Ojo Dumeh

Oleh: Fauzi Aziz

Fauzi Aziz

Fauzi Aziz

JIKA kepepet, solusinya kalap. Merasa lebih senior dan lebih kuat bersikap arogan dan cenderung menindas. Dengan jelas menyogok dan menyuap, masih bisa ngeles dan membela diri bahwa yang dilakukannya bukan tindakan penyuapan, tapi lebih bersifat sebagai bantuan sosial.

Kemudian dengan sombongnya mengatakan bahwa uang tiga miliar rupiah itu tidak ada artinya dibandingkan dengan kekayaan yang dimilikinya. Begitulah sikap yang sangat menonjol dalam minggu-minggu ini kita saksikan di negeri ini. Sikap yang semacam itu diperparah lagi dengan rencana DPR untuk merevisi UU tentang KPK dan ditengarai, arah revisi tersebut akan mengebiri peran dan fungsi KPK.

KPK dipercaya sebagai lembaga penegak hukum yang menangani tindak pidana korupsi, sementara itu POLRI terus terang sedang dalam posisi menggerus habis-habisan reputasinya sendiri sebagai lembaga penegak hukum.

Tidak peduli masyarakat mengatakan apa tentang kondisi yang dihadapinya. Gue juga lembaga super body. Masa hanya KPK saja yang super body dalam penanganan tindak pidana korupsi. Anak kemarin sore sudah berani dan mau menindak perwira tinggi POLRI yang diduga terlibat tindak pidana korupsi dalam pengadaan alat simulasi SIM. Sikap arogansi dan “kekanak-kanakan” ditunjukkan dengan mau menarik 20 penyidiknya yang bertugas di KPK dengan alasan habis masa tugasnya.

Sangat disayangkan sikap kedewasaan dan profesionalisme POLRI, mereka runtuhkan sendiri dan jujur, sebagai warga negara, sangat tidak simpatik dan muak melihat cara kerja POLRI. Yang mereka tunjukkan adalah bahwa POLRI-lah yang berkuasa dalam soal penegakan hukum di republik ini, meskipun sebenarnya kredibilitas dan reputasinya, sudah mereka hancurkan sendiri dari dalam.

Ojo Dumeh bapak KAPOLRI. Nanti kualat lho dan kena karma. Jabatan yang disandang Kapolri adalah amanah. Sebagai panglima (maaf, belum panglima besar lho), harusnya bisa menjaga marwah Polri sebagai lembaga penegak hukum, bukan malah sebaliknya membiarkan reputasi dan prestasinya lembaga POLRI makin memudar.

Tidak Takut Mati

Dalam soal penanganan terorisme, POLRI sangat heroik sekali bahkan tidak takut mati. Tapi dalam hal penanganan korupsi, sikap heroiknya tidak nampak karena sikapnya mendua, bak buah simalakama, maju kena mundur kena. Maka lebih baik “menyerang” duluan daripada “dilucuti” boroknya.

Ampun, ampun wahai pengayom dan pelindung rakyat! Kenapa sampeyan kok tidak bisa mengendalikan diri malah melakukan tindakan yang justru menyebabkan reputasi anda jatuh. Jangan keburu nafsu mau “mengkriminilisasi” KPK mas. Hati-hati nanti ada yang “nusuk” dari dalam. Sekali lagi ojo dumeh karena sekarang sedang berkuasa. Rakyat tidak akan diam kalau terus-terusan disuguhi perilaku tidak terpuji dari sikap sebagian dari penguasa di negeri ini, baik eksekutif, legislatif dan yudikatif.

Di satu sisi sepertinya mau jadi panglima besar dalam pemberantasan korupsi. Tapi di pihak lain terkesan tidak bisa bersikap tegas ketika penanganan korupsi ditegakkan sesuai hukum yang berlaku. Ono opo yo mas kok sikapnya mendua ketika berbicara tentang pemberantasan korupsi.

Opini ini jadi ingat ketika pemerintah di fora internasional memberikan komitmen akan mengurangi 26 persen emisi karbon. Harusnya komitmen itu tidak cukup hanya 26 persen, mestinya 60 persen, di mana yang 34 persennya adalah komitmen kepada rakyat Indonesia untuk memberantas korupsi secara konsekuen.

Dua-duanya penting dijalankan kalau memang pemerintah serius akan menjalankan pembangunan yang berkelanjutan. Tapi kalau hanya menjadi slogan, maka “kehancuran”yang akan menghantarkan negeri ini ke peradaban rendah dan pada akhirnya negeri ini dicatat dalam sejarah sebagai negara yang gagal melaksanakan pembangunan berkelanjutan.

Monggo dipilih piyambak wahai para penguasa di negeri ini, mau hancur atau makmur. Kerusakan lingkungan dan korupsi adalah virus yang mematikan dan karena itu pantas harus ditangani dengan sungguh-sungguh agar negeri ini bebas polusi dan korupsi. Presiden sebagai kepala pemerintahan dan kepala negara dan KAPOLRI kan orang jawa, rasanya sangat faham tentang makna yang dalam falsafah.

Siapa pun yang sekarang lagi duduk di singgasana kekuasaaan, perlu diingatkan lagi ojo dumeh kang mas selagi memegang kendali kekuasaan. Gunakanlah kekuasaan itu untuk sebesar-besarnya demi kesejahteraan rakyat dan kita semua. Bersikaplah ksatria, dan ojo dumeh, nanti kualat lan kewales karo omongane dewe. Salam hormat untuk Pak Timur Pradopo, KAPOLRI, eling pak nasehat dari orang tua, pini sepuh. Semoga bapak sehat walafiat dan legowo jika sempat membaca opini ini. ***

Berita Terkait

Komentar

Komentar