Penyelundupan CPO Makin Marak

Laporan: Sabar Hutasoit

CPO

JAKARTA, (Tubas)- Tarif bea keluar produk CPO yang terus naik hingga 20% di Januari 2011 ini menimbulkan imbas negatif bagi industri sawit Indonesia. Kasus penyelundupan kelapa sawit terus meningkat dan pungli-pun terus merajalela.

Hal ini diungkapkan Sekjen Asosiasi Petani Kelapa Sawit Indonesia Asmar Arsjad dalam diskusi tentang kelapa sawit di Hotel Le Meredien, Jakarta, Kamis pekan silam. “Orang kan tidak mau melalui pelabuhan resmi karena adanya bea keluar yang tinggi. Akibatnya mereka ekspor melalui pelabuhan ilegal yang ada di beberapa daerah, misalnya saja di Tanjung Balai,” ungkapnya.

Ditambahkan pula jika melalui pelabuhan ilegal, maka kelapa sawit lebih mudah dibawa keluar ke Malaysia.
Sebagai gambaran, ia mencontohkan data dari pemerintah, Indonesia katanya hanya mengekspor kelapa sawit sebanyak 8 juta ton. Namun ketika dikonfirmasikan ke pemerintah Malaysia, ternyata impor kelapa sawit dari Indonesia sebesar 10 juta ton. Terdapat selisih dua juta ton yang tidak jelas darimana asalnya.

“Inilah maraknya kasus ilegal yang sering terjadi. Angka pastinya saya kurang tahu, tapi datanya dan di lapangan hal seperti itu memang terjadi,” jelasnya. Untuk mengatasi hal tersebut, Arsjad menganjurkan diadakannya pengawasan yang ketat agar kasus seperti ini tidak banyak terjadi, karena hal ini juga akan merugikan.

Sementara itu, pengamat pertanian dari IPB, Hermanto Siregar mengatakan, kebijakan pajak ekspor CPO progresif yang ditetapkan pemerintah membuat petani sawit terus-terusan mengeluh. Kebijakan ini dinilai hanya merugikan petani sawit di dalam negeri, sementara dana pajak tersebut entah untuk apa. ***

Berita Terkait

Komentar

Komentar