Pengelolaan Sistem Cadangan Devisa Menjadi Hak Penuh Negara Berdaulat

Oleh: Fauzi Aziz

 

PERTAMA, ratusan tahun lamanya dunia berkembang “dikadalin” oleh praktek pengelolaan keuangan yang dikendalikan oleh Sistem Kapitalisme Global. Prakteknya bersifat mengikat dan sekaligus menjerat karena mengelola ekonomi rente. Bahkan sistem ini bisa dibilang tidak beretika karena dengan kekuatannya dapat melakukan manipulasi uang.

Sistem tersebut memiliki semacam strategic economic war yang sangat merugikan kepentingan negara-negara berkembang. Sumber daya finansial yang terbatas sebagai aset nasional milik negara -negara berkembang, mereka sedot sehingga likuiditas mengalir ke puncak kekuasaan moneter global atau mengalir dari si miskin ke si kaya.

KEDUA, kedaulatan ekonomi nasional dalam era globalisasi ekonomi memang mengalami tekanan berat karena sistem ekonomi nasional cenderung “dieksploitasi” untuk kepentingan globalis yang mengendalikan sistem moneter dan keuangan global.

Likuiditas nasional yang terbatas selalu dicoba disuntik dana global melalui modal asing. Secara umum dipompa dengan skema pinjaman, investasi portofolio, FDI serta skema-skema lain yang menguntungkan mereka. Ini bukan barang baru, tapi sudah melembaga dalam kurun panjang.

Sistem cadangan devisa global adalah satu bentuk tata kelola sistem moneter dan keuangan global yang mengikat negara berdaulat untuk tidak  menggunakannya menurut hukum moneter dan keuangan nasional, kecuali harus tunduk pada aturan moneter dan keuangan global yang dikelola oleh IMF.

Tidak adil tentunya karena cadangan devisa hanya bisa dipakai jika dibutuhkan dan itupun hanya untuk menjaga ketersediaan dana global agar tetap bisa dipinjamkan ke negara-negara berkembang yang likuiditasnya terbatas, dan untuk membayar kewajiban-kewajiban internasional seperti melunasi utang luar negeri, membiayai impor.

Bank Sentral ibaratnya hanya tukang catat dalam account Neraca Pembayaran, Neraca Transaksi berjalan, Neraca Modal dan Neraca Finansial. Dananya sendiri ada yang ditempatkan di luar negara dan sebagian di dalam negeri.

Tidak Punya Kuasa

Contoh, devisa hasil ekspor, sewaktu pak Darmin menjabat menko perekonomian pernah menyampaikan bahwa DHE yang kembali ke tanah air hanya 80% , yang berarti 20%-nya tetap berada di luar negeri. Yang menjadi masalah adalah dari yang 80% kembali ke tanah air hanya 15% saja yang dikonversi menjadi Rupiah.

Pemerintah dan Bank Sentral tidak punya kuasa untuk memaksa pemiliknya untuk dikonversi ke rupiah karena dana tersebut adalah bagian dari cadangan devisa global yang didedikasikan pada sistem cadangan devisa global yang dikendalikan oleh IMF.

KETIGA, penulis sedang mencoba berhalusinasi bahwa sistem bisa saja diubah dan diperbaiki. Bahkan sistem semestinya juga punya batas waktu untuk terus dioperasikan karena pasti bisa kadaluwarsa atau karena sudah tidak lagi efektif sebagai mesin penggerak.

Dalam sistem ekonomi, penulis juga mencoba mengikuti alur pikir yang umum dipakai, yaitu misalnya harus ada modernisasi, reformasi dan yang paling sederhana misalnya deregulasi ekonomi. Semua itu sudah berjalan, tapi rasanya belum ada yang menembus barikade sistem

cadangan devisa yang sudah lama dibentengi tembok besi yang tebal yakni sistem kapitalisme global.

KEEMPAT, kita tahu, sistem kapitalisme global sangat menguntungkan modal uang yang  bebas bergerak door to door kemana saja yang memberi profit besar. Dan proses ini yang sesungguhnya membuat pertumbuhan cepat pasar uang global yang menyebar luas di berbagai belahan dunia.

