Orang Tua Mahasiswa Baru mulai “Berceloteh”

Ilustrasi-PTN

JAKARTA, (tubasmedia.com) – Para orang tua mahasiswa baru mulai “berceloteh”. Masalahnya, mereka tidak tahan melihat selebaran biaya masuk Perguruan Tinggi Negeri (PTN) yang terus mengalami kenaikan. Namun menurut pakar pendidikan Ari Wibowo (Ari), masih ada jalan keluar (solusi) yang bisa ditempuh. Sebab subsidi silang dari mahasiswa mampu kepada mahasiswa tidak mampu memang bisa saja menekan biaya kuliah bagi mahasiswa tidak mampu dalam menuntut ilmu di PTN.

“Kalau yang saya tahu di UI, subsidi silang atau UKT ini memberikan keringanan biaya kepada mahasiswa tidak mampu. Bantuan dana mahasiswa mampu, mau pun dari sumbangan orang tua mahasiswa mampu, dana dari alumnus serta donatur bertujuan untuk menopang beban biaya kuliah mahasiswa tidak mampu,” ujarnya.

Menurut Ari, sudah menjadi hal biasa jika setiap tahun biaya kuliah di PTN dan PTS makin melonjak. Kenaikan biaya kuliah setiap tahun karena PTS dan PTN membutuhkan dana segar untuk membiayai operasional kampus, membayar gaji karyawan/dosen yang setiap tahun terus naik dan pengeluaran lain yang dibebankan kepada universitas bersangkutan.

Banyak faktor yang menyebabkan mahalnya harga yang harus dibayar demi menuntut ilmu di PTN. Salah satu penyebab karena pemerintah saat ini tidak lagi mensubsidi dana kepada PTN. Dijelaskan, semakin besar biaya kuliah di PTN dan PTS, semakin besar juga pengeluarannya. “Prodi kedokteran misalnya lebih mahal dari Sastra,” kata Ari menandaskan.

Menurutnya, saat ini di PTN apapun cost yang dikeluarkan adalah pendapatan universitas murni dari seluruh mahasiswa. Ini berbeda ketika era Orde Baru pemerintah sekian persen memberikan subsidi kepada PTN sehingga semua biaya PTN ditanggung pemerintah.

“Di Orde Baru biaya PTN ditanggung pemerintah sehingga biaya kuliah di PTN ketika itu lebih murah. Tetapi saat ini, kondisinya berbeda tidak ada subsidi dari pemerintah kepada PTN dan PTN diminta kreatif mencari biaya sendiri. Dampaknya, biaya masuk dan kuliah di PTN 2015 semakin mahal bagi mahasiswa,” jelas Ari.

Menurutnya, dengan adanya perubahan kebijakan pemerintah menarik subsidi terhadap PTN, maka PTN yang ada saat ini harus mengelola keuangannya sendiri, menghidupkan operasional dan membayar gaji para pegawai kampus yang naik setiap tahun. “Akibatnya apa, sebagian besar uang untuk menghidupi PTN berasal dari keuangan per mahasiswa dan sumbangan dari orang tua mahasiswa. Jika tidak begitu, sulit PTN untuk membiayai seluruh biaya operasional,” ujarnya. (marto)

Berita Terkait

Komentar

Komentar