Pasar Lokal Dikuasai, Pasar Ekspor Ditingkatkan

Oleh: Fauzi Azis

Ilustrasi

NEGARA besar seperti Indonesia yang terdiri dari 17.000 pulau dengan jumlah penduduk sekitar 237 jiwa harus menerapkan strategi pembangunan ekonomi. Inilah salah satu strategi yang dijalankan Jepang di akhir abad 19 dan juga yang dilakukan China dan India.

Meskipun tidak harus meng-copy paste model pembangunan di Jepang, India maupun China, pendekatan strategik seperti itu buat Indonesia cukup masuk akal dikembangkan. Menguasai pasar dalam negeri berarti bermakna bahwa sebagian besar kebutuhan, baik untuk keperluan investasi, pembangunan maupun untuk keperluan konsumsi dipenuhi dari hasil produksi negara yang bersangkutan.

Sekaligus dengan demikian memberikan landasan yang kuat untuk membangun potensi ekspor. Esensinya adalah di satu pihak Indonesia sangat berkepentingan untuk membangun efisiensi perekonomian nasionalnya dan di lain pihak untuk senantiasa menghasilkan surplus neraca perdagangan maupun surplus neraca transaksi berjalan.

Menguasai pasar dalam negeri sulit akan menjadi sebuah kenyataan tanpa didukung oleh adanya sistem perekonomian yang efisien. Modalitas dan landasannya ada di situ. Tekanan terhadap posisi neraca perdagangan dan neraca transaksi berjalan akan terjadi setiap saat bila perekonomian nasional tidak efisien.

Begitu pula berbicara tentang peningkatan ekspor akan lebih berpotensi bilamana sistem ekonomi domestiknya sangat efisien sehingga produk ekspor kita menjadi berdaya saing. Kita tahu bahwa sampai hari ini kita masih punya problem high cost economy, penyakit menahun yang sepertinya sulit disembuhkan.

Semua menyadari adanya penyakit ini, tapi nyaris tidak ada satupun dokter ahli yang dapat menyembuhkannya. Problem utamanya adalah masalah birokrasi, tapi reformasinya setengah hati dan cenderung parsial dan ad hoc cara penangannya. Harmonisasi peraturan perundangan juga ada masalah.

Isu besarnya adalah tumpang tindih, ditambah law enforcementnya lemah. Banyak soal menggantung tak terselesaikan karena soal ketidak pastian hukum. Infrastruktur juga masih menjadi hambatan besar. Tidak terbayangkan kalau nanti pada tahun 2015 Asean free trade terjadi apakah kita dapat lolos menjadi the winner, sementara problem internal di negeri ini masih menghadapi soal rendahnya efisiensi nasional.

Open economy policy yang dianut oleh negeri ini sejak kita tunduk patuh kepada fatwa IMF ternyata tidak membawa terjadinya perubahan signifikan dalam efisiensi sistem ekonomi nasional. Tetap saja high cost. Tantangan dan masalah pokok dalam sistem nasional yang kita harus jawab bersama adalah bagaimana mengubah ekonomi yang high cost ke sistem yang serba low cost alias efisien.

Arogansi sektoral masih menonjol, isu regulasi yang dianggap menghambat daya saing ekonomi nyaris tak tertangani. Situasinya tidak lebih baik dari kebijakan ekonomi yang pernah dilakukan oleh pemerintah orba di tahun 80-an sampai dengan tahun 90-an sebelum akhirnya pada tahun 1998 Indonesia dihantam krisis.

Arogansi sektoral terkesan dibiarkan berlangsung. Pada akhirnya penyiasatan yang dilakukan adalah mengotak-atik perencanaan nasional. Bukan malah mengeksekusi berbagai kebijakan penting dan strategis untuk mengatasi problem daya saing ekonomi nasional. Banyak persoalan di hulu yang mesti kita perbaiki.

Indonesia suka tidak suka harus berani melakukan positioning dalam kebijakan ekonomi untuk menyehatkan perekonomian nasional. Harus berani melakukan progam re-writing the rules, termasuk mengharmonisasi berbagai peraturan perundangan yang tumpang tindih dan reformasi birokrasi yang sepenuh hati.

Hanya dengan cara ini Indonesia akan dapat menguasai pasar dalam negeri dan sekaligus dapat meningkatkan ekspornya di masa yang akan datang. Tugas presiden tahun 2014 pasti akan berat bebannya karena warisan yang diterima sebagian besar masih berupa rencana. Sementara itu tahun 2015 laga pasar bebas Asean akan dimulai.

Berarti satu tahun pertama presiden terpilih di tahun 2014 hampir pasti tak akan bisa tidur pulas. Semoga pula tidak salah pilih dalam mengangkat para menterinya. Pilih sosok yang cerdas dan yang unggul serta lebih banyak meluang waktunya untuk bekerja dari pada lebih banyak omong.***

Berita Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published.