Output-nya terjadi perputaran raksasa yang menghisap modal uang ke lembaga-lembaga keuangan global. Kemudian modal uang dipompakan ke negara-negara berkembang yang butuh dana untuk membiayai pembangunan.

Selama perputaran modal uang tersebut aktif, kekuatannya bisa mengalahkan sumber modal lokal/nasional sehingga terjadi pencaplokan dan internasionalisasi aset nasional menjadi aset global. Sistem ini perlu diback-up oleh sistem cadangan devisa global guna menjamin bahwa modal uang yang mereka putar dalam bentuk pinjaman dan investasi portofolio ada jaminan untuk bisa kembali dalam posisi untung karena disitu ada unsur bunga yang diterima, deviden dan keuntungan lainnya. Angka suku bunga, angka nilai tukar, dan harga saham di berbagai negara saling berkaitan erat, dan peran pasar uang global sangat besar memberi pengaruh pada kondisi perekonomian.

Hubungan yang terbentuk menjadi tidak seimbang dan cenderung tidak adil dan sangat timpang. Negara maju sebagai pusat Imperium menikmati banyak keuntungan ketimbang di negara-negara periferinya yang tiap tahun utang luar negerinya selalu cenderung bertambah. Cadangan devisa nyaris nggak bisa dipakai untuk membiayai pembangunan karena aturan mainnya sudah diatur dan bersifat mengekang karena sistemnya didedikasikan untuk memenuhi kewajiban internasional suatu negara.

Makin Dominan

Sifatnya sangat ekspansif, sehingga posisi mereka bukan hanya lebih kaya, tetapi juga lebih stabil karena dapat mengontrol masa depannya sendiri. Pemilikan modal oleh pihak asing yang makin dominan di satu negara sampai dikatakan seperti merampas otonomi dan kedaulatan ekonomi bahkan kedaulatan politik negara-negara yang dijadikan obyek  pasar dimana mereka leluasa keluar masuk membawa uangnya sehingga dalam keseharian yang kita lihat adalah naik turunnya harga saham dan fluktuasi nilai tukar mata uang lokal terhadap dolar AS atau terhadap valas lain yang kuat,

KELIMA, hal-hal yang penulis uraikan tersebut adalah terbaca dari apa yang ditulis oleh mbah George Soros ketika menulis tentang Sistem Kapitalisme Global yang menjadi salah satu Bab dalam bukunya yang berjudul open society reforming global capitalism.

Kemudian ada juga buku yang ditulis oleh J.Stiglitz yang populer berjudul making globalization work yang salah satu Babnya membahas tentang Mereformasi Sistem Cadangan Devisa Global.  Arahnya untuk

mewujudkan globalisasi sistem cadangan devisa global yang baru dan menuju dunia yang lebih adil.

Dua tokoh besar yang notabene juga pendukung sistem kapitalisme menyampaikan pandangannya yang cukup obyektif ketika mereka melihat realitas ekonomi yang sistemnya di rasakan telah melahirkan ketidak adilan global yang gapnya makin lebar dan dalam. Mereka menyadari bahwa ketidak adilan atau ketimpangan adalah sumber konflik. Dan konflik pada umumnya selalu melibatkan si kaya dan si miskin. Lebih dari itu bisa menimbulkan ketidak stabilan politik dan ekonomi.

Yang pasti mereka berdua tidak merekomendasikan agar sistem kapitalisme dikubur, tapi hanya berpikir untuk mereformasi sistemnya agar bisa menciptakan keadilan dalam tata ekonomi global sehingga menjadi lebih baik.

Soros bahkan mengatakan bahwa jika praktek global capitalism tidak direformasi, sistem ini bisa menghambat perkembangan lembaga -lembaga demokrasi. Kita rasakan fenomena ini terjadi di negeri ini karena publik menilai telah terjadi proses oligargi antara kekuatan politik dan kekuatan kapital sehingga menjurus terjadi pola hubungan korporatokrasi yang bisa berpotensi menumbuhkan praktek KKN.

