Pembedaan, Kunci bagi Perusahaan dan Investor

kredit

JAKARTA, (tubasmedia.com) – Credit Suisse Research Institute menerbitkan hasil survei tahunan ke-lima tentang konsumen di negara-negara berkembang. Survei ini merupakan sebuah kajian mendalam mengenai sentimen konsumen di negara-negara berkembang serta faktor-faktor pendorongnya.

Kajian tersebut memberi pemahaman terkini mengenai sentimen konsumen dan pola konsumsi masa depan pada saat negara-negara berkembang menjadi sorotan perhatian terkait tingkat pertumbuhan yang melambat dan berbagai tantangan baru yang disebabkan harga komoditas saat ini serta gejolak kurs mata uang asing.

Dalam survei kali ini, Credit Suisse kembali bekerjasama dengan perusahaan riset pasar global Nielsen untuk melakukan wawancara tatap muka terhadap hampir 16.000 konsumen di sembilan negara, yaitu Brazil, Tiongkok, India, Indonesia, Meksiko, Rusia, Arab Saudi, Afrika Selatan, dan Turki.

Riset ini memiliki keunikan dalam menetapkan tolak ukur perilaku konsumen di negara-negara tersebut secara konsisten dan terperinci, dengan mengajukan sekitar 100 pertanyaan untuk membentuk profil perincian mengenai kebiasaan berbelanja konsumen, rencana mereka di masa depan, dan faktor-faktor yang mempengaruhi mereka.

“Survei kami memberikan analisis yang unik dan rinci mengenai sentimen konsumen di negara-negara berkembang. Saat banyak perusahaan lain meneliti prospek makro negara berkembang di tengah gejolak yang terjadi saat ini, analisis yang kami lakukan menggunakan metode dari bawah ke atas menyoroti betapa berbedanya sentimen konsumen,” kata Global Co-Head Securities and Analytics Research Credit Suisse, Stefano Natella, Jumat (13/2/15).

Pembedaan, bukan penyeragaman, adalah kunci bagi perusahaan dan investor. Analisis dalam laporan ini serta berbagai data terkait menggarisbawahi ambisi Credit Suisse Research Institute untuk memberikan pemahaman unik yang akan membantu klien mereka memutuskan investasi dan strategi perusahaan.

Global Head of Research for Private Banking and Wealth Management Credit Suisse, Giles Keating mengatakan, survei ini menunjukkan dampak yang saling bertentangan dari anjloknya harga minyak dunia di negara-negara berkembang. Sentimen konsumen di Rusia dan pusat-pusat ekonomi di Amerika Latin mendapat tekanan. Sebaliknya, sentimen konsumen di India sangat kuat, karena ditopang oleh reformasi.

“Secara keseluruhan, kesempatan investasi secara struktural di negara-negara ini masih ada, walau tetap rentan,” imbuhnya.

Luasnya rentang pertanyaan survei membantu Credit Suisse mengukur sentimen konsumen di sembilan negara yang disurvei, dengan membandingkan tingkat ekspektasi terhadap kondisi keuangan pribadi, ekspektasi terhadap inflasi, dan kecenderungan pendapatan rumah tangga dengan rencana belanja mereka.

India menempati urutan pertama dalam “Credit Suisse Emerging Scorecard 2015”, naik dari peringkat keempat tahun lalu. Kinerja India yang konsisten telah membuahkan hasil dan menjadikannya satu-satunya negara yang menempati posisi tiga teratas di setiap indikator utama yang disebutkan di atas.

Tiongkok turun ke posisi kelima dari peringkat pertama tahun lalu. Meski cenderung mendominasi setiap perdebatan mengenai negara-negara berkembang, daya tarik Tiongkok dinilai para analis Credit Suisse mulai berkurang. Meskipun demikian, Tiongkok tetap masih jauh dari sumber kerentanan konsumen di negara berkembang. Rusia dan Afrika Selatan merupakan sumber terbesar kerentanan tersebut.

Laporan ini menganalisis negara dan konsumen yang paling rentan terhadap gejolak harga komoditas dan kurs mata uang. India, Turki, dan Tiongkok tidak terkena dampak langsung dibandingkan Rusia, Amerika Latin, dan Afrika Selatan.

Sebagai negara pengimpor minyak, Indonesia diperkirakan akan memperoleh keuntungan dari rendahnya harga minyak. Survei ini memperlihatkan bahwa penduduk Indonesia tetap relatif lebih optimis dibandingkan dengan penduduk negara-negara berkembang lain. Secara keseluruhan, Indonesia mempertahankan posisi di peringkat ketiganya pada “Credit Suisse Emerging Consumer Scorecard 2015” dan menempati peringkat kedua dalam ekspektasi pendapatan dan kondisi keuangan pribadi di masa depan.

“Tingginya optimisme Indonesia ini kemungkinan besar disebabkan oleh suksesnya pemilihan anggota DPR dan presiden dalam pemerintahan baru yang terbentuk pada Oktober 2014,” kata Stefano. (angga)

Berita Terkait

Komentar

Komentar