Pengembangan Industri Plastik Cukup Prospektif

PRODUK BAN – Sekretaris Jenderal Kementerian Perindustrian Haris Munandar didampingi Direktur Industri Kimia Hilir Kementerian Perindustrian Taufiek Bawazier dan Kepala Pusat Penelitian dan Pengembangan Industri Hijau dan Lingkungan Hidup Kementerian Perindustrian Teddy Caster Sianturi melihat produk ban Achilles pada Pameran Produk Industri Plastik dan Karet Hilir di Plasa Pameran Kementerian Perindustrian, Jakarta, 3 Oktober 2017. -tubasmedia.com/sabar hutasoit

 

JAKARTA, (tubasmedia.com) – Industri plastik dan karet hilir memiliki potensi besar untuk dikembangkan di Indonesia karena tingkat konsumsi terhadap kebutuhan komoditas tersebut cukup tinggi.

Misalnya, diserap oleh sektor-sektor manufaktur strategis, seperti industri kemasan untuk makanan dan kosmetika, elektronika, serta otomotif yang memanfaatkan sebagai bahan baku dalam proses produksinya.

Hal itu diungkapkan Sekjen Kementerian Perindustrian, Haris Munandar mewakili Menteri Perindustrian pada Pembukaan Pameran Produk Industri Plastik dan Karet Hilir di Jakarta, Selasa (3/10).

”Pengembangan industri plastik dan karet di dalam negeri masih prospektif, mengingat industri ini merupakan sektor vital dengan ruang lingkup mulai dari hulu, antara hingga hilir, yang selalu dibutuhkan oleh industri lain dan memiliki variasi produk yang sangat luas,” katanya

Kemenperin mencatat, jumlah industri plastik di Tanah Air saat ini mencapai 925 perusahaan yang memproduksi berbagai macam produk plastik dan mampu menyerap tenaga kerja sebanyak 37.327 orang dengan total produksi hingga 4,68 juta ton per tahun.

Sementara, permintaan produk plastik nasional sekitar 4,6 juta ton per tahun, meningkat lima persen dalam lima tahun terakhir.

“Dalam upaya peningkatan produktivitas industri plastik, kami terus mendorong untuk pemenuhan bahan bakunya. Saat ini, bahan baku plastik dalam negeri belum mampu mencukupi dari segi kuantitas maupun spesifikasi produk,” kata Haris.

Adapun langkah strategis yang telah dilakukan pemerintah guna memacu kinerja industri plastik lokal, antara lain fasilitasi pemberian bea masuk ditanggung pemerintah (BMDTP).

Di samping itu, penerapan Standar Nasional Indonesia (SNI), fasilitasi promosi dan investasi, penyusunan Standar Kompetensi Kerja Nasional Indonesia (SKKNI), serta pengaturan tata niaga impor.

“Agar siap menghadapi persaingan pada pasar bebas, seperti Masyarakat Ekonomi ASEAN, Kemenperin pun mendorong industri plastik nasional mampu bersinergi dan terintegrasi melalui kerja sama dengan stakeholders terkait,” papar Haris.

Contoh sinergi yang perlu dilakukan, di antaranya penguatan penelitian dan pengembangan (research and development/R&D) serta kebijakan yang mendukung peningkatan daya saing agar produk plastik domestik bisa menjadi tuan rumah di negeri sendiri dan mampu bersaing di pasar internasional. (sabar)

Berita Terkait

Komentar

Komentar