KEENAM, sebagai nasionalis meskipun tidak sepenuhnya anti globalisasi, tetapi tidak suka dengan praktek kapitalisme yang menghisap seperti lintah darat, gagasan reformasi global capitalism dan sistem cadangan devisa global patut didukung.

Melakukannya jelas bukan perkara mudah karena berbagai kepentingan di antara negara-negara di dunia berbeda-beda.AS sebagai pusat kapitalisme global mungkin akan berat menerima reformasi ekonomi pada area yang paling strategis dari sisi kepentingannya yang bisa mereduksi status adidayanya.

Azas saling ketergantungan global mestinya bisa membuat reformasi itu dapat dilakukan. Policy dialogue harus dibuka melalui forum G-20, APEC, WEF atau forum lain. Asean bisa mengambil prakarsa policy dialogue semacam itu karena memang diperlukan suasana baru. Indonesia mungkin bisa mengambil prakarsa tentang pentingnya reformasi sistem cadangan devisa yang arahnya menuju ke sebuah pengakuan bahwa  cadangan menjadi sumber dana pembangunan dan investasi negara yang bersangkutan.

Tata kelolanya tunduk pada kebijakan dan regulasi  nasional.Aliran modal masuk dan keluar harus diatur dan bisa dikontrol. Karena itu, cadangan devisa harus ditetapkan sebagai bagian dari pendapatan negara untuk mendukung pembiayaan pembangunan dan investasi di dalam negeri dan di luar negeri. Pendapatan dari hasil ekspor harus besar. Rationya terhadap PDB dan pendapatan negara harus besar karena akan menjadi sumber utama pendapatan negara. Dengan perkataan lain, cadev harus bisa dipakai sebagai sumber dana investasi untuk memperkuat basis produksi untuk tujuan ekspor.

Bisa Ditekan

Dengan cara ini utang luar negeri bisa ditekan. Kebijakan re-investasi harus menjadi perhatian pemerintah untuk menekan keluarnya valas dalam neraca pendapatan primer dari transfer dana yang dilakukan PMA ke negara asal atau ke negara lain. Ini perlu dilakukan guna mencegah agar PMA melakukan make income dan profit di Indonesia, tetapi re-investasinya dilakukan di negara lain.

KETUJUH, isu global tentang tata ekonomi baru sebenarnya sudah lama digabungkan. Kishore Mahbubani dalam beberapa tulisannya mengungkapkan bahwa waktunya untuk merstrukturisasi tata dunia baru telah datang. Kita harus melakukannya sekarang. Penjelasannya yang terang benderang mengapa dunia harus berubah telah diberikan oleh PM India Manmohan Singh bulan Desember 2006.

Kalimatnya yang bernas mengatakan bahwa sama seperti ketika dunia mengakomodasi peremajaan Eropa pasca perang, dunia ini pun harus juga mengakomodasi kebangkitan kekuatan-kekuatan ekonomi Asia yang baru di tahun-tahun mendatang.

Artinya, kita memerlukan lembaga-lembaga global dan suatu aturan main global yang baru, yang dapat memfasilitasi kebangkitan secara damai negara-negara di Asia. Itu juga berarti bahwa lembaga-2 global yang ada dan kerangka kerjasama harus mengembangkan dan mengubah untuk mengakomodasi realitas baru ini. Termasuk Reformasi dan Revitalisasi PBB dan Dewan Keamanan PBB, manajemen sistem perdagangan multilateral, proteksi lingkungan global dan keamanan suplai energi.

Yang menarik dikatakan bahwa restrukturisasi akan terbukti sulit, tetapi juga sekaligus mudah. Akan sulit karena tidak ada pemimpin natural untuk melakukan hal ini. Penulis hanya menggaris bawahi bahwa dengan demikian upaya untuk mereformasi sistem cadangan devisa global  menjadi bagian penting yang mendapat tempat dalam rangka restrukturisasi tata ekonomi dunia baru. Not easy but very hard. (penulis seorang pemerhati ekonomi dan industri, tinggal di Jakarta) 

Berita Terkait

Komentar

Komentar