Pancasila dan NKRI, Harga Mati

Laporan: Redaksi

Ilustrasi

Ilustrasi

DEPOK, (Tubas) – Dalam rangka mengenang proklamator dan presiden pertama RI Bung Karno (1901-1967), Dewan Pimpinan Cabang (DPC) Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDI-P) Kota Depok mengadakan haul di halaman Kantor Sekretariat PDI-P Jalan Margonda, dan merupakan agenda rutin yang mutlak dilaksanakan oleh DPP, DPW, DPC PDIP di seluruh Indonesia, demikian dikatakan Ketua DPC PDI-P Kota Depok, Hendrik Tangke Allo, S.Sos kepada tubasmedia.com di sela-sela acara.

“Selain mengenang Bung Karno, haul ini dilaksanakan dalam rangka memperingati hari lahir Pancasila yang jatuh tanggal 1 Juni, karena tatanan nilai Pancasila sekarang sudah mulai luntur terutama di kalangan kaum muda. Hal itu dikarenakan kurikulum tentang Pancasila di sekolah-sekolah sudah tidak ada lagi,” papar Hendrik.

Hendrik menjelaskan lagi, menanggapi hal tersebut, PDI-P akan mencoba mengembalikan/membangkitkan lagi Pancasila agar terpacu pada diri kalangan muda, salah satunya dengan dialog dan menggiatkan lagi kurikulum tentang Pancasila di sekolah dan upacara hari Senin di sekolah mutlak/wajib dilakukan.

Sejarah telah membuktikan bahwa Bung Karno sebagai proklamator telah membentuk negara ini menjadi negara berideologi Pancasila yang integralistik, yakni yang berketuhanan yang maha esa, berperikemanusiaan yang beradab, persatuan Indonesia, kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dan perwakilan, berkeadilan bagi seluruh rakyat Indonesia.

Sementara itu, dasar bernegara acuannya adalah berdasarkan 4 pilar. Pertama adalah Pancasila sebagai perekat yang dijadikan ideologi Negara. Kedua, Undang-Undang Dasar 1945 sebagai dasar hukum kita dalam tatanan bernegara. Ketiga, adalah bhineka tunggal ika yang juga adalah bagian dari perekat karena masyarakat Indonesia ini sangat heterogen dan pluralis (multi etnis) berbagai suku budaya dan agama ada di dalamnya. Keempat, adalah Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), karena Negara Indonesia dari Sabang sampai Merauke terdiri dari berbagai pulau yang harus konsisten menjaga dan mempertahankan seluruhnya.

Sesuai amanat 1 Juni yang dibacakan Ketua Umum PDI-P, Megawati, bahwa Pancasila telah menjadi roh dan penuntun bangsa, landasan kemajemukan cara berpikir, bertutur dan berperilaku, maka Hendrik berharap ke depan, jiwa Bung Karno tetap terpatri di kader-kader PDI-P dan memberikan motivasi bahwa Pancasila tetap ada.

“Berdasarkan hal itu, Pancasila dan NKRI merupakan harga mati di PDI-P,” tegas Hendrik.

Acara haul tersebut selain dihadiri PAC PDIP dari 11 Kecamatan, juga dihadiri sesepuh PDI-P Kota Depok, Zaeni, Herman Payung dan tokoh muda Bactiar Simanjuntak yang berbagi cerita dan dilanjutkan dengan menyaksikan film dokumenter. (dennie)

Berita Terkait

Komentar

Komentar