Pantura yang Semakin Merana

Oleh: Fauzi Aziz

ilustrasi

ilustrasi

JIKA anda melakukan perjalanan darat dengan kendaraan pribadi ke Jawa Tengah dan Jawa Timur, anda sejak berangkat dari titik awal keberangkatan sudah pantas bersikap was-was penuh spekulasi. Pertama-tama anda akan berfikir seraya berdoa semoga dalam perjalanan semua lancar.

Jakarta-Cirebon rata-rata bisa ditempuh 4-5 jam. Kalau macet dengan berbagai kondisi penyebabnya bisa anda tempuh 7-8 jam. Jika menggunakan jasa KA, Jakarta-Cirebon hanya butuh 2,5 jam. Cirebon-Semarang kalau lancar bisa ditempuh 6-7 jam dan jika macet bisa 8-9 jam.

Naik KA paling hanya butuh waktu tempuh 3 jam. Kondisi jalannya hampir semua rata dalam kondisi tidak mulus, berlobang dan bergelombang. Padahal hari lebaran tahun ini dua bulan lagi dari sekarang yakni 8-9 Agustus 2013. Kemacetan pasti akan lebih parah di banding tahun sebelumnya karena kondisi jalan dan jembatan banyak yang harus divermaak.

Volume kendaraan truk dengan tonase rata-rata 24 ton lebih lalu lalang selama 24 jam tanpa jedah waktu. Kecepatan rata-rata antara 40-50 km per jam. Kalau kendaraan pribadi kecepatan rata-rata antara 70-80 km per jam. Percuma saja jika anda berkendara dengan Ferari atau mobil dengan CC besar. Semua kenikmatan akan sirna dan bukan kenyamanan yang akan diperoleh, tetapi stres dan marah-marah yang akan menimpa diri anda dan keluarga.

Inilah pertanda bahwa ekonomi di negeri ini tumbuh. Jawa menjadi makin berat bebannya. Pertumbuhan ekonomi rata-rata 6% tahun hanya mutar-mutar di Jawa. Total PDB-nya dalam lima tahun terkhir rata-rata 50% disumbang oleh Jawa. Ketimpangan yang bersifat laten makin akan membuat kongesti Jawa tidak terelakkan. Inflasi adalah sebuah keniscayaan karena pergerakkan barang menjadi lambat, penggunaan BBM tinggi, kebutuhan masyarakat tinggi, tetapi infrastrukturnya makin buruk dan tidak berkualitas.

Begitu harga BBM dinaikkan hampir pasti inflasinya akan bertambah. Masyarakat di sepanang Pantura sampai bertanya-tanya, apa gerangan barang yang dibawa truk-truk besar di sepanjang waktu, pagi siang malam tiada henti. Salah satu yang mencuat adalah pertanyaan apakah barang-barang tersebut buatan lokal atau impor atau selundupan.

Sulit menemukan jawabannya karena kita tidak pernah tahu apa isi muatan truk itu. Yang paling kasat mata adalah truk pengangkut sepeda motor dan mobil. Sesekali gulungan baja dari PT Krakatau Steel yang diangkut pakai truk terbuka dan juga KA.

“Kalau yang dibawa adalah barang-barang dari pabrik, mengapa kita-kita ini menganggur ya,’’ ujar masyarakat di sepanjang Pantura.

Jangan-jangan yang banyak diangkut adalah barang impor dan barang selundupan seperti banyak dikeluhkan. Kisah singkatnya mereka sebagai mahluk ekonomi nalar sehatnya muncul. ‘’Kalau begitu kita buka saja warung nasi kecil-kecilan untuk memenuhi kebutuhan para sopir dan kenek,’’sambung mereka.

Namanya mengadu nasib, tidak semuanya laku dan mereka ini juga masih harus bersaing dengan warung/restoran yang lebih besar yang menjamur berdiri di sepanjang pantura.

