Perajin Gitar Sipoholon Minta Perdagangan Kayu Attuang Dibebaskan

Laporan: Redaksi

ilustrasi

ilustrasi

TARUTUNG, (TubasMedia.Com) – Perajin gitar di Sipoholon, Tapanuli Utara mendesak pemerintah setempat agar memberi rekomendasi pembebasan perdagangan kayu Attuang yang digunakan sebagai bahan baku gitar. Selama ini kayu Attuang diperdagangkan secara illegal.

‘’Tidak enak rasanya jika terus menerus berdagang sembunyi-sembunyi. Padahal kami bukan penjahat dan bukan pula perampok. Tapi kami murni perajin dan pengusaha kecil yang memperdagangkan barang yang sangat halal,’’ kata A Hutagalung satu dari sejumlah perajin gitar di Sipoholon, Tapanui Utara Sumatera Utara kepada tubasmedia.com yang bertandang ke bengkelnya di Sipoholon.

Karena kayu Attuang belum diberi izin untuk diperdagangkan, hingga berita ini diturunkan mereka menerima kayu tersebut selalu tengah malam menjelang subuh dari pengumpul. Alasannya, jika transaksi jual beli kayu Attuang dilakukan tengah malam, kecil kemungkinan dipergoki aparat keamaman.

‘’Paling cepatlah pedagang kayu Attuang datang ke kami pukul satu malam, atau menjelang pagilah,’’ jelasnya.

Dikatakan oleh Hutagalung kalau pihaknya sebenarnya tidak senang bertransaksi dengan cara ‘’gelap-gelapan’’, namun lebih senang memilih berdagang terang-terangan. Akan tetapi situasi ‘’memaksa’’ mereka menjadi demikian adanya. Sebab jika tidak, usaha yang sudah dirintis secara turun temurun itu bisa tidak berproduksi lagi.

Untuk itu lanjut Hutagalung, pihaknya sudah sedang merancang pengajuan permohonan kepada pemerintah setempat agar kayu Attuang diberi izin untuk diperjualbelikan. ‘’Kami akan minta kepada pemrintah agar perdagangan kayu Attuang disahkan saja, toh kami memprodukis barang legal koq,’’ katanya.

Usaha pembuatan gitar yang diteruskan dari orangtuanya, kini memproduksi sedikitnya 20 unit setiap bulan yan dijual dengan harga bervariasi antara Rp 600.000 hingga Rp 750.000 per unit.

‘’Kebanyakan pesanan kami terima dari luar kota seperti Jakarta, Dumai, Pekan Baru dan berbagai kota lainnya,’’ kata Hutagalung.

Ditanya persaingan dengan gita-gitar ternama buatan luar negeri, Hutagalung mengatakan, produknya berlabel “Bona Pasogit Sipoholon” tidak akan kalah baik dari segi mutu maupun kekuatan. ‘’Kami mau dan siap bertaruh. Kami tidak akan kalah, hanya saja nama mereka lebih kesohor ketimbang kami,’’ jelasnya. (sabar)

Berita Terkait

Older Post

Leave a Reply

Your email address will not be published.