Pemimpin yang Tidak Memimpin

sang-pemimpin-kehidupan

Oleh: Fauzi Aziz

NEGERI ini besar sebagai wilayah kepulauan. Ada koridor Sumatera, Jawa, Bali dan Nusa Tenggara, Kalimantan, Sulawesi, Maluku dan Papua. Keseleruhan dihuni sekitar 247 juta penduduk. Kepadatan paling terbesar ada di Jawa. Saking padatnya, pulau ini seperti nyaris tenggelam.

Seperti kapal mau pecah. Masalah sosial paling banyak terjadi di pulau ini dengan berbagai penyebabnya. Indonesia mempunyai banyak pemimpin, baik formal maupun informal dengan beragam derajat kualitas dan kompotensi. Ada marah-marah kerjanya saban hari dan jika nggak marah malah stres.

Pemimpin oh… pemimpin Apa yang dikau pikirkan ketika harus menjalankan tugas kepemimpinanmu. Siapa sejatinya yang sedang engkau pimpin, apakah rakyat yang berjumlah 247 juta jiwa atau hanya memimpin sejumlah kerabat dekat dan kroni-kroninya. Hanya dikau wahai para pemimpin yang tahu dan rumput kering yang sudah malas bergoyang.

Sahdan memang sepertinya kita mempunyai banyak pemimpin, teta pi banyak tidak memimpin. Memimpin dirinya saja tidak mampu, apalagi memimpin orang banyak. Kalau pemimpin hanya bisanya marah setiap hari, barangkali dia gagal menjadi pemimpin untuk dirinya. Gagal/ tidak berhasil mengendalikan nafsu amarahnya. Padahal marah-marah adalah perilaku setan/iblis.

Ya Tuhan kasihan banget. Khawatir kebablasan, kita cegah pemimpin seperti itu tidak memarahi Tuhannya. Semoga jalannya selalu terbimbing di jalan yang dikehendaki Tuhan dan bukan dibimbing oleh pikiran dan kelakuan setan/iblis. Pemarah berarti stres, semoga tidak terkena sizoprenia.

Bahaya sekali kalau seperti itu karena yang berseberangan dianggap musuh.Yang mengkritik dilawan dan dikata-katain.menipu, tidak sekolah atau goblok. Pemimpin seperti ini memang senang menabuh genderang perang. Dirinya menganggap benar. Orang lain salah. Entah kitab apa yang dibaca, kok tega-teganya semua orang dimusuhi.

Lantas teman dekatnya sopo? Tentu setan bukan jin. Kalau berteman dengan jin, memang banyak jin yang elegan, sabar dan baik perangainya. Berteman dengan setan kalau semakin ditekan akan semakin tertekan dan kanalisasinya adalah marah-marah, gebrak meja, banting gelas plastik, jarinya nuding-nuding, matanya melotot dan mulutnya bergetar karena sedang menyuarakan nasehat setan.

Inilah persepsi dan opini warga negara. Pemimpin adalah sosok yang matang dalam berfikir dan bertindak. Yang adil dan bijaksana dan yang amanah, jujur dan berkepribadian agung. Bisa ngemong, bisa mendidik dan welas asih. Ojo waton suloyo kalau jadi pemimpin karena tugas dan tanggungjawabnya memimpin.

Setiap pemimpin pasti akan dimintai pertanggungjawaban oleh Yang Maha Kuasa. Biso mikul duwur mendem jero, kanti saged dados panutan. Jangan kemilikan kalau melihat uang dan wanita cantik yang bukan miliknya. Nanti mundak ciloko. Nggak ada hujan nggak ada angin, tahu-tahu kena operasi tangkap tangan (OTT) KPK malah jadi sengsara. Tapi ternyata para pemimpin yang korup senang hidup seperti itu karena menjadi pengikut aliran sesat yakni, “Sengsara Membawa Nikmat.

Disuruh pakai baju orannge masih bisa cengengesan. Semoga Indonesia menjadi negeri yang perjalanan hidupnya selalu terpimpin oleh para pemimpin yang benar-benar bisa memimpin. Memimpin dirinya, memimpin keluarganya dan memimpin warga negaranya agar Indonesia bisa diselamatkan dari kemunduran akibat pemimpinnya tidak becus memimpin. (penulis adalah pemerhati masalah sosial)

Berita Terkait