Kisah duka cita di sepanjang Pantura ini saban tahun tiada pernah berhenti dan terus berulang. Pertumbuhan ekonomi yang kita bangga-banggakan ternyata hanya memperbesar jumlah manusia yang hidup dari sektor informal. Satu-satunya penyelamat agar Jawa tidak tenggelam akibat parahnya sistem ekonomi dan sistem pendukungnya, pembangunan di luar Jawa harus menjadi prioritas tinggi.

Pembangunan infrastruktur adalah satu-satunya yang prioritas. Penyelamatan di Jawa dilakukan dengan segera menuntaskan proyek double track lintas utara dan selatan. Pemanfatan jalur laut secara maksimal harus dimulai dari sekarang untuk angkutan barang dari Jawa ke Sumatera dan tujuan lain. Selain itu harus tetap dilakukan pemeliharaan infrastruktur jalan, jembatan dan pelabuhan.

Pemerintah dengan instrumen kebijakan yang dikuasainya harus berani melakukan re-alokasi sumber daya. Antara lain insentif investasi regional harus dibuat lebih menarik dibandingkan investasi di Jawa. Patronnya mengikuti konsep MP3EI jika tidak digusur oleh rezim mendatang.

Restrukturisasi APBN sudah sangat mendesak. Secara garis besar harus difokuskan kepada tiga pembiayaan besar, yakni belanja pegawai/belanja rutin (25%); belanja investasi pisik/infrastruktur (50%);dan Jaring pengaman sosial (25%) dari total APBN/APBD tiap tahun. Sekarang ini banyak yang tumpang tindih dari posting belanja karena dibagi habis per K/L.

Fungsi alokasi, fungsi distribusi dan fungsi pertumbuhan harus benar-benar diperhatikan makna dan implemetasinya oleh pemerintah dan DPR. Bukan hal yang mengagetkan kalau Bank Indonesia memprekdisi inflasi di sepanjang tahun 2013 akan mencapai 7,76%. Tidak heran pula kalau posisi neraca pembayaran mengalami tekanan yang permanen, baik dalam lalu lintas ekspor-impor maupun dalam lalu lintas modal asing yang masuk dan keluar.

Tahun 2012 lalu, neraca transaksi berjalan mengalami defisit sebesar USD 24,183 miliar atau 2,7% dari PDB. Untungnya defisit tersebut masih bisa ditutup oleh surplus neraca modal dan finansial sebesar USD 24,911miliar. Jalan lintas Sumatera, Kalimantan dan Sulawesi kondisinya juga kurang lebih sama dengan yang terjadi di Jawa.

Cerita singkat ini memberikan sebuah pemahaman bahwa ekonomi tumbuh tapi pertumbuhannya harus dibayar dengan biaya mahal. Mudah-mudahan Indonesia masih bisa bertahan ketika FTA Asean berjalan tahun depan. Pekerja informal yang jualan nasi pecel, warteg di sepanjang Pantura tidak ikut punah karena hadirnya gerai-gerai fast food ala Thailand dll di sepanjang rest area yang ada di jalur Pantura.

Sekarang ini kita tidak boleh tenggelam dengan teori dan asumsi dan hitung-hitungan statistik yang njelimet. Faktanya sudah sangat jelas bahwa yang dibutuhkan adalah eksekusi agar problem akut infrastruktur dapat segera dipecahkan. Kita butuh pengorbanan agar negeri ini bisa berbenah. KKN harus dibumihanguskan karena negara tidak bisa membangun disebabkan endemi KKN makin merajalela sampai ke tulang sumsum.

Sebelum mengakhiri masa jabatannya sebagai presiden, sangat dianjurkan kepada pak SBY dan beberapa menteri jalan darat menuju Cirebon dan berakhir di emarang tanpa harus banyak mengikutsertakan pengawalan agar dapat menikmati betapa tidak nyamannya berlalu lintas di Pantura Jawa. Kalau naik KA kan sudah pernah dilakukan sampai ke Pekalongan pada saat hari koperasi beberapa tahun yang lalu pada KIB-I. ***

Berita Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published.