satu jenis penyakit yang hingga saat ini belum ada obat yang dapat menyembuhkannya.

Hemofilia merupakan gangguan pada sistem pembekuan darah membuat tubuh kekurangan protein yang dibutuhkan dalam proses pembekuan darah.

Karena itu, ketika seseorang mengalami luka, perdarahannya bisa berlangsung lebih lama bila dibandingkan dengan kondisi tubuh normal dan Hemofilia itu merupakan penyakit keturunan yang sebenarnya cukup langka ditemukan.

Penyebab utama Hemofilia adalah masalah pada gen yang menjadikan tubuh tak cukup memiliki faktor pembekuan tertentu. Penderita Hemofilia mengalami gejala utama misalnya pendarahan yang sulit berhenti, juga ditandai dengan kulit yang mudah memar, pendarahan di area sekitar sendi dan kesemutan atau rasa nyeri ringan pada siku, lutut dan pergelangan kaki.

Seseorang yang mengalami kondisi ini bisa muntah, leher tegang, sakit kepala yang hebat, penglihatan berbayang, hingga kelumpuhan di sebagian atau seluruh otot

Hal itu yang dialami Obrien Sianturi (12) dan adiknya Ovan Dio Cristian Sianturi (9). Kedua orang ini adalah putra dari pasangan Ringki Sianturi dan Neny Sidabutar. Mereka tinggal di Desa Paranginan Utara Kecamatan Paranginan, Kabupaten Humbang Hasundutan (Humbahas) Sumatera Utara.

Dokter memvonis kedua anak SD Negeri 17337 Paranginan yang masing-masing duduk di bangku kelas 6 dan 3 itu menderita Hemofilia sejak tiga empat tahun silam. Kondisi keduanya saat ini sangat memprihatinkan.

Puntang-panting

Melihat kondisi kesehatan kedua putranya itu, kedua orang tuanya yang sehari-hari bertani merasa terbeban biaya perongkosan membawa kedua anaknya itu berobat ke Medan.

Neny ibunya mengatakan, kedua putranya itu seharusnya dibawa berobat setiap minggu ke RS Adam Malik di Medan,  apalagi bila penyakitnya  ada tanda-tanda kambuh.

‘’Di saat seperti itu kami pusing, puntang-panting mencari ongkos ke tetangga atau saudara. Kemampuan kami sangat terbatas. Memang obat yang disuntikkan  ditanggung pemerintah, tapi ongkos-ongkos dan biaya hidup kami dari mana ?,” keluh Neny Sidabutar memelas.

Akibat ketiadaan biaya membawa ke dokter, jadwal berobat kedua putranya seringlah terlambat. Akhirnya Kesehatan Obrien semakin parah dan saat ini tidak dapat berjalan. Kedua kakinya tidak dapat diluruskan.

“Terpaksa kami harus beli kursi roda untuk dia. Kesehatan adiknya Ovan juga demikian, walau tidak separah yang dirasakan abangnya Obrien,’’ tambah ibunya.

Kedua bocah yang hampir tidak pernah merasakan  masa bahagia  bermain bersama anak-anak sebaya lainnya hanya tinggal berdiam di rumah menghindar agar jangan terjadi benturan yang dapat memicu pendarahan.

Baru-baru ini Kepala SD 173337 Paranginan, Rosbine T Lumbantoruan bersama gurunya Lamtio Sianturi dan Jojor Rotua Sihombing  berkunjung ke tempat kediaman orang tua Obrien dan Ovan menanyakan kesehatan mereka berdua pasalnya Obrien yang sudah duduk di bangku kelas 6 itu sebentar lagi mau ujian.

kepada tubasmedia.com Rosbine menjelaskan bahwa pihak sekolah yang dipimpinnya telah memberi dispensasi kepada Obrin boleh belajar dari rumah secara daring.

Obrien Sianturi dan Ovan Sianturi penderita Hemofilia

Hilang Semangat

“Nanti pada saat ujian, biarlah Obrin ujian dari rumah,” terang Rosbine. Menurutnya, hanya itulah bantuan yang dapat diberikan pihak sekolah.

Dari pengamatan tubasmedia.com kedua orang tua Obrien dan Ovan sangat sedih dan hampir hilang semangat mengingat ketidakmampuan mereka berdua sebagai orang tua untuk membawa berobat termasuk membeli hanphone android buat dipakai belajar daring.

“Mudah-mudahan saja ada rezeki buat beli HP mereka dan terutama biaya dan ongkos-ongkos membawa berobat,” ujar Neny.

Ringky Sianturi, orang tua laki-laki Obrien, kepada tubasmedia.com  mengatakan  bahwa ada semacam grup bagi penderita Hemofilia di Indonesia juga di Sumut.

“Kami sering tukar informasi di grup tentang perkembangan Hemofilia, “ujarnya.

Orang tua dari Obrien dan Ovan ini berharap agar ilmu kedokteran semakin berkembang, sehingga anak-anak mereka dapat sembuh dan bermain bersama temannya.

Mereka juga berharap doa dari masyarakat untuk Obrien dan Ovan semakin sehat dan mereka dimampukan membawa kedua anaknya berobat dan membelikan perlengkapan belajar  daring. (edison ompusunggu).

Berita Terkait