Ojo Kasusu Pak Gubernur…

pengertian-hukum-subjektif-

Oleh: Fauzi Aziz

JAKARTA yang padat, rimbun dengan hutan beton telah membuat panas semakin menyengat. Kebutuhan dan aturan berbenturan keras. Pemahaman dan tafsir berseliweran dan satu sama lain bertabrakan. Jakarta menghendaki suasana baru sebagai metropolitan. Nilai tambahnya ingin ditingkatkan, tapi jangan sampai merusak kohesi sosial dan lingkungan hidup karena kalau kaidah ini dilanggar, ma ka Jakarta akan semakin rusak dan tenggelam ditelan air laut.

Jakarta akan menjadi danau raksasa dan memaksa manusia harus bisa hidup sebagai manusia perahu. Mengubah wajah Jakarta, nampaknya memang memerlukan “breaktrough” oleh nakhodanya siapapun dia. Memerlukan sistem yang baik dan bijaksana karena beban masalahnya sudah sangat kompleks.

Membangun sistem yang lebih sesuai dengan kebutuhan Jakarta memang memerlukan breaktrough, tapi harus bereti ka dan berperikemanusiaan dan berkeadilan. Breakthrough tidak selalu dapat menyelesaikan masalah Jakarta kalau prosesnya harus dilakukan dengan menabrak rambu-rambu aturan.

Yang baik dan benar dan yang patut dan bijaksana bila breaktroughnya dilakukan dengan menata ulang aturan main. Tidak main tabrak lari yang berujung terjadi konflik karena kepentingannya saling berbenturan. Aturan main untuk menata Jakarta barangkali perlu deregulasi dan sekaligus re-regulasi.

Entah tepat atau tidak, apa yang kita ikuti pemberitaan di media, kita mendapat kesan bahwa pemerintah menghadapi tekanan berat atas regulasi yang dibuatnya sendiri. Kualitasnya sedang diuji di ruang public dan sepertinya hasil kerja pemerintah dan DPR menjadi biangkerok masalah Jakarta dan daerah lain.

Banyak konflik kepentingan membuat Jakarta menjadi cantik, indah dan menawan dan 70% likuiditas nasional beredar di Jakarta. Karena itu beban Jakarta makin berat. Likuiditasnya besar, tetapi kualitas lingkungannya buruk. Memperbaiki Jakarta tidak bisa dilakukan dalam sekejap karena simpul masalahnya menyebar dan tersebar berserakan dimana-mana.

Breaktrough memang diperlukan,tapi harus taat azas, baik azas kepatuhan dan azas kepatutan. Galak, tegas, keras dan arogan adalah sikap pribadi seseorang. Tetapi ketika menjadi pemimpin, CEO, siapapun yang ditugaskan harus memahami aturan seperti pilot yang menerbangkan pesawat. Sebagai pemimpin yang diberi tugas memimpin Jakarta memang harus tegas, tetapi harus bersahabat dengan seluruh warganya.

Jakarta tidak bisa dibangun dengan logika. Jakarta dibangun dengan rencana, progam dan tindakan sesuai norma hukum dan aturan. Breaktroughnya berarti mengubah aturan yang membelenggu dan mengubahnya dng aturan baru yang lebih sesuai dengan kebutuhan Jakarta dalam segala dimensinya, baik dimensi politik, ekonomi, sosial budaya dan keamanan serta ketertiban.

Breaktrough bukan sekedar mengubah kebuntuan dan adu cepat demi kejar reputasi dan legacy. Breaktrough harus tetap dilakukan kajian akademis agar hasilnya baik dan berkualitas dan bermanfaat bagi masyarakat Jakarta keseluruhan.

Ojo kesusu pak gubernur. Kalau memang rejekinya pak gubernur dan Tuhan berpihak kepada anda, maka apapun yang anda impikan akan tercapai, bisa sebagian atau seluruhnya. Semua sudah ada yang ngatur. Sebab itu jangan grusa-grusu mengurus Jakarta. Breaktrough memecah gunung es Jakarta harus ada perencanaan matang, eksekusi yang hati-hati karena kalau gunung esnya meleleh serentak, Jakarta malah akan tenggelam lebih cepat. (penulis adalah pengamat ekonomi sosial)

Berita Terkait

Komentar

Komentar