Pengurus PSSI Tak Bernyawa

Oleh: Fauzi Aziz

Ilustrasi

Ilustrasi

RUNYAM, memilukan, mengenaskan. Itulah kondisi persepakbolaan nasional saat ini. Menteri Olahraganya tidak punya waktu lagi untuk mengurus persepakbolaan, bukan karena sibuk mengurus tugas dan tanggung jawabnya. Tetapi karena wibawanya sudah rontok.

Ketokohonnya sudah sirna di telan bumi. Para pencinta bola dan olah raga yang lain, sudah tidak simpatik lagi dan bahkan empatinya sudah tidak bisa diharapkan. Menpora kita itu ibarat lokomotif kereta api yang menarik gerbong kosong ke barat dan timur tanpa ada barang/penumpang yang diangkut kecuali hanya menghabiskan biaya operasional tanpa ada hasil dan daya gunanya.

Marwahnya sebagai petinggi negara sudah total habis sehingga hari Sumpah Pemuda-pun 28 Oktober 2012 tanpa ada gaungnya sedikit pun. Pengurus PSSI banci tidak bernyawa, seperti boneka mainan. Pengurus tandingannya juga seperti tong kosong berbunyi nyaring tiada manfaat sama sekali bagi pembinaaan sepak bola nasional.

Keduanya merasa benar dan keduanya pula merasa bisa membenahi pembinaan sepak bola nasional. Rumongso biso. Kalau Menporanya sudah tak “bernyawa” mengurus dunia olah raga dan kepemudaan, sementara pengurus yang bertanggungjawab atas nasib persepakbolaan nasional belum pada siuman, maka siapa yang harus diminta mengelola sepakbola di negeri ini?

Dikelola DPR, tak mungkin. Mereka lagi sibuk dengan dunia persilatan yang mereka senangi. Diserahkan kepada presiden, rasanya keterlaluan dan kalau sampai pak SBY intervensi juga, maka apa patut jika langkah ini dilakukan. Keterlaluannya lagi kalau yang mengusulkan untuk intervensi adalah menteri -si anak manja yang hanya bisa minta “perlindungan” kepada bapaknya tapi tidak bertanggung jawab.

Kalau sudah demikian posisinya, cepat-cepat saja menpora dicarikan penggantinya agar yang bersangkutan bisa istirahat menghadapi realitas hidupnya. Berkiblat ke FIFA atau AFC sami mawon tidak ada gunanya karena semangat pengurus PSSI dan tandingannya adalah membangun kekuasaan dan bukan semangat membangun sepakbola nasional.

Mereka semua mengatakan harus mengacu ke statuta FIFA, tapi kenyataannya mereka adalah para pembangkang statuta. PSSI sudah menjadi “parpol” yang rohnya hanya berorientasi kepada semangat mencari penghidupan di PSSI, bukan bagaimana menghidup-hidupkan persepakbolaan nasional.

Yang paling bijaksana untuk menyelesaikan masalah PSSI hanya ada beberapa pilihan, yakni pertama, pengurus PSSI yang ada sekarang dan tandingannya melakukan rekonsiliasi tanpa campur tangan siapa pun. Bersikap semeleh dan legowo, mereka bukan anak-anak kecil yang bisa diatur-atur. Wis podo gede tuo, sepatutnya bisa melakukan kontemplasi untuk kebaikan bersama.

Kedua, masing-masing mengembalikan mandat kepengurusannya dan kemudian membentuk kepengurusan baru yang posisinya berimbang (semacam kabinet 100 menteri) dengan tugas dan fungsi yang clear and clean. Pikiran semacam ini pasti sudah banyak disampaikan, namun ada satu catatan tambahan bahwa mengalah bersama demi sesuatu yang lebih baik buat masa depan persepakbolaan nasional, adalah perbuatan mulia. Kalau tidak sadar juga, ya tunggu saja kehancurannya. Tul ndak? ***

Berita Terkait

Komentar

Komentar