Pelebaran Jalan

Oleh : Sabar Hutasoit

Ilustrasi

Ilustrasi

ADALAH suatu keanehan jika untuk menempuh perjalanan Cisarua, Bogor – Jakarta yang jaraknya hanya 84 kilometer itu harus memakan waktu lima jam. Sekali lagi lima jam. Normalnya jika untuk jarak 84 kilometer rasanya cukuplah satu setengah jam dan jika macet paling lama dua jam.

Tapi itulah kenyataannya. Seluruh kendaraan yang memadati badan jalan tol Jagorawi stagnan tak bergerak dan kalaupun bergerak bak semut yang sedang merayap dan hampir-hampir seluruh badan jaln tol tersebut tertutupi oleh kendaraan yang merayap.

Maka tak ayal lagi, orang-orang yang terjebak kemacetan itu, khususnya para pengemudi mengeluarkan ungkapan kekesalan. Wajar saja itu omelan meluncur dari mulut para driver sebab kaki mereka sebentar-sebentar menginjak pedal rem dan pedal gas.

Terlihat memang di kiri kanan jalan tol Jagorawi ada proyek pelebaran jalan. Pelebaran jalan itu katanya 2 x 4 meter. Alat-alat berat seperti traktor sudah terlihat membombardir tanah merah di pinggir tol. Tidak hanya itu, pohon-pohon rindang nan hijau yang memberi keteduhan selama ini sudah dibongkar habis, dicerabut dari tanah.

Sudah barang tentu, tujuan pemilik proyek pelebaran jalan itu adalah untuk mengurangi kemacetan sebab jika dimaksud untuk mencegah kemacetan, proyek tersebut tidak akan mampu menjawabnya. Pasalnya, jumlah pertambahan armada tidak sebanding dengan jalan yang diperlebar.

Pertanyaan kita atas penyediaan infrastruktur jalan raya di tol Jagorawi, apakah pengelola jalan yang setiap hari menghasilkan uang itu tidak mempunyai grand design sepuluh atau dua puluh tahun ke depan untuk mengantisipasi kemacetan. Tampaknya gaya pelebaran jalan yang terjadi saat ini teramat sumir.

Artinya, jika saat ini badan jalan diperlebar seluas 2 x 4 meter, sudahkah diprediksi bahwa pelebaran jalan itu hanya bisa bertahan sekian bulan atau sekian tahun saja? Lalu setelah lima tahun kemudian akan diperlebar lagi?

Hanya sebagai catatan saja. Kini sejumlah menteri dan pejabat negara sudah semakin gerah melihat penyediaan infrastruktur di negeri kita tercinta ini. Jangankan investor asing, pengusaha dalam negeri saja sudah mengeluh akan minimnya infrastruktur.

Bayangkan saja, jika sekiranya pembawa hasil bumi dari Cisarua-Jakarta harus bermacet ria selama lima jam yang seharusnya bisa ditempuh paling lama dua jam, logistic cost pasti membengkak. Belum lagi mutu barang dagangannya menjadi rendah karena berpanas-panasan selama lima jam di jalan raya.

Tidak hanya itu, arus barang dari produsen ke konsumen menjadi terlambat bahkan total biaya produksi atas produk tersebut menjadi membengkak.

Dalam kaitan ingin menarik investor asing masuk ke Indonesia, tampaknya gaya dan strategi pembangunan badan jalan atau infrastruktur perlu ditinjau. Barangkali perluasan jalan bukan lagi ke kiri atau kanan jalan, tapi mungkin jalan bawah tanah. ***

Berita Terkait

Komentar

Komentar