Pagelaran Drama Seni Tari Khas Bantul

Laporan: Redaksi

Ilustrasi

Ilustrasi

JAKARTA, (Tubas) – Anjungan Daerah Istimewa Yoyakarta (DIY) di Taman Mini Indonesia Indah (TMII), baru-baru ini, menggelar Drama Seni Tari (DST), kesenian tradisional khas Kabupaten Bantul. Acara DST menceritakan Satria Tama dengan kegagahan, keberanian, dan kesaktian seorang Burisrawa.

Ikut menyaksikan para duta besar negara sahabat dan masyarakat Yogyakarta di Jakarta, Direktur Operasi TMII, Kepala Dinas Perindustrian Kabupaten Bantul, Wakil Bupati Bantul dan Kepala Pengguhubung Propinsi DI Yogyakarta serta wakil Gubernur DI Yogyakarta.

Kepala kantor penghubung DIY di Jakarta, Edy Harsono mengatakan dalam acara DST juga digelar pameran produk unggulan kerajinan batik yang sudah dikenal di mancanegara yang merupakan produk kerajinan khas Kabupaten Bantul.

Menurut dia, Satria Tama mempunyai kisah seorang Ksatria Ngawangga bernama Basukarna yang mempunyai keinginan untuk membela Astinapura, walaupun harus melewati halangan dan rintangan. Kresna menjelma/ pengejawantahan dari sang wisnu untuk membujuknya dengan memberitahukan bahwa ibu kandungnya Dewi Kunthi mendengar kata-kata itu, tak bisa membelenggu sang senopati. Namun perasaan seorang ibu Kunthi terasa tercabik-cabik.

Sang ibu pun mengatakan Pendawa adalah saudara kandung Karna, apakah kamu akan membunuh darah dagingmu sendiri?

Namun tekad dan semangat tak bisa dibendung, akan tetapi Karna tetap membela Kurawa. Tekad maju dalam perang Baratayuda dengan hanya satu tujuan menumpas angkara murka di muka bumi kalau dia tidak maju menjadi senopati Kurawa tidak akan berani melawan Pendawa di depan Ibunda Kunthi.

Karna berjanji akan berkurban untuk adik-adiknya Pendawa. Kalau Karna gugur di medan perang Kurusetra, Pendawa tetap Lima dan kalau Arjuna yang gugur di medan perang Kurusetra, Pendawa tetap lima. (gunawan)

Berita Terkait

Komentar

Komentar