Pengamat: Tidak Yakin Menkeu Kabulkan Permintaan Pajak Mobil Nol Persen

(JAKARTA, (tubasmedia.com) – Usulan relaksasi mendongkrak penjualan mobil baru melalui potongan pajak hingga nol persen yang diminta Menteri Perindustrian (Menperin) Agus Gumiwang Kartasasmita, hingga kini masih menjadi wacana lantaran tak ada kepastian.

Di sisi lain, minat konsumen untuk membeli mobil dengan harga murah terlihat cukup besar. Dampak dari informasi yang sudah beredar luas tapi belum ada keputusannya tersebut, kini seakan menjadi bola panas bagi agen pemegang merek (APM).

Pasalnya, banyak calon konsumen yang menunda beli mobil untuk menanti stimulus, dengan harapan mendapatkan harga yang lebih murah. Lalu, apakah mungkin pemerintah bakal benar-benar memberikan relaksasi pajak hingga nol persen untuk mobil baru ?

Menyinggung hal tersebut, pengamat otomotif Bebin Djuana mengatakan, bila usulan tersebut agak tidak mungkin diwujudkan, apalagi bila semua pajak benar-benar dipangkas hingga nol persen.

“Saya melihatnya rada mustahil, idenya bagus walaupun belum jelas. Ini yang akan dihapus apanya, kalau semua ya tidak mungkin lah, masa negara tidak terima apa-apa,” kata Bebin seperi dilaporkan Kompas.com, Jumat (25/9/2020).

Menurut Bebin, stimulus ini akan lebih masuk akal misalnya diarahkan ke pemerintah daerah (Pemda) atau provinsi (Pemprov). Konteksnya tentu berkaitan soal diskon perpajakan yang ada di Surat Tanda Kendaraan Bermotor (STNK) yang memang menyangkut pendapatan daerah.

Tentu, secara nominal besaran potongannya akan bervariasi di tiap daerah, tergantung bagaimana kebijakan yang diambil oleh masing-masing kepala daerahnya.

“Cara itu justru lebih baik, tapi ya tetap tidak dipotong sampai nol juga, hanya diskon saja. Mengenai besarannya nantikan beda-beda, mungkin Jakarta kasih 30 persen, tapi di Jawa Tengah itu bisa 50 persen atau sebaliknya,” ucap Bebein.

“Dengan menjadi kewenangan daerah masalah penerapan waktu juga akan lebih fleksibel, tidak harus hanya tiga bulan. Contoh, mungkin ada daerah yang punya pertimbangan lebih hingga akhirnya menerapkan diskon sampai awal 2021 dan lain sebaginya,” kata dia. (sabar)

 

Berita Terkait

Komentar

Komentar