Pameran “Indo Leather and Footwear 2015” Akan Diikuti 11 Negara

Dirjen BIM Kemenperin Harjanto berfoto bersama dengan Direktur Umum Krista Exhibition Daud Salim, Ketua Umum Asosiasi Persepatuan Indonesia (Aprisindo) Eddy Widjanarko, Sekjen Asosiasi Penyamak Kulit Indonesia Ayu Rifka seusai Press Conference Pameran Indo Leather and Footwear (ILF) 2015 di Kementerian Perindustrian, Jakarta, 30 April 2015

FOTO BERSAMA – Dirjen BIM Kemenperin Harjanto berfoto bersama dengan Direktur Umum Krista Exhibition Daud Salim, Ketua Umum Asosiasi Persepatuan Indonesia (Aprisindo) Eddy Widjanarko, Sekjen Asosiasi Penyamak Kulit Indonesia Ayu Rifka seusai Press Conference Pameran Indo Leather and Footwear (ILF) 2015 di Kementerian Perindustrian, Jakarta, 30 April 2015 (tubas/istimewa)

JAKARTA, (tubasmedia.com) – Pameran Indo Leather and Footwear (ILF) 2015 diselenggarakan 7 – 9 Mei 2015, pukul 10.00 – 19.00 WIB, di JIExpo Kemayoran Jakarta. Pameran ini akan diikuti 11 negara, meliputi Indonesia, Tiongkok, India, Italia, Jepang, Malaysia, Taiwan, Thailand, Turki, Spanyol dan Vietnam.

Kementerian Perindustrian mendukung penyelenggaraan pameran Indo Leather and Footwear 2015 dalam rangka pengembangan industri alas kaki dan industri penyamakan kulit nasional. Pameran berskala internasional tersebut akan diikuti 152 peserta dari 11 negara dan diharapkan dapat menampilkan berbagai jenis produk unggulan dalam negeri, seperti, alas kaki, kulit, barang jadi kulit, mesin dan peralatan, serta aksesoris lainnya.

“Event ini merupakan momentum yang sangat penting bagi dunia usaha di bidang industri tersebut dan industri-industri pendukungnya. Hendaknya pameran ini dapat dimanfaatkan secara maksimal dan diharapkan dari pameran ini akan terjadi kerja sama di bidang investasi,” kata Dirjen Basis Industri Manufaktur (BIM) Harjanto pada konferensi pers di Kementerian Perindustrian, Jakarta, pekan lalu.

Menurut Harjanto, selama ini, produk kulit dan produk barang jadi kulit telah memberikan kontribusi positif terhadap PDB nasional sebesar 2,02% serta telah menyerap tenaga kerja 5,5% dari total tenaga kerja industri manufaktur.

“Ke depan industri kulit dan produk kulit didorong menjadi lebih dalam strukturnya, karena industri kulit kita mutunya sudah baik, namun Indonesia belum memiliki brand yang bertaraf internasional,” katanya.

Oleh karena itu, pemerintah memprogramkan pengembangan produk dalam negeri dengan produk yang memiliki brand atau merek bertaraf internasional. Salah satunya dengan mengikutsertakan dalam pameran di luar negeri dan pameran di lima bandara internasional, seperti, di Medan, Jakarta, Yogya, Surabaya, dan Bali.

Ia mengatakan, kerja sama investasi di Indonesia tidak diskriminatif terhadap investasi asing maupun lokal. “Dengan demikian, dapat saya tegaskan bahwa para investor yang akan melakukan investasi tidak perlu ragu untuk melakukan penanaman modal di Indonesia,” ujarnya. (ril/ender)

Berita Terkait

Komentar

Komentar