Pembinaan IKM Melalui OVOP, Memiliki Tiga Pilar

JAKARTA, (tubasmedia.com) – Pembinaan Industri Kecil dan Menengah (IKM) di sentra melalui pendekatan One Village One Product (OVOP) memiliki tiga pilar yang menjadi prinsip dasar.

Ketiga pilar itu adalah, yang pertama local yet global, artinya mengupayakan potensi lokal untuk menghasilkan produk yang berdaya saing global.

Prinsip kedua adalah self reliance and creativity, bagaimana menekankan bahwa kemandirian masyarakat setempat menjadi motor pendorong utama dalam program OVOP dan ketiga adalah human resource development, yaitu bagaimana pengembangan sumber daya manusia berperan penting akan sukses atau tidaknya program OVOP.

Hal itu dikatakan Direktur Jenderal Industri Kecil Menengah dan Aneka (IKMA) Kemenperin, Gati Wibawaningsih saat sosialisasi OVOP secara virtual, Kamis (15/7/2021).

Sebagaimana diketahui, Kementerian Perindustrian mengadopsi program OVOP dari Jepang tahun 2007 dengan tujuan untuk melakukan pembinaan terhadap IKM yang berbasis sentra.

Pembinaan tersebut  kata Gati telah berkembang melalui berbagai pendekatan dan OVOP dinilai tepat karena model pembinaan ini memiliki semangat untuk mengangkat potensi daerah yang memiliki kearifan lokal.

“Bisa menghasilkan produk yang berdaya saing dan juga bisa diterima oleh pasar, baik pasar dalam negeri maupun pasar global,” lanjut Gati Wibawaningsih

Disebutkan, mulai 2013, Kementerian Perindustrian telah memberikan penghargaan OVOP kepada IKM dengan beberapa kriteria yang harus dipenuhi.

Kemenperin juga akan memberikan bintang sesuai hasil penilaiannya, serta ada lima kelompok komoditi, yakni makanan dan minuman, kain tenun, kain batik, anyaman, serta gerabah.

IKM di pedesaan sebelumnya disebut butuh jaringan sistemik agar produk pangan dari pedesaan mampu menjangkau pasar lebih luas. Salah satunya yakni dengan membangun jaringan pasar, setidaknya di tingkat regional.

Konsep OVOP dinilai sangat tepat diterapkan untuk mengantisipasi produk yang sama dari IKM. Keberagaman produk akan memastikan pemasaran terkendali lantaran produksi yang stabil. Pasalnya tidak ada produk yang over, sehingga antar daerah bisa saling membutuhkan produk masing-masing. (sabar)

 

Berita Terkait

Komentar

Komentar