Pengamat: Amien Rais Inkonsisten dalam Berpolitik

0958490AMIEN-RAIS780x390

JAKARTA, (tubasmedia.com) – Pengamat Politik dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Siti Zuhro, menyesalkan inkonsistensi Ketua Majelis Pertimbangan PAN Amien Rais dalam berpolitik. Sebagai salah satu orang yang mendorong lahirnya reformasi, sikap politik Amien Rais saat ini menurutnya justru tidak menunjukkan sikap reformis yang dulu digadang-gadang olehnya.

“Dia dulu bilang jangan kolusi dan nepotisme dan harus ada regenerasi dalam kepemimpinan.Tapi pada prakteknya sejak PAN dilahirkan, Amien tidak pernah mau lepas dari PAN dan melakukan regenerasi. Bahkan saat ini dirinya ikut mendorong besannya, Zulkifly Hasan secara terang-terangan yang membuat kesan dirinya sangat kolutif dan nepotis,” ujar Siti ketika dihubungi wartawan, Minggu (1/3/2015) Amien sebagai seorang tokoh seharusnya tidak memihak kepada salah satu kadernya dalam perebutan tampuk ketua umum di PAN. Amien seharusnya bisa menjadi tokoh pemersatu di PAN, sehingga perpecahan seperti yang terjadi di partai lain tidak terjadi dalam tubuh PAN.

“Proses reformasi di PAN saya lihat hanya basa basi saja kalau Amien justru turut serta.Dia seharusnya jadi pemersatu bukan malah memecah belah partai yang didirikannya.Apalagi PAN dikenal sebagai salah satu partai reformis. Dimana reformasinya kalau Amien terus-terusan dalam partai dan terus ikut menentukan siapa ketua umum PAN,” imbuhnya.

Dia pun mengkritik Amien Rais yang sesumbar menegaskan bahwa pemilihan di PAN akan dilakukan dengan cara damai.Kalau memang mau dijalankan secara damai, Amie jelasnya seharusnya tidak ikut memprovokasi dan menjelek-jelekkan kandidat lainnya. Apalagi jika dia mengatakan salah satu calon yaitu Hatta Radjasa sebagai pembohong. “Amien bilang ada ketua umum yang bohong, tapi dia bilang lupa namanya. Semua orang tahu itu Hatta Radjasa, kenapa juga dia bohong dengan mengatakan lupa namanya?,” bebernya. Amien harusnya berada diatas dua sosok ini, tidak berat sebelah. Kalau tidak membela pun sudah ketahuan dia besan salah satu calon.

Toh kedua calon itu relatif bisa diterima jika menang dengan demokratis karena kader PAN tahu kualitas masing-masing calon, jadi jangan dirusak oleh keberpihakan Amien karena nepotisme. “Setelah besannya siapa lagi?Anaknya yang juga mantu salah satu kandidat ketum?Sama saja bohong, politik jadi gersang teladan. Amien seharusnya mendorong kontestasi yang sehat antar kader sehingga siapapun yang menang akan senang karena didukung kader secara alamiah dan yang kalah juga tidak merasa sedih, karena memang kader menginginkannya,” tegasnya.

Terakhir dirinya pun mengingatkan Amien untuk mencontoh khulafaul rosyidin yang tidak mau menunjuk anak atau keluarganya untuk menjadi penggantinya. Amien harusnya sadar bahwa dengan keberpihakannya pada salah satu calon justru akan membuatnya malu. Kalau Zulkifli , yang didukungnya menang tipis, dia akan malu karena artinya pengaruhnya tidak lagi kuat,apalagi kalau Zulkifly kalah.

“Lagipula sejak awal berdirinya PAN tidak pernah bergeser dari posisi ke 5 dalam pemilu.Apakah ini artinya masyarakat sudah tidak percaya pada Amien ?Kok partai reformasi bisa kalah terus sama partai baru seperti Partai Demokrat dan Partai Gerindra? Jangan terus mengulang apa yang sudah terjadi. Jika pada periode lalu dia mendukung Hatta untuk aklamasi, sekarang harusnya dia tidak lakukan itu lagi. Toh kedua calon menurut saya oke semua,” tandasnya. (nisa)

Berita Terkait

Komentar

Komentar