Penjualan Naik 20 Persen, Industri Keramik Nasional Prospektif

BERKEMBANG - Dirjen Industri Kimia, Tekstil, dan Aneka (IKTA) Kemenperin Harjanto didampingi Direktur Industri Bahan Galian Nonlogam Kemenperin Toeti Rahajoe (kanan) meninjau stand peserta Pameran Keramika 2016 di Jakarta, 17 Maret 2016. Harjanto menyampaikan, industri keramik di Indonesia telah berkembang dengan baik selama lebih dari 30 tahun dan merupakan salah satu sektor unggulan dengan dukungan ketersediaan bahan baku yang melimpah. (ist/tubasmedia.com)

BERKEMBANG – Dirjen Industri Kimia, Tekstil, dan Aneka (IKTA) Kemenperin Harjanto didampingi Direktur Industri Bahan Galian Nonlogam Kemenperin Toeti Rahajoe (kanan) meninjau stand peserta Pameran Keramika 2016 di Jakarta, 17 Maret 2016. Harjanto menyampaikan, industri keramik di Indonesia telah berkembang dengan baik selama lebih dari 30 tahun dan merupakan salah satu sektor unggulan dengan dukungan ketersediaan bahan baku yang melimpah. (ist/tubasmedia.com)

JAKARTA, (tubasmedia.com) – Sejak Januari 2016, nilai penjualan keramik mengalami kenaikan sebesar 15-20 persen dibanding periode yang sama pada tahun sebelumnya. Peningkatan tersebut karena dimulainya proyek pembangunan infrastruktur dan properti yang banyak menggunakan produk keramik.

“Untuk jenis tile atau ubin banyak dibutuhkan untuk pembangunan properti, seperti pada program sejuta rumah yang dicanangkan pemerintah,” kata Menteri Perindustrian dalam sambutan tertulisnya yang dibacakan Dirjen Industri Kimia, Tekstil, dan Aneka (IKTA) Kemenperin Harjanto pada pembukaan Pameran Keramika 2016 di Jakarta, Kamis (17/3).

Di samping itu, menurut Harjanto, industri keramik nasional dalam jangka panjang masih cukup prospektif seiring pertumbuhan pasar dalam negeri yang terus membaik. “Kami juga terus berupaya meningkatkan konsumsi keramik perkapita yang masih sekitar 2 m2, sedangkan negara-negara ASEAN lainnya sudah di atas 3 m2,” tuturnya.

Dengan didukung jumlah penduduk mencapai 254,9 juta jiwa serta prospek pembangunan properti dan konstruksi yang terus berkembang, Harjanto meminta kepada pelaku industri keramik nasional agar memanfaatkan peluang pasar tersebut.

“Selain dapat memenuhi kebutuhan dalam negeri, industri keramik kita juga harus mampu memperluas ke pasar ekspor dengan produk yang berkualitas dan berdaya saing,” ujarnya menambahkan tahun 2015, produksi industri keramik nasional sebesar 350 juta meter persegi, dimana sebanyak 87 persen diserap pasar lokal dan sisanya 13 persen di ekspor.

Harjanto menyampaikan, industri keramik di Indonesia telah berkembang dengan baik selama lebih dari 30 tahun dan merupakan salah satu sektor unggulan dengan dukungan ketersediaan bahan baku yang melimpah.

Bahkan, tambahnya, kualitas dan desain pada produk industri keramik nasional yang meliputi ubin (tile), saniter, perangkat rumah tangga (tableware), dan genteng sudah semakin baik sesuai kebutuhan pasar saat ini. Alhasil, sektor ini memberikan kontribusi signifikan dalam mendukung pembangunan nasional melalui penyediaan kebutuhan domestik, perolehan devisa dan penyerapan tenaga kerja. (sabar)

Berita Terkait

Komentar

Komentar