Pecundang-pecundang Politik Mengacau Keadaan

Oleh: Sabar Hutasoit

 

JELAS dan nyata, di depan mata lagi, negeri kita ini sedang ditimpa musibah besar virus corona seperti yang dialami negara-negara lain di muka bumi ini. Sudah pasti wabah virus corona ini tidak hanya mengancam kesehatan tapi juga seluruh sendi-sendi kehidupan.

Sudah barang tentu juga semua pihak seharusnya memberi perhatian serius dan fokus untuk mencari jalan keluar melawan serbuan virus mematikan dari si corona.

Namun apa yang terjadi. Di tengah sibuknya pemerintah dan pihak-pihak lain mencari terobosan untuk melawan virus corona yang mengancam kehidupan manusia, ada saja pihak yang lebih tepat disebut pecundang politik yang lebih senang mengecoh ketimbang membantu mengatasi masalah yang sangat krusial tersebut.

Mereka lebih puas mengeluarkan kata-kata atau pendapat yang isinya nyinyir ketimbang membantu bagaimana cara melawan virus corona. Pecundang-pecundang politik serta beberapa orang yang memperkenalkan dirinya sebagai cendikiawan, asyik melontarkan kata-kata yang tidak peduli dengan penderitaan rakyat.

Mereka asyik dengan pikirannya dan ngawur dan sering tak ada hubungannya dengan virus yang sedang melanda negeri kita yang kita cintainya ini.

Tulisan ini sama sekali tidak ada niat membela pemerintah. Akan tetapi, secara logika jika sebuah negara sedang menghadapi bencana alam dan bencana terjadi diyakini terjadi bukan karena kesalahan pemerintah tapi memang murni bencana alam dan seluruh negara di muka bumi ini mengalaminya, apa salahnya  jika semua insan yang ada di NKRI ini bahu-membahu untuk menghadapi masalah tersebut.

Jangan pula yang lain sedang sibuk mencari jalan keluar tapi ada kelompok yang sibuk melontarkan ocehan yang terus terang tidak ada konotasinya dengan masalah dan kritikannya-pun tak ada bobot selain hanya karena sirik dan benci.

Ada juga penyumbang alat kesehatan yang memanfataakn situasi ini menjadi ajang promosi partainya dimana pada kotak-koak banuan dibubuhi dengan lambang partainya. Sepertinya kurang etis menimba keuntungan ditengah-tengah penderitaan rakyat.

Para pecundang politik itu tidak melihat bagaimana pengorbanan para tenaga medis, dokter dan perawat yang mempertaruhkan nyawanya hanya untuk menolong para korban corona.

Tidak sedikit dokter dan perawat yang meregang nyawa hanya untuk menolong para korban corona. Dokter dan perawat itu tanpa pamrih mempertaruhkan nyawanya sementara para pecundang politik enak saja memberi komentar yang tak ada isinya selain hanya karena membenci pemerintah.

Para komentator abal-abal itu menjadi tidak peduli lagi terhadap penderitaan rakyat. Terbukti, mereka tidak pernah terlibat mencari jalan keluar melawan ancaman mematikan dari virus corona. Mereka asyik menikmati gaji yang diambil dari kocek rakyat dan duduk di ruang berhawa dingin dengan kursi empuk sementara rakyat yang menggaji mereka sudah pusin tujuh kelililing menghadapi ancaman mematikan tersebut. (penulis seorang wartawan tinggal di Jakarta)

 

 

 

 

 

Berita Terkait

Komentar

Komentar