Pagi Dibantah Sore Dibenarkan

Oleh: Sabar Hutasoit

ilustrasi

ilustrasi

MENYEBUT angka persentase yang erat dengan kaitannya dengan pembelaan diri dan sekaligus mengklaim diri benar, akhir-akhir ini semakin amat bebas. Dulu angka persentase paling tinggi adalah seratus persen. Jika sudah genap 100 persen, itu artinya sudah penuh ibarat mobil sedang mengisi bahan bakar di pompa bensin, kita sebut full tanki, yah itulah dia angka seratus persen dan itualh kebenaran yang hakiki.

Akhir-akhir ini angka seratus persen kayaknya sudah dianggap belum full, belum hakiki dan belum mutlak, apalagi untuk menyatakan kalau diri kita itu benar adanya. Seperti yang diungkapkan Presiden Soesilo Bambang Yudhoyono (SBY) dalam konferensi pers sepulang kunjungan kenegaraan ke Brunei Darussalam. Ketua Umum Partai Demokrat ini menggunakan angka ribuan persen untuk membantah kesaksian Luthfi Hasan Ishaaq terkait relasi Bunda Putri dan Istana sekaligus menyatakan dirinya tidak terlibat.

Untuk menguatkan sumpah kebenaran dengan menyebut ribuan persen itu sembari marah besar, SBY juga serta merta membentuk tim investigasi mengungkap misteri Bunda Putri.

Namun kemarahan dan angka ribuan persen serta merta buyar manakala beberapa saat kemudian bermunculan foto-foto dokumentasi Bunda Putri dengan pembantunya di Kabinet Indonesia Bersatu (KIB) II seperti Dipo Alam, mantan Menpora Andi Mallarangeng dan Menteri Pertahanan Purnomo Yusgiantoro.

Seketika itu pula, SBY batal mengumumkan hasil pencarian informasinya soal Bunda Putri. Alasannya, hasil investasi itu hanya untuk konsumsi presiden dan tidak untuk dipublikasikan ke publik. ‘’Istana tidak akan mengungkap identitas Bunda Putri ke publik,’’ begitu kata Juru Bicara Kepresidenan Julian Aldrin.

Terus terang pembatalan dengan alasan hanya untuk konsumsi presiden jelas mencurigakan. Apa maunya SBY menyembunyikan identitas Bunda Putri yang sebelumnya dia mengatakan kalau dirinya tidak kenal Bunda Putri bahkan dengan menyebut ribuan persen. Tapi tiba-tiba hasil investigasi intelijen dipendam sendiri. Ada apa ya…?

Sebenarnya gaya komunikasi Istana sudah bisa dibaca. Sekarang bantah tidak kenal, satu dua jam lagi dikatakan kenal. Sudah ada contoh Maret 2008 publik sempat dihebohkan kasus ‘Ratu Suap’ Artalyta Suryani yang ditangkap Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) dalam praktik suap pada Jaksa Urip Tri Gunawan US$6.600. ‘Ratu Suap’ itu disebut turut hadir dalam peluncuran album milik Presiden SBY.

Awalnya, Istana membantah, namun akhirnya dokumentasi foto yang berbicara. Kasus Ayin hampir sama, terungkap saat bersentuhan dengan proses hukum. Istana membantah keras ada kedekatan Presiden SBY dengan Ayin dengan alasan sebagai pejabat publik tidak bisa melarang siapa saja yang ingin berfoto bersama. ‘’Saya sendiri tidak kenal, tidak pernah melihat dan tidak pernah mendengar,” begitu Juru Bicara Kepresidenan Andi Mallarangeng saat itu, 1 Juli 2008.

Sekitar 30 hari kemudian, Andi meralat pernyataannya setelah foto Presiden SBY bersama Ibu Negara Ani Yudhoyono menghadiri pernikahan anak Ayin. “Presiden bisa saja mengenal banyak orang dan dikenal banyak orang. Tapi Presiden tidak bisa mengontrol perilaku setiap orang. Sama seperti saya dan Anda,” jawab Andi pertengahan Agustus 2008.

Jawaban yang sama juga muncul dari Menteri Sekretaris Kabinet Dipo Alam saat mengomentari kesaksian Ridwan Hakim di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi Jakarta, 29 Agustus 2013 yang menyebut, Sengman Tjahja merupakan utusan Presiden. ‘’Sengman tidak dikenal yang kami kenal tukang seng’’, begitu Dipo saat itu. Namun bantahan itu berubah setelah lima hari kemudian, Djoko Suyanto meralat Dipo sambil menyebut Presiden SBY kenal Sengman Tjahja. Selain itu, kata Djoko, Presiden SBY juga menghadiri acara pernikahan putra pengusaha asal Palembang, Sumatera Selatan itu.

Kini muncul nama Bunda Putri dan SBY usai ikuti acara kenegaraan di Nusa Dua Bali dan Brunei Darussalam, SBY jumpa pers terkait Bunda Putri yang digambarkan Luthfi Hasan Ishaaq sebagai orang dekat Presiden SBY. “Bunda Putri orang dekat dengan SBY? 1000 persen Luthfi bohong,” kata SBY 10 Oktober 2013.

Namun SBY tidak berbuat apa-apa terhadap Bunda Putri bahkan disebut identitas Bunda Putri tidak akan dipublikasikan kepada publik. Hebohnya Bunda Putri akhir-akhir ini tampaknya copy paste cerita lama Istana. Gaya komunikasi Istana mudah sekali ditebak. Pagi membantah, sore membenarkan. ***

Berita Terkait

Komentar

Komentar