Penjelmaan Iblis Oleh Manusia di Bumi

Oleh: Fauzi Aziz

Ilustrasi

Ilustrasi

INI hanya sepenggal ilusi tentang kehidupan manusia di planet bumi. Sebagian manusia telah menjelma menjadi “iblis”. Maaf hal yang demikian harus sering-sering disampaikan, tapi ini bukan khotbah dan bukan pula provokosi. Namun seperti di awal disampaikan, ini hanyalah sepenggal ilusi dan di lain pihak sebagai media penyadaran bersama agar kita mendapatkan yang terbaik dalam memaknai kehidupan dan mengelola kehidupan.

Perubahan iklim, cuaca ekstrim, global warming adalah fenomena alam yang terjadi dewasa ini. Manusia sejagad menjadi risau dibuatnya karena akan mengancam kehidupannya. Nalar sehat mengatakan bahwa fenomena alam seperti itu adalah akibat, bukan sebab. Jangan pula buru-buru mengatakan bahwa Tuhan marah. Bukan! Sekali lagi bukan, karena Tuhan itu maha pengasih lagi penyayang.

Tuhan adalah maha mengetahui dan maha bijaksana. Oleh karena itu, lebih baik kita harus berani berkata jujur bahwa fenomena alam itu karena sebagian dari kita yang menyebabkan semuanya itu bisa terjadi. Manusia sangat besar kontribusinya, karena manusia telah mengalami kegagalan dalam mengelola kehidupan di planet bumi.

Manusia telah keluar dari orbit bahwa di atas langit masih ada langit dan di atas kekuasaan manusia masih ada yang jauh lebih berkuasa yang selama ini kita imani sebagai Tuhan. Revolusi kebudayaan, revolusi hijau, revolusi industri dan revolusi teknologi informasi telah menempatkan posisi manusia seperti yang paling “berkuasa” untuk menguasai bumi dan seisinya.

Karena revolusi itu telah berhasil mengubah kehidupan manusia di bumi, maka mereka yang berjasa mengklaim bahwa sayalah yang paling berhak mendapatkan manfaatnya yang paling besar karena mereka menganggap bahwa itu adalah property miliknya.

Wajar, tapi pada saat yang sama telah melahirkan benih kesombongan dan keangkuhan. Sombong, angkuh adalah perilaku iblis dan karena itu jelmaan iblis pada diri manusia mulai bersemai. Tidak satunya kata dan perbuatan adalah juga perilaku iblis dan inipun telah menjelma pada diri manusia.

Tipu menipu, curiga mencurigai, bunuh membunuh adalah perilaku iblis yang menjelma pada diri manusia. Manusia di bumi merasa hidup dalam orbitnya sendiri. Suka-suka sendiri melakukan berbagai tindakan di bawah kontrolnya sendiri. Abai bahwa di sekitar manusia hidup ada mahluk lain yang juga butuh hidup, yakni tetumbuhan dan binatang.

Nafsu serakahnya mengatakan bahwa ngapain dia hidup, ambil dan libas saja untuk kepentingan hidup kita para manusia. Terjadilah hutan gundul, binatang keluar dari habitatnya dan sebagian membaur dengan kehidupan manusia, akhirnya datanglah bencana yang mengancam kehidupan manusia itu sendiri.

Siklusnya seperti itu. Makin menjelma menjadi “iblis’’, manusia makin dibuatnya ketakutan sendiri karena dampak dari serangkaian tindakannya telah mengancam kehidupannya sendiri. Korupsi bisa pula dikategorikan sebagai perilaku iblis yang muncul pada diri manusia karena korupsi hakekatnya “mencuri” dan mengambil yang bukan haknya.

Manusia korupsi karena nafsu iblisnya yang menggerakkan, bukan akal sehatnya. Sebelum matahari terbit di ufuk barat dan tenggelam di ufuk timur dan manusia tidak akan pernah tahu kapan kiamat datang. maka sisa waktu hidup kita di bumi harus dimanfaatkan untuk membangun dan mengembangkan kebajikan. Berlomba-lomba membangun kebajikan. Bajik dan bijak kepada sesama manusia, serta bajik dan bijak kepada mahluk hidup yang lain, sebelum kita menjadi korban karena wujudnya saja manusia, tetapi pikiran, perasaan dan tindakannya telah menjelma menjadi “iblis”.

Semoga ilusi ini tidak benar, karena kalau kita beriman sepenuh jiwa raga kepada Tuhan, yang berhak menentukan benar/salah perbuatan manusia selama di bumi, Tuhanlah yang akan menentukan. ***

Topik :

Berita Terkait

Komentar

Komentar