Pasokan dan Kebutuhan Dolar AS

Oleh: Fauzi Aziz

Ilustrasi

Ilustrasi

MATA uang, kalau sudah berfungsi sebagai mata dagangan selain berfungsi sebagai alat pembayaran yang sah, resikonya dilihat dari aspek pasokan dan kebutuhan, memang bisa naik turun nilainya. Ekonomi Indonesia yang menganut sistem yang liberal dan terbuka, tidak bisa mengelak dari jebakan-jebakan yang terjadi di pasar uang.

Kasihan Bank Indonesia sebagai penjaga gawang agar sistem moneter nasional tidak goyang dan roboh. Mari kita coba urai untuk apa saja kebutuhan dolar AS diperlukan. Membiayai impor migas harus pakai dolar, bayar hutang (pokok pinjaman dan bunga) negara dan swasta yang jatuh tempo harus pakai dolar AS, impor barang modal, bahan baku/penolong, komponen/suku cadang dan barang konsumsi (yang legal maupun ilegal) dibayar pakai dolar. sogok, suap dan korupsi maunya dibayar pakai dolar.

Berwisata ke luar negeri, termasuk yang akan menjalankan ibadah umroh dan haji, sebagian ada yang bayar pakai dolar dan sejumlah keperluan lainnya. Sayangnya, negeri ini belum terlalu berhasil menjadi pemasok dolar (bukan pencetak mata uang dolar) karena berekonomi di Indonesia ini ongkosnya relatif mahal yang berakibat pada rendahnya daya saing.

Negeri ini menjadi “pemboros” dalam penggunaan devisa. Cadangan devisa yang dikelola BI dalam dua tahun terakhir, nilainya hanya pada kisaran antara USD 100-115 miliar. Pada kurun yang sama, nilai impor saja berada pada kisaran antara USD 36-46 (sumber, Kompas 30 Januari 2013).

Dilihat dari sisi pasokan dan kebutuhan dolar AS saja yang cenderung mudah berfluktuasi dalam jangka pendek, sebenarnya ekonomi dalam negeri tidak kuat-kuat amat untuk menopang tekanan, baik yang datang dari dalam maupun dari luar. Cadangan devisa kita tidak bisa digunakan untuk membangun dan memelihara infrastruktur, paling-paling hanya cukup untuk sekedar melakukan intervensi moneter bila terjadi inflasi inti dan menutup kebutuhan impor 4-6 bulan.

Dari gambaran sederhana yang seperti itu, maka bagi orang awam tentu berfikir bahwa ternyata negara ini hanya memiliki tabungan (baca cadangan devisa) tidak besar-besar amat. Bandingkan dengan China yang cadangan devisanya bisa mencapai sekitar USD 3 triliun lebih.

Sebagai yang awam terhadap masalah ekonomi makro, sekarang ini baru ngeh dan tidak terlalu percaya bahwa fondamental ekonomi Indonesia bagus dan aman. Pengambil kebijakan ekonomi selalu mengatakan bahwa kita beruntung, ekonomi nasional tidak terlalu bergantung dari ekspor karena ekspor kita hanya sekitar 30% dari GDP.

Ekonomi di negeri ini lebih banyak bergantung pada kekuatan konsumsi domestik. Tenang dan tidak perlu khawatir wahai rakyatku. Padahal belanja konsumsi domestiknya juga menjadi pengguna dolar yang tidak sedikit karena sebagian dari mereka adalah pengguna barang impor, yang perburuannya tidak hanya dilakukan di mal di dalam negeri, namun juga di luar negeri. belum yang dilakukan secara online.

Oleh sebab itu, opini ini menjadi berfikir dimana letak “kesalahannya”? Berani nggak cara berfikir dalam membangun ekonomi Indonesia sudut pandangnya kita geser, yakni bukan lagi pertumbuhan yang kita kejar, tetapi membangun daya saing perekonomian nasional yang kita tuju agar bangsa dan negara ini bisa memiliki tabungan/cadangan devisa yang banyak sekali, sehingga hidup kita bisa tenang.

Dengan daya saing yang tinggi lebih menjamin banyak orang yang bisa bekerja di bandingkan dengan pertumbuhan ekonomi tinggi, tapi penggangguran juga tetap tinggi. Daya saing yang tinggi hampir pasti pertumbuhan ekonomi akan bisa diraih. Jadi tergetnya bukan mengejar perrtumbuhan 6% atau 7%, tapi targetnya adalah mematok besarnya nilai cadangan devisa yang akan diraih di setiap tahun agar negeri ini pasokan devisanya tidak cekak dan bisa membangun ekonominya dengan dananya sendiri. ***

Berita Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published.