Penting Mana, Nama atau Kondisi Jalan

Oleh: Sabar Hutasoit

ilustrasi

ilustrasi

AKHIR-akhir ini terdengar kesibukan perdebatan sekitar pergantian nama jalan di Jakarta. Beragam suara yang terdengar sekitar rencana pergantian nama jalan tersebut. Banyak yang menyetujui tapi juga tidak sedikit yang menolak, bahkan ada suara yang setengah mendukung dan setengah menolak.

Ada juga suara bernada keras mengatakan buat apa nama koruptor diabadikan menjadi nama jalan. Koruptor koq diabadikan menjadi nama jalan. Artinya, kendati nama yang diusulkan itu termasuk kategori nama besar di republik ini, tapi kalau pemilik nama tersebut dinyatakan oleh pengadilan sebagai koruptor, ya tidak pantaslah dijadikan nama jalan.

Koruptor ya koruptor. Sepanjang masa nama itu harus dikubur dalam-dalam. Atas penolakan tersebut muncul pertanyaan, sampai kapan kebencian kita kepada pemilik nama itu. Apakah kebencian tersebut tidak ada akhirnya? Apakah tidak ada maaf dan apakah kita tidak dapat lagi mengingat jasa-jasa baik sang koruptor semasa memimpin? Jawabnya sementara, untuk menghormati dan mengingat jasanya,, namanya tidak perlu diabadikan menjadi nama sebuah jalan.

Atas perdebatan tersebut, usul merubah nama jalan di Jakarta menjadi sepi dan tidak jelas lagi kabarnya. Perdebatan sekitar mengubah nama jalan di ibukota menjadi tidak berujung sebab tidak ada pernyataan yang mengatakan perbuhan nama jalan tetap berlangsung atau dihentikan.

Sebenarnya, berdebat sekitar mengganti atau mengubah nama jalan tidaklah terlalu penting dan tidak ada urgensinya kepada kepentingan rakyat banyak. Itu hanya kepentingan segelintir masyarakat sementara seluruh rakyat negeri ini sangat mendambakan tindakan konkret pemerintah memperbaiki iklim nasional baik ekonomi maupun politik apalagi penegakan hukum. Bukan hanya sekadar pencitraan.

Bicara sekitar jalan, yang terpenting dan mendesak bukan masalah nama. Apapun nama jalan tersebut tidak menjadi soal bagi rakyat, yang penting kondisi jalan layak tidak dilalui. Jalan tersebtu aman dan nyaman tidak. Jalan itu tertib atau lancvar tidak. Jalan itu ada korelasi dengan perbaikan ekonomi rakyat tida.

Sekali lagi ditegaskan, nama jalan tidak penting. Yang terpenting, perbaiki infrastruktur. Benahi jalan dan jembatan yang menghubungkan antar kota atau antar pulau agar masyarakat sekitar tidak terganggu. Lalulintas ekonmi rakyat-pun tidak lagi bisa berjalan normal. Hasil bumi harus dipikul denga jarak berpuluh-puluh kilometer karena jalanan rusak parah. Dan kalaupun angkutan darat tersedia, pngkosnya menjadi sangat mahal membuat harga jual hasil bumi di pasar mejadi harus tinggi.

Pokonya beberapa infrastruktur di daerah kondisinya sangat memprihatinkan. Baik jalan maupun jembatan apalagi gedung-gedung sekolah SD dan SLTP yang jauh dari sempurna bahkan tak layak pakai.

Dapat kita saksikan di beberapa media cetak atau media elektronik jembatan yang melintasi sungai di daerah sudah rusak parah. Ada yang sudah miring, terputus dan ada yang hanya terbentang seutas kabel dan di atas kabel itulah anak-anak SD bertarung, bergelayutan menyebrang sungai yang airnya sangat deras untuk menuntu ilmu dan belajar di dalam ruang kelas yang tidak layak pakai pula.

Melihat dan menyaksikan kenyataan in, masih layakkah para petinggi di ibukota republik ini membuka perdebatan soal pergantian atau perubahan nama jalan. Bukankah lebih berdaya guna jika seluruh potensi yang ada, baik itu pikiran, tenaga, ide dan dana yang tersimpan di pusat dialirkan untuk memperbaiki infrastruktur yang sangat memprihatinkan di daerah.

Apalah arti nama sebuah jalan? Daripada berdebat soal nama jalan, lebih baik benahi infrastuktur. Hentikanlah gerakan-gerakan pencitraan yang tidak ada manfaatnya kepada rakyat. ***

Berita Terkait

Komentar

Komentar