Pengembangan Industri dan Kebutuhan Infrastruktur di Sulawesi Utara

JAKARTA, (tubasmedia.com) – Tiga sektor industri pengolah sumber daya alam mencakup industri pengolahan ikan, industri pengolahan kelapa dan industri pengolahan aren, akan segera dikembangkan di Wilayah Pusat Pertumbuhan Industri (WPPI) Sulawesi Utara.

Guna mendukung pengembangan sektor industri dimaksud, dibutuhkan pengadaan sejumlah infrastruktur berupa pengembangan ruas jalan arteri, pengembangan kapasitas bongkar barang di pelabuhan, pengembangan akses jalan dari dan ke pelabuhan serta pengembangan jalur pelayaran.

Hal itu dikatakan Direktur Pengembangan Wilayah Industri I, Kementerian Perindustrian, Arus Gunawan, kepada wartawan di ruang kerjanya kemarin.

Selain itu, kata Arus, fasilitas peningkatan SDM dan teknologi serta penyediaan sumber daya listrik dan penyediaan sumber daya air, sangat menentukan pengembangan sektor industri pengolah sumber daya alam tersebut.

Disebutkan, pengembangan kapasitas bongkar muat di Pelabuhan Bitung, Sulawesi Utara, dirasa sangat perlu direncanakan secara matang, mengingat aktivitas bongkar muat di pelabuhan tersebut terus mengalami peningkatan.

Menurutnya, pada tahun 2038 aktivitas bongkar muat akan mencapai 1,3 juta teus sehingga pengembangan kapasitas bongkar muat harus dirancang sebesar 2,5 juta teus.

Sulawesi Utara sejatinya memiliki 12 pelabuhan laut dan banyaknya kapalyang masuk tahun 2016 sebanyak 13.214 unit dan dari jumlah itu, paling tinggi atau 22,49 %,singgah di Pelabuhan Bitung, 13,72 % di Pelabuhan Manado, dan 5,84 % di Pelabuhan Likupang.

Selain pelabuhan tersebut, persentase total 57,95 persen singgah kapal dilakukan di pelabuhan luar WPPI.

Namun kata Arus, sekitar 60 % aktivitas bongkar muat barang dengan sistem curah (tanpa peti kemas) dilakukan di Pelabuhan Bitung sedangkan sisanya dilakukan di Pelabuhan Amurang dan Pelabuhan Uki.

Industri Unggulan

Di bagialn lain penjelasannya, Arus menyebut, pemerintah akan menjadikan industri kelapa sebagai salah satu industri unggulan Provinsi Sulawesi Utara. Pasalnya, provinsi tersebut memiliki potensi sumber daya alam perkebunan kelapa yang cukup besar.

Saat ini menurut Arus, terdapat 10 unit industri tepung kelapa dan dua unit industri minyak goring kelapa yang tersebar di beberapa wilayah seperti Kota Bitung, Kota Manado, Kabupaten Minahasa dan Kabupaten Minahasa Utara.

Kapasitas produksi industri tepung kelapa yang ada saat inmi mencapai 43.759 ton per tahun dan kapasitas produksi untuk minyak goreng kelapa sekitar 132.225 ton per tahun.

Adapun potensi rata-rata produksi kelapa regional di Sulawesi Utara, sekitar 80.795 ton per tahun. Jika diasumsikan 1 ton tepung kelapa membutuhkan bahan baku sekitar 10 ton kelapa dan 1 ton minyak goreng kelapa membutuhkan 8 ton kelapa, maka ketersediaan bahan baku di Sulawesi Utara, belum mencukupi kebutuhan industri yang ada.

Untuk itu kata Arus, rencana pengembangan industri pengolahan kelapa untuk WPPI di Sulawesi Utara akan diarahkan pada pengembangan produk turunan dan sampingan dari tepung kelapa seperti cookies kelapa maupun VCO serta pengembangan rumah kayu yang memanfaatkan kayu kelapa yang ditebang untuk proses peremajaan tanaman kelapa.(sabar)

 

 

Berita Terkait